Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Dunia
  3. 57 tahun pimpin Revolusi Kuba, Fidel Castro tutup usia
  • Minggu, 27 November 2016 — 16:49
  • 1200x views

57 tahun pimpin Revolusi Kuba, Fidel Castro tutup usia

Terkait berbagai klaim anti demokrasi dan kediktatoran Fidel di negara itu, menurut Yaffe, “menuduhnya (Fidel) sekadar sebagai “diktator” sudah menyensor kayanya perdebatan, uji coba, dan pembelajaran kolektif yang sudah terjadi di Kuba di bawah kepemimpinannya.”
Pemimpin revolusi Kuba, Fidel Castro (90) wafat 25/11/2016. Hingga akhir hidupnya terus berjuang untuk sosialisme: "Mereka bicara tentang kegagalan sosialisme, tetapi dimana ada bukti kesuksesan kapitalisme di Afrika, Asia, dan Amerika Latin" - Telesur English
Zely Ariane
zely.ariane@tabloidjubi.com
Editor :

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Fidel Castro (90), mantan presiden dan pemimpin Revolusi Kuba, tutup usia Jumat malam (25/11/2016) waktu Havana, Kuba, oleh karena sakit. Dalam pidato terakhirnya di pembukaan kongres Partai Komunis Kuba April 2016, Castro sudah menyiratkan bahwa waktunya tidak akan lama lagi.

"Sebentar lagi saya 90 tahun," ujar Fidel di bulan April 2016 saat terakhir dia tampil lama di hadapan publik. "Segera saya akan susul yang lain… Tetapi gagasan-gagasan komunis Kuba sudah menjadi bukti di planet ini, bahwa jika seseorang bekerja dengan gairah dan kebanggaan, mereka bisa menghasilkan kebaikan material dan kebudayaan yang dibutuhkan sesama manusia, dan kebutuhan itu diperjuangkan tanpa pernah menyerah,” tegasnya.

Raul Castro, Presiden Kuba dan saudara laki-laki Fidel, mengatakan kakaknya itu akan dikremasi Sabtu mendatang. “Komandan Revolusi Kuba tutup usia pada pukul 10:29 malam,” ujar Castro seperti dikutip Telesur English, Jumat (26/11).

Paus Fransiskus, dilansir CNN Indonesia Sabtu (26/11) mengungkapkan berlasungkawanya dalam pesan berbahasan Spanyol kepada Raul. Kata dia kematian pemimpin revolusioner itu adalah berita sedih yang membuatnya berduka. Dia juga berdoa untuk ketenangan almarhum.

Pemerintah Kuba mengumumkan upacara penghiburan akan dilakukan pada 28-29 November di Jose Marti Memorial. Diperkirakan puluhan ribu orang akan memadati Plaza de La Revolución pada tanggal 29 untuk melakukan penghormatan terakhir pada orang nomor satu Kuba itu.

Abu sakramen Fidel akan dikuburkan dekat pahlawan kemerdekaan Kuba dan Amerika Latin, Jose Marti.

Komandan Fidel: Pejuang sampai akhir

Dr Helen Yaffe, seorang ahli sejarah ekonomi Amerika Latin jebolan London School of Economics dalam tulisannya kepada Telesur, Minggu (27/11) mengatakan  kematian Fidel Jumat lalu telah mendominasi pemberitaan di seluruh dunia.

“Mayoritas rakyat Kuba akan berduka dan menunjukkan penghormatan terakhirnya. Dan bangkit dari duka merupakan wujud kebanggaan, dan hal itu akan menenangkan Komandan Fidel,” tulis Yaffe.

Fidel sudah lama terancam kematian di dalam perjuangan bersenjata, terorisme, ancaman pembunuhan dan serangan sakit hebat, yang menurut dia nyaris membunuhnya di tahun 2006. Namun, lanjut Yaffe, Fidel mampu melewatinya dan bertahan hidup hingga kematian menjemput dalam damai.

“Dia itu orang yang memimpin perjuangan bersenjata di front terdepan: melawan kediktatoran Batista, imperialisme AS, melawan “Batistiano” sisa-sisa elit pendukungnya yang terus merongrong Kuba. Hingga refleksinya terkait “saudara Obama” yang berkunjung ke Kuba awal tahun ini, Fidel tetap tidak berhenti berjuang untuk Kuba yang berdaulat, merdeka, dan sosialis,” ungkap Yaffe.

Penulis buku Che Guevara: Ekonomi Revolusi ini menyimpulkan Fidel, yang menyambut tawaran membuka kembali hubungan dengan AS, sebagai orang yang punya kemampuan memenuhi kebutuhan ‘taktis’ mendesak sambil tidak kehilangan pandangan pada arah strategis.

Terkait berbagai klaim anti demokrasi dan kediktatoran Fidel di negara itu, menurut Yaffe, “menuduhnya (Fidel) sekadar sebagai “diktator” sudah menyensor kayanya perdebatan, uji coba, dan pembelajaran kolektif yang sudah terjadi di Kuba di bawah kepemimpinannya.”

Buktinya, Revolusi Kuba masih tidak tergoyahkan meski bantuan  keuangan, militer, politik, dan ideologi dari pemerintah dan lembaga-lembaga bantuan AS begitu banyak untuk menjatuhkannya.  “invasi bersenjata, sabotase, terorisme, perang senjata biologis, juga ancaman nuklir maupun isolasi dan blokade regional hingga sogok menyogok, korupsi dan pembunuhan, semuanya gagal menjatuhkan Kuba,” ujar Yaffe.

Setelah menjatuhkan Kediktatoran Batista di tahun 1959 dan mengumumkan orientasi sosialis negeri itu di tahun 1961, Kuba telah banyak mengalami kemajuan di tengah banyak kesulitan.

“Kuba hari ini tak terbandingkan dengan Kuba di tahun 1959; kita bisa periksa capaian Kuba di bidang kesehatan, pengobatan, bioteknologi, kebudayaan, seni, olah raga, hingga pemberantasan diskriminasi dalam segala hal. Mereka juga sudah membangun sistem demokrasi yang alternatif dan baru, tanpa partai politik, tanpa selebriti politik, dimana politik di sana bukanlah karir, dan prinsip politik bukan dibuat sekadar merespon polling kandidat,” kata Yaffe.

Namun demikian Yaffe juga mengakui ada banyak kesalahan dan hal-hal memalukan terjadi dalam episode Revolusi Kuba. “Namun pengritik Fidel paling keras dan paling serius adalah dirinya sendiri, (kalau tidak percaya) dengarlah wawancaranya dengan  Ignacio Ramonet dan Oliver Stone,” kata Yaffe lagi.(*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Sekarang lewat Sepakbola, FARC terus upayakan damai di Kolombia

Selanjutnya

Berlutut, ratusan veteran AS mohon maaf pada masyarakat asli Suku Sioux

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe