Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Perempuan dan Anak
  3. Menteri Yohana : Perempuan ada di garis aman, pembangunan akan maksimal
  • Senin, 28 November 2016 — 09:43
  • 1781x views

Menteri Yohana : Perempuan ada di garis aman, pembangunan akan maksimal

Yohana menegaskan, perempuan dan anak bagian pembangunan global. Selain itu, perempuan harus berada di garis aman, sehingga pembangunan semakin maksimal.
Salah seorang anak duduk asyik menunggu pelepasan parade anti kekerasan terjadap perempuan dan anak – Jubi/Roy Ratumakin.
Roy Ratumakin
Editor : Zely Ariane
LipSus
Features |
Kamis, 20 September 2018 | 09:41 WP
Features |
Rabu, 19 September 2018 | 16:08 WP
Features |
Selasa, 18 September 2018 | 07:24 WP
Features |
Senin, 17 September 2018 | 19:13 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise mengatakan saat ini kekerasan terhadap perempuan dan anak masih sering terjadi sehingga harus dicegah bersama-sama.

Menteri Yohana mengungkapkan hal itu dalam sambutannya pada parade anti kekerasan terjadap perempuan dan anak oleh Bhakti Wanita Advent se-Kota dan Kabupaten Jayapura Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Daerah Misi Papua, yang berlangsung di halaman Kantor Otonom, Jayapura, Minggu (27/11/2016).

"Peran perempuan dan anak sangat menentukan dalam pembangunan, sehingga harus dilindungi. Stop kekerasan terhadap perempuan dan anak, sudah saatnya perempuan dan anak-anak menjadi pilar bersama kaum laki-laki dalam membangun Papua kedepan," kata Yambise.

Yohana menegaskan, perempuan dan anak bagian pembangunan global. Selain itu, perempuan harus berada di garis aman, sehingga pembangunan semakin maksimal.

"Kita bersama-sama memutus mata rantai kekerasan terhadap perempuan dan anak sehingga tidak ada lagi penderitaan bagi perempaun dan anak. Kondisi Papua adalah masalah kita bersama, untuk itu mari bersama-sama mengambil satu tekat untuk tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan dan anak," ajar Yohana.

Dia mengingatkan ada ancaman hukuman pidana mati, hukuman penjara seumur hidup dan hukuman kebiri bagi orang-orang yang melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak, serta denda Rp 1 miliar.

Ditempat yang sama Staf Ahli Gubernur Papua bidang potensi dan SDM, Anie Rumbiak mengatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa saja terjadi tanpa memandang status keluarga.

"Untuk itu keluarga harus melaporkan bila terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak supaya permasalahan itu dapat diselesaikan dan tidak berkembang," katanya.

Erensina Wopari, Ketua Panitia pelaksana parade anti kekerasan tersebut mengatakan kekerasan terhadap perempuan merupakan persoalan yang serius.

"Dengan melihat fenomena ini kita harus bergandengan tangan untuk menolak kekerasan. Gereja Advent mempunyai misi untuk melakukan perlawanan terhadap kekerasan perempuan dan anak dengan tema hentikan kekeranan terhadap perempuan dan anak," ujarnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Rapat tahunan BPL GIDI 2016 "Penginjilan Belum Selesai" dimulai di Nabire

Selanjutnya

Komite MSG masih kaji pedoman keanggotaan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Jumat, 21 September 2018 WP | 6087x views
Koran Jubi |— Senin, 17 September 2018 WP | 5702x views
Polhukam |— Kamis, 20 September 2018 WP | 3764x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe