Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Empat orang dinyatakan bersalah dalam protes antipemerintah
  • Kamis, 01 Desember 2016 — 14:17
  • 436x views

Empat orang dinyatakan bersalah dalam protes antipemerintah

Pengadilan Nauru menetapkan empat orang bersalah dalam protes antipemerintah yang digelar di halaman gedung Parlemen Nauru pada Juni tahun lalu.
Kerusuhan di Nauru pada Agustus tahun 2015.—RNZI
RNZI
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Lina Nursanty

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Nauru, Jubi – Pengadilan Nauru menetapkan empat orang bersalah dalam protes antipemerintah yang digelar di halaman gedung Parlemen Nauru pada Juni tahun lalu. Keempat orang tersebut diganjar hukuman penjara masing-masing enam hingga sembilan bulan.

Keempat orang tersebut dinyatakan bersalah karena mengganggu proses legislasi, menyebabkan kerusuhan, merusak properti, tidak menghormati hukum dan melakukan kekerasan. Seorang di antaranya adalah wanita yang juga dituding melakukan kesalahan yang sama.

Protes tersebut saat itu juga melibatkan beberapa anggota parlemen dan pendukungnya. Polisi menahan beberapa anggota parlemen yang terlibat meski tidak sampai menghukumnya. Jumlah tersangka kerusuhan total sebanyak 20 orang. Sebanyak 16 orang sisanya antara lain mantan presiden Nauru, Sprent Dabwido, mantan menteri kehakiman Mathew Batsiua dan seorang anggota parlemen Squire Jeremiah.

Para mantan pejabat tinggi tersebut akan disidangkan di meja hijau pada April mendatang atau hampir dua tahun setelah peristiwa kerusuhan terjadi.

Tuduhan yang dialamatkan kepada para mantan pejabat dan tokoh oposisi ini antara lain pelaku kerusuhan, mengganggu jalannya proses legislasi, dan memasuki area terlarang yaitu bandara. Sementara, para anggota parlemen yang saat itu terlibat dalam aksi protes telah kehilangan kursinya di parlemen karena dicopot.

Paspor

Pemerintah Nauru sempat tersudut akibat peristiwa pencekalan paspor milik Sprent Debwido tepat sebelum mantan presiden ini bertolak ke Brisbane untuk menjalani perawatan kesehatan. Saat itu, Debwido dilarang bepergian ke luar negeri dan paspornya dicekal oleh pemerintah.

Debwido yang tengah mengalami sakit jantung saat itu langsung menuai simpati dari berbagai kalangan hingga akhirnya membuat pemerintah tersudut. Semua pihak mendesak agar pemerintah mengizinkan Debwido berobat di Brisbane.

Setelah melobi presiden Nauru sekarang, Baron Waqa, akhirnya Mahkamah Agung memperbolehkan Debwido berobat ke luar negeri asal harus kembali sebelum Februari 2017. (*)

 

 

loading...

Sebelumnya

Suku Maori gelar aksi solidaritas dukung suku Sioux di Amerika

Selanjutnya

Suku Gene menangkan gugatan hukum

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe