Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Proses dekolonisasi di Pasifik berpengaruh pada perubahan iklim
  • Minggu, 04 Desember 2016 — 09:53
  • 1291x views

Proses dekolonisasi di Pasifik berpengaruh pada perubahan iklim

"Delegasi masyarakat sipil daerah Pasifik menegaskan kembali pentingnya mengenali dan menghormati kedaulatan wilayah Pasifik dalam hal penentuan nasib sendiri dan dekolonisasi masyarakat pasifik di French Polynesia, New Caledonia, West Papua, dan wilayah Amerika tertulis dalam komunike tersebut,” jelas Emele.
Ilustrasi - IST
Victor Mambor
victor_mambor@tabloidjubi.com
Editor :

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Proses dekolonisasi masyarakat adat di French Polynesia (Tahiti), New Caledonia (Kanak), Indonesia (West Papua) dan wilayah Amerika secara intrinsik terkait dengan kedaulatan wilayah Pasifik.

Hal ini serta kebutuhan untuk memperluas definisi kerapuhan dalam upaya menanamkan kepedulian terhadap kerentanan yang disebabkan perubahan iklim sebagai keprihatinan khusus Pacific adalah isu-isu kunci yang disoroti delegasi Pacific pada Pertemuan Tingkat Tinggi Menteri (HLM2) Kemitraan Global untuk Kerjasama Pembangunan Efektif di Nairobi (GPEDC), di Kenya pekan lalu.

Direktur Asosiasi LSM Pasifik (PIANGO) Emele Duituturaga mengatakan masalah ini disorot dalam laporan Kaukus Regional Pasifik yang tergabung dalam Komunike HLM2 GPEDC CSO.

"Delegasi masyarakat sipil daerah Pasifik menegaskan kembali pentingnya mengenali dan menghormati kedaulatan wilayah Pasifik dalam hal penentuan nasib sendiri dan dekolonisasi masyarakat pasifik di French Polynesia, New Caledonia, West Papua, dan wilayah Amerika tertulis dalam komunike tersebut,” jelas Emele.

Lanjutnya, hal ini terkait dengan perpindahan terus menerus masyarakat adat yang terjadi karena militerisasi dan perjanjian perdagangan perjanjian untuk pembangunan serta pemanfaatan sumber daya alam dan manusia. Dampak yang sangat signifikan adalah kerapuhan dan kerentanan terhadap perubahan iklim, penyakit gaya hidup, konflik, dan karakteristik penyakit sosial terkait lainnya dari orang-orang yang terpinggirkan.

Duituturaga menambahkan, pada sikap Pacific untuk memperluas definisi kerapuhan, delegasi Pacific menyerukan dimasukkannya kerentanan iklim sebagai pengakuan dari posisi Pasifik di garis depan perubahan iklim.

Delegasi pasifik yang menghadiri pertemuan ini meliputi perwakilan masyarakat sipil dari Guam, Samoa, Fiji, Selandia Baru, PNG dan Palau. (*)

Sementara itu, Pacific Youth Council Manasa Vatanitawake berpartisipasi sebagai panelis pada sesi pleno, pada topik, "Meninggalkan No One Behind Iklim, Kebudayaan dan Identitas" sebagai isu kunci untuk Pacific Youth, sebelum akhir pertemuan.

loading...

Sebelumnya

Partai Sosialis Malaysia inisiatifi solidaritas untuk West Papua

Selanjutnya

Masyarakat adat korban investasi Papua tuntut Presiden gelar pertemuan para pihak

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe