Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Generasi muda, ‘motor’ meluasnya Self Determintation West Papua
  • Selasa, 06 Desember 2016 — 18:32
  • 1760x views

Generasi muda, ‘motor’ meluasnya Self Determintation West Papua

“Kemampuan generasi muda Papua mengekspresikan pandangan terkait hak menentukan nasib sendiri, mengungkapkan setiap penyimpangan negara Indonesia di Papua, sampai dengan kemampuan menggalang aksi-aksi protes, sangat progresif,” ujar Usman kepada Jubi melalui surat elektronik, Selasa (6/12/2016).
‘Gravity action’ semacam ini belakangan semakin banyak menghiasi areal Waena, Jayapura oleh anggota-anggota muda KNPB yang dilakukan secara terbuka – IST
Zely Ariane
Editor : Kyoshi Rasiey

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Generasi muda gerakan Papua Merdeka saat ini memiliki kemampuan sangat efektif mengekspresikan pandangan mereka terkait hak penentuan nasib sendiri.

Meningkatnya dukungan terhadap hak penentuan nasib sendiri West Papua di panggung global, khususnya di Indonesia, sangat terkait erat dengan peran generasi muda sebagai motor kampanye dan aksi-aksi progresif.

Hal itu dikemukakan Usman Hamid, pendiri Public Virtue Institute (PVI) dan aktivis HAM yang belakangan aktif menganalisa aktivisme di media sosial. 

“Kemampuan generasi muda Papua mengekspresikan pandangan terkait hak menentukan nasib sendiri, mengungkapkan setiap penyimpangan negara Indonesia di Papua, sampai dengan kemampuan menggalang aksi-aksi protes, sangat progresif,” ujar Usman kepada Jubi melalui surat elektronik, Selasa (6/12/2016).

Generasi Papua ini, lanjutnya, sangat efektif mengoptimalkan media baru seperti media sosial berbasis internet dan non-internet. “Sebut saja website, akun Medsos mereka. Tak lagi bisa terhitung,” kata Hamid.

Menurut dia, yang paling efektif menggunakan perangkat itu adalah generasi muda di sekitar Komite Nasional Papua Barat (KNPB). “Meski pun di sisi lain, reaksi dari aktor konservatif dalam negara juga sama efektifnya. Mereka menggunakan media yang sama untuk melawan balik tuntutan politik tsb. Ini bisa kita lihat dalam kasus pemblokiran beberapa website, sampai dengan surveilance dan kekerasan,” ungkap Usman.

Solidaritas ‘Self Determination’

Namun Usman Hamid memandang, disamping upaya generasi muda Papua mencari dukungan, solidaritas elemen muda dari masyarakat Indonesia terhadap  hak penentuan nasib sendiri West Papua belakangan ini masih tergolong kecil.

“Secara umum kecil sekali kemajuan solidaritas masyarakat Indonesia untuk Papua, apalagi jika diajak untuk mempercakapkan tema perjuangan politik orang Papua berupa self-determination,” kata dia sambil tetap mengapresiasi kehadiran Front Rakyat indonesia untuk West Papua (FRI West Papua).

Bagi Usman, cara pandang nasionalis orang Indonesia belum sanggup mencapai titik progresif untuk mengakui bahwa nasionalisme juga tumbuh dalam gerakan anak muda Papua.

Sementara Galesh, seorang muda warga Indonesia yang ikut menjadi korban pemukulan dan penangkapan pada aksi FRI West Papua 1 Desember lalu, mengaku dengan sukarela ikut aksi mendukung penentuan nasib sendiri West Papua tersebut.

“Saya ikut aksi karena kemerdekaan itu hak segala bangsa. Dan hak untuk berekspresi ada di negara Indonesia ini,” kata dia pada Jubi melalui pesan singkat sesaat setelah keluar dari Polda Metro Jaya beberapa waktu lalu.

Menurut Galesh, ada sekitar 40-50 orang warga Indonesia yang turun pada aksi di Jakarta itu. Galesh termasuk yang kena pukulan dari setidaknya enam orang  karena tidak setuju polisi dan ‘massa provokator’ memaksa peserta aksi membuka ikat kepalanya yang bergambar bintang fajar. Namun Galesh menolak disebut ditangkap polisi, lebih suka menyebutnya dibawa paksa.

“Saya tergerak turun karena interaksi langsung dengan kawan-kawan Papua, kalau isunya saja sudah lama tahu, dan saya dengan beberapa teman Anarkonesia ikut di lapangan karena kami peduli atas situasi di Papua,” ujarnya.

Dirinya percaya, masyarakat Papua yang sudah banyak menjadi korban pelanggaran HAM tidak membenci orang Indonesia. “Saya percaya mereka memahami siapa yang merampas tanah mereka, siapa yang menganiaya, menculik, membunuh warga Papua, bukan orang Indonesia, tapi Negara Indonesia” ujarnya

“Orang Indonesia banyak kok yang sadar bahwa yang dilakukan negara itu salah, tapi masalahnya negara tidak mendengar aspirasi mereka,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Adriana Elisabeth, penggiat dialog damai Papua dari LIPI menanggapi aksi FRI West Papua sebagai wujud  solidaritas yang makin luas dan solid.

“Itu bagian dari wujud solidaritas yang makin luas dan solid. Sementara penangkapan itu ‘hal biasa’, hampir  selalu terjadi pada jelang (tanggal 1 Desember) atau pada tanggal-tanggal tertentu terkait politik Papua,” kata Adriana.

Baginya yang jauh lebih penting adalah strategi jangka panjang dalam meresponnya. “Yang perlu diselesaikan adalah bagaimana merespon tuntutan gerakan ini dalam jangka panjang,” tegas Adriana.(*)

loading...

Sebelumnya

Percaya diri berlebihan, penyebab kecelakaan pesawat di Papua

Selanjutnya

Mensos serahkan bantuan tunai PKH secara simbolis di Jayapura

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe