Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Menjual mahkota cenderawasih untuk selamatkan burung khas Papua
  • Selasa, 06 Desember 2016 — 18:43
  • 2416x views

Menjual mahkota cenderawasih untuk selamatkan burung khas Papua

“Saya menjualnya setiap ada festival dan acara-acara di hotel, hasilnya saya gunakan untuk tambahan biaya kuliah,” katanya kepada Jubi pada Selasa (6/12/2016).
Frederika Rumkorem menata mahkota cenderawasih karyanya yang dijual di depan jalan Expo Waena - Jubi /Yance Wenda.
Yance Wenda
Editor : Syofiardi

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Sentani, Jubi – Fredika Rumkorem punya cara sendiri menyelamatkan burung cenderawasih. Perempuan asal Biak ini membuat mahkota berbentuk kepala cenderawasih dari bahan-bahan bekas dan menjualnya.

Fredika yang juga mahasiswi semester tiga Jurusan Seni Tari, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua, membuat dua jenis mahkota dengan harga berbeda. Topi atau mahkota berhias bulu kasuari dijual Rp300 ribu dan berhias bulu ayam Rp200 ribu.

“Saya menjualnya setiap ada festival dan acara-acara di hotel, hasilnya saya gunakan untuk tambahan biaya kuliah,” katanya kepada Jubi pada Selasa (6/12/2016).

Ia membuat kerajinan tangan ini bersama tantenya sejak duduk di bangku SMP pada 1990-an. Usahanya tidak pernah berhenti sampai sekarang. Ia membuat mahkota dari berbagai bahan, seperti sisik ikan, sayapnya dari daun-daun kering, dan untuk badannya dari gabus bekas.

“Pertama kali kami datang ke Jayapura tidak ada yang membuat mahkota seperti ini, padahal di sanggar tari para penari dan pemain musik harus memakai mahkota cenderawasih, akhirnya saya buat sendiri,” ujarnya.

Ia benar-benar membuat berdasarkan kreasi sendiri. Tidak pernah diajarkan sanggar atau mendapatkan pelatihan.

Meski mahkota mirip burung, namun tidak berbahan dari burung yang dilindungi.Kecuali bulu kasuari yang menurutnya didapatkan jauh sebelum undang-undang perlindungan diberlakukan. Namun ia berencana akan mengganti bulu kasuari dengan ijuk.

Tak hanya mahkota, Frederika juga menjual imitasi anggrek khas Papua untuk dijual kepada wisatawan. Tujuannya juga melindungi anggrek papua dari kepunahan.

Rektor ISBI Prof. Dr. I Wayan Rai. S, MA saat dikonfimasi Jubi tentang kegiatan mahasiswinya, berjanji akan mencarikan instruktur profesional mendukung usaha Frederika.

“Dengan bimbingan profesional ia bisa menyerap ilmu, sehingga Papua memilki sumber daya manusia yang tangguh dan multitalenta,” ujarnya. (*)

loading...

Sebelumnya

‘Klinik’ pengembangan Koperasi dan UMK hadir di Kabupaten Jayawijaya

Selanjutnya

Lima kawasan adat diminta kembangkan komoditas unggulan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe