PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
  1. Home
  2. Pilihan Editor
  3. Dua tahun tragedi Paniai berdarah : Dimanakah keadilan itu?
  • Rabu, 07 Desember 2016 — 15:10
  • 1709x views

Dua tahun tragedi Paniai berdarah : Dimanakah keadilan itu?

"Saya mau bicara apa lagi. Selama ini saya terus menyuarakan apa yang diinginkan masyarakat Paniai umumnya dan keluarga korban khususnya. Tapi tak ada langkah nyata dari negara," kata legislator Papua, Laurenzus Kadepa via teleponnya kepada Jubi, Rabu (7/12/2016).
Makam korban insiden Paniai Berdarah di Lapangan Karel Gobay, Enarotali - Jubi/Abeth You
Arjuna Pademme
harjuna@tabloidjubi.com
Editor :

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Letusan senjata diiringan jatuhnya puluhan warga akibat terbembus peluru di Lapangan Karel Gobay, Enarotali, Ibu Kota Kabupaten Paniai, dua tahun lalu, 8 Desember 2014 sekitar pukul 10:30 waktu setempat, menyisakan duka hingga kini. Sebanyak 18 warga sipil terluka. Empat siswa SMA dan seorang petani menghembuskan nafas terakhir. Tanggal itu, tak akan hilang dari benak masyarakat Paniai. Dihari naas tersebut, mereka kehilangan sanak keluarga. Maut dengan perantara timah panas, entah siapa pemiliknya, dipaksa menjemput mereka.

Alpius Youw (17) siswa SMA YPPK Epouto, Yulian Yeimo (17) siswa SMA YPPGI Enarotali, Simon Degei (18) siswa SMA Negeri 1 Enarotali, Alpius Gobai (17) siswa SMA Negeri 1 Enarotali tergeletak tak bernyawa. Selain keempatnya, Abia Gobai (28),  petani dari Enarotali juga dijemput mau meski sempat dirawat di RSUD Madi, Paniai.

Desakan penuntasan kasus Paniai disuarakan berbagai pihak tanpa henti-hentinya. Tak hanya oleh para aktivis dan mereka yang peduli HAM di Papua. Desakan agar negara mengungkap itu juga datang dari mereka yang ada di luar Papua.

Dua tahun berlalu. Tragedi berdarah di Lapangan Karel Gobay tak kunjung terungkap. Pemilik peluru siluman yang dimuntahkan senjata tak bertuan masih misteri. Entah dimana keadilan bersembunyi. Korban dan keluarga korban terus menunggu adanya mukjizat keadilan.

"Saya mau bicara apa lagi. Selama ini saya terus menyuarakan apa yang diinginkan masyarakat Paniai umumnya dan keluarga korban khususnya. Tapi tak ada langkah nyata dari negara," kata legislator Papua, Laurenzus Kadepa via teleponnya kepada Jubi, Rabu (7/12/2016).

Anggota Komisi I DPR Papua, komisi bidang Politik, Hukum dan HAM itu ingin negara benar-benar punya niat menuntaskan kasus Paniai. Selama ini berbagai tim telah melakukan investigasi. Namun tak ada hasil.

"Saya ingin negara benar-benar tulus menuntaskan kasus ini. Memberikan rasa keadilan kepada korban dan keluarga korban. Biarkan Komnas HAM atau tim independen lainnya bekerja tanpa ada tekanan. Tanpa ada intervensi. Ini pesan saya memperingati dua tahun tragedi Paniai," ucapnya.

Selama ini keluarga korban tak tinggal diam. Melakukan berbagai upaya untuk mendapat keadilan. Mereka ingin pelaku ditangkap diadili. Namun begitu mahalnya keadilan untuk mereka.

"Korban dan keluarga korban hingga kini masih terus menunggu kapan pelaku diungkap. Kapan negara bisa memberikan keadilan kepada mereka," katanya.

Sementara Komisioner Komnas HAM RI, Natalius Pigai menyatakan, pengungkapan tragedi Paniai berdarah begitu penting untuk masyarakat Paniai khususnya, Papua umumnya dan bagi Indonesia dimata dunia.

"Kasus Paniai, kesalahannya ada pada pemerintah. Sepanjang pemerintah menutup-nutupi pelaku, khususnya terkait hasil penyelidikan institusi TNI dan Polri, masyarakat tetap menolak siapapun yang melakukan penyelidikan. Saya kira masyarakat Paniai berpikir cerdas," kata Natalius Pigai kepada Jubi belum lama ini.  

Belajar dari kasus-kasus lain kata Natalius, semua tidak pernah terbukti karena TNI dan Polri tidak pernah umumkan pelakunya bahkan menyembunyikan pelakunya. Kecuali kalau masyarakat atau keluarga korban mau melakukan otopsi dalam kasus Paniai. Namun itu benturan dengan budaya. Satu-satunya jalan keluar adalah TNI dan Polri harus mengumumkan hasil penyelidikannya.

"Kami ingin pelaku diberi hukuman berat sesuai dengan UU 26 tahun 2000 bahkan terancam hukuman mati. Kasus Paniai ditanya oleh siapapun termasuk dunia internasional maka yang menutupi pelaku dan tidak mau membuka hasil penyelidikan itu pemerintah," ucapnya.

Bupati Paniai, Hengky Kayame juga menyatakan ingin kasus itu segera diungkap. Ia mengatakan, selama ini sudah banyak tim yang turun ke Paniai, namun hasilnya nihil.

"Saya berharap Tim Ad Hoc Komnas HAM RI bisa segera menungkap kasus itu dan pelakunya diadili. Kini warga Paniai menunggu pengungkapan kasus Paniai," kata Hengy Kayame kepada Jubi belum lama ini.

Beberapa waktu lalu Kemenko Polhukam telah membentuk tim. Tim itu diberi nama Tim Terpadu Penyelesaian Pelanggaran HAM di Papua. Beberapa kasus dugaan pelanggaran HAM di Papua, termasuk kasus Paniai ada dalam agenda tim. Namun hingga kini kinerja tim tersebut belum memberikan hal berarti.

Menko Polhukam, Wiranto belum lama ini menyatakan, ada berbagai kendala yang dialami tim itu. Salah satunya kendala biaya dan outopsi.

"Pemerintah sudah memiliki niat. Kita akan selesaikan. Tapi kan tidak mudah. Belum bisa cepat," kata Wiranto belum lama ini seperti dikutip dari berbagai media.

Menurutnya, Untuk meyakinkan adanya pelanggaran HAM diperlukan outopsi. Namun itu bertentangan dengan budaya masyarakat setempat.

"Budaya setempat tak mengizinkan. Kalau outopsi ada akibatnya di akhirat sana," ucapnya.

Namun Ketua Komisi I DPR Papua, Elvis Tabuni menilai, outopsi dan anggaran tak bisa dijadikan alasan menghambat penuntasan HAM di Papua.

"Kalau terkendala banyak hal percayakan kepada tim dari luar misalnya tim PBB atau Forum Island Pasifik (FIP) untuk mengambil alih. Kenapa alasannya selalu outopsi. Kalau alasannya dana, pemerintah kan punya uang. Itu alasan tak masuk akal. Bebaskan tim dari luar datang melakukan investigasi," kata Elvis. (*)

Sebelumnya

Lagi, PT. Bosowa didesak angkat kaki dari Yahukimo

Selanjutnya

Aspirasi politik Papua Barat dipamerkan dalam pameran seni rupa di Melbourne

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua