Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. CEO Freeport : Pembangunan smelter di Indonesia sangat tidak ekonomis
  • Kamis, 08 Desember 2016 — 15:45
  • 1698x views

CEO Freeport : Pembangunan smelter di Indonesia sangat tidak ekonomis

Adkerson dalam konferensi tersebut mencatat bahwa China, konsumen tembaga terbesar di dunia, telah membangun sebuah "jaringan besar smelter" selama beberapa tahun terakhir, yang menyebabkan Freeport baru saja menyelesaikan negosiasi untuk revitalisasi biaya tahun depan di bawah $0,25 per lb.
CEO Freeport McMoRan, Richard Adkerson - IST
Victor Mambor
victor_mambor@tabloidjubi.com
Editor :

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Freeport McMoRan memeringatkan pemerintah Indonesia jika membangun smelter baru sangat tidak ekonomis bagi pemerintah. Namun dilaporkan oleh metalbulletin.com, Freeport tetap berkomitmen untuk membangun smelter (fasilitas pemurnian tembaga) yang diminta oleh pemerintah Indonesia

"Kami terus melakukan upaya terbaik untuk memastikan bahwa pemerintah Indonesia memahami bahwa membangun smelter tembaga di Indonesia sangat tidak ekonomis, benar-benar sangat tidak ekonomis, karena kelebihan smelter global dalam industri tembaga," kata CEO Freeport McMoRan, Richard Adkerson dalam  konferensi energi & sumber daya alam Cowen dan Co di New York minggu ini.

Adkerson dalam konferensi tersebut mencatat bahwa China, konsumen tembaga terbesar di dunia, telah membangun sebuah "jaringan besar smelter" selama beberapa tahun terakhir, yang menyebabkan Freeport baru saja menyelesaikan negosiasi untuk revitalisasi biaya tahun depan di bawah $0,25 per lb.

"Jadi membangun smelter - yang akhirnya kami berkomitmen untuk melakukannya dan kami siap melakukannya, sebab jelas mereka [pemerintah Indonesia] bersikeras melakukan itu - akan membuat pemerintah Indonesia mengeluarakan sejumlah besar uang, miliaran dolar selama kontrak berjalan. Pemerintah akan kehilangan pajak dan royalti dan sebagainya karena tidak mengambil keuntungan dari biaya pengolahan rendah yang tersedia saat ini di pasar," tambah Adkerson.

Adkerson menegaskan bahwa Freeport akan mengatur pembiayaan proyek untuk smelter, yang direncanakan berada di wilayah Gresik di provinsi Jawa Timur. Freeport akan melibatakan mitra, tambahnya, untuk membatasi kebutuhan modal dalam proyek.

Sementara dari Jakarta, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan sepertinya akan menggantungkan permohonan perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia yang akan berakhir 2021 mendatang.

Menteri ESDM ini menegaskan keputusan perpanjangan kontrak Freeport ini baru akan dibuat setelah pembahasan revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 77 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba) dilakukan.

“Nanti saja, putusannya menunggu PP. Kita tidak mau mendahului,” ujar Jonan usai rapat koordinasi di Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian, Kamis (8/12/2016).

Terkait smeltr, Menteri ESDM mengingatkan Freeport untuk menyelesaikan pembangunan smelter dalam jangka waktu lima tahun mendatang.

“Ya mestinya harus bangun smelter,” katanya singkat. (*)

loading...

Sebelumnya

Mahasiswa Papua Jabar: Jangan terprovokasi pembubaran KKR di Bandung

Selanjutnya

Aspirasi politik Papua Barat dipamerkan dalam pameran seni rupa di Melbourne

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe