Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Stop Press
  3. Misionaris dan kolonialisme di masa New Guinea
  • Rabu, 14 Desember 2016 — 13:57
  • 2307x views

Misionaris dan kolonialisme di masa New Guinea

Orang Eropa pertama yang menjelajahi New Guinea tanpa motif tersembunyi adalah penjelajah Rusia bernama Miklaukho Maklai. Dia mendarat di sebuah tempat bernama Bonga, di sekitar Teluk Astrolabe yang sekarang dikenal sebagai Madang pada bulan September 1871.
Misionaris Inggris, Pendeta Murray dan Pendeta MacFarlane bersama delapan orang lainnya dikirim dari Lifu, sebuah pulau di Kaledonia Baru mendarat di Port Moresby, PNG – The Great Book of Pacific
Victor Mambor
victor_mambor@tabloidjubi.com
Editor :

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi – New Guinea dalam sejarah Gold, Glory dan Gospel dianggap batas antara Laut Selatan dengan Pasifik Barat. Bagian tengah pulau raksasa ini memiliki untaian pegunungan yang tingginya mencapai 14.000 kaki. Sedangkan di bagian utara pulau ini, berjejer beberapa puncak yang mencapai 12.000 kaki.

Penduduk di pulau raksasa ini memiliki kekayaan bahasa yang membuat para penjelajah kagum. Namun para penjelajah Eropa ini tak terlalu berminat untuk menguak kekayaan pulau raksasa ini lebih awal. Malaria menjadi alasan utama para penjelajah untuk segera meninggalkan pulau ini, hingga awal abad ke-19.

Orang Eropa pertama yang menjelajahi New Guinea tanpa motif tersembunyi adalah penjelajah Rusia bernama Miklaukho Maklai. Dia mendarat di sebuah tempat bernama Bonga, di sekitar Teluk Astrolabe yang sekarang dikenal sebagai Madang pada bulan September 1871.


Penduduk lokal Papua New Guinea menyambut orang Eropa dengan perjamuan mewah. Satu kelompok musik Belanda bermain musik dalam perjamuan ini. Sementara kelompok lainnya tampak sedang melakukan pertukaran manik-manik dengan rempah-rempah – The Great Book of Pacific

Misionaris mulai bekerja di New Guinea sejak tahun 1871. Dua misionaris Inggris, Pendeta Murray dan Pendeta MacFarlane bersama delapan orang lainnya dikirim dari Lifu, sebuah pulau di Kaledonia Baru. Dua orang dalam misi ini kemudian dibunuh oleh penduduk lokal yang sudah dibaptis oleh dua misionaris ini saat mereka sedang berdoa. Berikutnya, para misionaris melakukan misi mereka di Port Moresby yang ditemukan oleh Kapten Moresby tahun 1873. Pos pertama didirikan di Moresby pada tahun 1874. Beberapa misi lainnya dilakukan oleh para misionaris lainnya namun mengalami tantangan yang sangat berat. Seorang misionaris bernama Brown, kehilangan empat anggota misinya yang dibunuh dan dimakan oleh penduduk lokal New Guinea.


Miklaukho Maklai, Orang Eropa pertama yang menjelajahi New Guinea tanpa motif tersembunyi – ABC

Secara perlahan misionaris bisa menguasai pulau raksasa ini. Dua misi yang dikenal dengan sebutan Order of the Sacred Heart pada tahun 1885 dan misi Anglikan pada tahun 1891 kemudian dicatat sebagai awal Gerakan Kargo, yang membawa Mitos Mansren di Papua Barat yang mencapai puncaknya saat Perang Dunia II.

Tahun 1828, Belanda mengambil alih bagian Barat pulau raksasa ini. Jerman yang sangat serius pada masa tersebut, melihat peluang menguasai New Guinea melalui Emma Forsyth, seorang keturunan Samoa. Perempuan Samoa ini ternyata telah membangun kerajaan kecil yang berpusat di York Islands, antara New Britain dan New Ireland. Dengan cepat, perempuan Samoa ini menyambut keinginan perusahaan Jerman untuk memindahkan kantor pusat mereka di atas tanah miliknya, di Kokopo, New Britain, karena malaria menghantam orang-orang perusahaan di New Guinea.


Louis Claude de Freycinet berlabuh di Teluk Rawak, Papua New Guinea. Freycinet dan tim ilmuwannya mengikuti rute Baudin, dengan tujuan memperbaiki dan menyelesaikan laporan terakhir untuk sumbangan ilmu pengetahuan – The Great Book of Pacific

Bagian timur pulau raksasa ini selanjutnya menjadi pertarungan antara Inggris dan Jerman. Pemerintah Queensland di Australia secepatnya memplokamirkan kekuasaan mereka atas bagian tenggara pulau raksasa ini. Namun Inggris membatalkan pernyataan pemerintah Queensland ini dan membuka negosiasi dengan Jerman. Negosiasi antara Inggris dan Jerman ini melahirkan perjanjian pada tahun 1885 yang memutuskan bagian barat laut (New Guinea) menjadi milik Jerman dan bagian tenggara (Papua) dimiliki oleh Inggris yang kemudian diserahkan kepada Australia.

Tanggal 16 September 1975, Papua dan New Guinea bersatu sebagai sebuah negara merdeka. Sementara bagian barat pulau raksasa ini, masih menjadi bagian dari Indonesia sejak diserahkan oleh Belanda kepada PBB dan kemudian diserahkan pada Indonesia tahun 1963 yang memulai sejarah paska kolonial di Tanah Papua. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Anda penggemar Black Brothers? Anda wajib tahu 10 fakta ini!

Selanjutnya

Mengapa fatwa MUI “kandas” di Papua?

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe