PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Tidak ada bukti, LBH Yogyakarta minta cabut status tersangka Obby Kogoya
  • Kamis, 15 Desember 2016 — 18:48
  • 1016x views

Tidak ada bukti, LBH Yogyakarta minta cabut status tersangka Obby Kogoya

Berlarut-larutnya proses ini, menurut LBH Yogyakarta, membuktikan bahwa polisi kesulitan mencari barang bukti serta saksi-saksi, yang sedari awal sebetulnya juga tidak dimiliki pihak kepolisin.
Obby Kogoya (22) saat ditangkap aparat keamanan pada Pengepungan Asrama Kamasan Yogyakarta 15 Juli 2016 - IST
Abeth You
abethamoyeyou@gmail.com
Editor : Zely Ariane

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta menuntut Kepolisian Daerah Yogayakarta untuk menghentikan proses hukum dan status tersangka terhadap Obby Kogoya,  mahasiswa Papua yang dikriminalkan saat terjadi pengepungan oleh aparat kepolisian di Asrama Mahasiswa Papua (AMP) Kemasan pada 15 Juli  2016 lalu.

“Ini sudah berlarut-larut sejak Juli 2016, sejak pertama kali Obby diperiksa. Hingga akhir tahun status Obby masih saja tersangka atas tuduhan melawan petugas dan melakukan penganiayaan kepada petugas/aparat,” ujar Emannuel Gobay, pengacara Obby Kogoya dari LBH Yogyaarta dalam rilis yang diterima redaksi Jubi, Rabu (14/12/2016).

Berlarut-larutnya proses ini, menurut LBH Yogyakarta, membuktikan bahwa polisi kesulitan mencari barang bukti serta saksi-saksi, yang sedari awal sebetulnya juga tidak dimiliki pihak kepolisin.

“Bila dalih polisi menyatakan Obby tertangkap tangan (melakukan penganiayaan petugas) maka seharusnya mudah melakukan pembuktiannya. Namun ternyata hingga hari ini polisi masih kesulitan dalam mencari bukti yang dapat membuktikan Obby Kogoya melakukan perbuatan penganiayaan yang dituduhkan itu,” ungkap Gobay.

LBH juga menyampaikan hingga hari ini Obby masih saja terus dimintai keterangan tambahan oleh penyidik Polda DIY. Permintaan keterangan tambahan ini bukan yang pertama namun sudah ketiga kalinya.  “Katanya Obby tertangkap tangan melakukan pidana, tetapi kenapa proses hukumnya dibuat lama seperti ini?” ujar Gobay lagi.

Bagi LBH Yogyakarta, proses yang berlarut-larut tersebut diduga karena kriminalisasi Obby Kogoya yang sekaligus merupakan korban kekerasan aparat pada peristiwa Kemasan 15 Juli itu, dilakukan untuk menutupi sesuatu yang lebih besar. 

“Atas berbagai kejanggalan dan keanehan dalam penetapan Obby sebagai tersangka merupakan bentuk “kriminalisasi” yang dilakukan untuk menutupi sesuatu. Hal tersebut membuat hukum digunakan sebagai alat pengancaman dan alat pembungkaman,” demikian penegasan LBH Yogyakarta.

Sebelumnya dikatakan Komnas HAM di dalam laporan investigasinya, telah menyimpulkan adanya pelanggaran HAM berupa pemukulan dan pengeroyokan, salah satu korbanya yakni Obby Kogoya yang dilakukan oleh anggota kepolisian pada saat pengepungan di luar asrama mahasiswa Papua saat itu.

Hakim Pengadilan Negeri Sleman yang menyidangkan gugatan pra pradilan atas penetapan tersangka Obby juga disebutkan mengakui dalam putusannya bahwa Obby merupakan korban (dan bukan pelaku sebagaimana dituduhkan).

Oleh karena itu LBH Yogyakarta meminta penghentian status tersangka Obby Kogoya. “Penghentian tersebut ada di tahap pra persidangan, di mana kewenangan itu ada pada polisi maupun jaksa penuntut umum sebagaimana termuat dalam pasal 140 ayat (2) huruf a. Dalam hal penuntut umum memutuskan untuk menghentikan penuntutan karena tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut” ujar Gobay.(*)

Sebelumnya

Komnas HAM RI: Papua darurat HAM dan kebebasan berekspresi

Selanjutnya

Darurat kebebasan berekspresi, Papua makin disorot

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua