Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Polhukam
  3. Oknum marinir diduga dagangkan pinang masyarakat yang mereka sita
  • Rabu, 21 September 2016 — 17:34
  • 521x views

Oknum marinir diduga dagangkan pinang masyarakat yang mereka sita

“Mama-mama dibawa ke karantina, disuruh bikin surat pernyataannya. Mama-mama merasa takut. Berdagang pinang yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka sudah kurang lebih sebulan tak berjalan,” kata Doliana Yakadewa.
Penjual pinang di Kota Jayapura - Dok. Jubi
Arjuna Pademme
Editor : Victor Mambor

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Jayapura, Jubi - Legislator Papua, Tan Wie Long menyesalkan seringnya terjadi penyitaan pinang yang dibawa masyarakat menggunakan jalur laut dari Papua Nugini (PNG) ke Kota Jayapura untuk didagangkan oleh oknum aparat keamanan yang diduga anggota Marinir, seperti pengaduan mama-mama pedagang pinang kepada Komnas HAM Perwakilan Papua, Selasa (20/9/2016).

Anggota Komisi I bidang Pemerintahan, Hubungan Luar Negeri, Keamanan, Hukum dan HAM itu mengatakan, jika pengaduan masyarakat ke Komnas HAM Perwakilan Papua tersebut benar, ini menunjukkan sikap arogansi dan tindakan semena-mena aparat keamanan kepada masyarakat.

"Ini tentu merugikan kehidupan warga Papua, terutama mama-mama yang selama ini mencari nafkah dengan membawa pinang dari PNG untuk dijual di Kota Jayapura. Ini harusnya tak perlu terjadi. Pihak terkait harusnya memberikan solusi bagaimana masyarakat biasa berdagang pinang secara tradisional agar tak mengganggu mata pencaharian mereka," kata Tan Wie Long, Rabu (21/9/2016).

Menurutnya, perlu dipertanyakan mengapa aparat keamanan dari intitusi manapun atau pihak terkait lainnya melakukan sweeping di laut. Seperti apa Standar Operasional Prosedur (SOP) nya. Komisi I meminta Kepala Badan Perbatasan Provinsi Papua bertanggungjawab dalam masalah ini.

"Ini merugikan masyarakat yang sudah sejak dulu melakukan perdagangan tradisional antar warga masyarakat di Jayapura dengan PNG. Kalau ada regulasi yang harus diikuti, jelaskan kepada sudara-saudara kita pelaku perdagangan tradisional dengan warga PNG. Jangan mereka terus disalahkan. Harus kita pahami, masih banyak diantara mereka yang tak tau regulasi apa yang harus dipenuhi," ucapnya.

Katanya, warga Kota Jayapura yang berdagang pinang dari PNG hanya berupaya menghidupi keluarga mereka. Namun lantaran ada hambatan dan tak tahu seperti apa regulasi yang harus dipenuhi membuat mata pencahariannya terganggu.

"Penangkapan di tengah laut tak boleh terjadi lagi. Kami akan rapat dengar pendapat dengan Kepala Badan Perbatasan, intansi terkait dan pihak keamanan yang selama ini patroli di laut dan menyita barang dagangan masyarakat. Kami menyesalkan tindakan aparat yang mengambil dagangan yang dibawa masyarakat dari PNG," katanya.

Selasa (20/9/2016), beberapa mama-mama Papua yang berprofesi sebagai pedagang pinang dari Papua Nugi (PNG) ke Kota Jayapura mengadu ke Komnas HAM Papua lantaran belakangan ini merasa tak nyaman melakukan aktivitas. Pinang yang mereka bawa dari PNG sering disita aparat keamanan di tengah laut dengan alasan pinang tersebut tak dilengkapi dokumen resmi.

Aktivis Jaringan Kerja HAM Perempuan Papua (Jakar TIKI Papua), Doliana Yakadewa yang mendampingi mama-mama mengatakan, beberapa waktu lalu, 23 karung pinang disita dengan alasan tanpa dokumen dari karantina.

“Mama-mama dibawa ke karantina, disuruh bikin surat pernyataannya. Mama-mama merasa takut. Berdagang pinang yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka sudah kurang lebih sebulan tak berjalan,” kata Doliana Yakadewa.

Sementara Ondoafi Ormu Necheibi, Gustaf Udolof Toto mengatakan, masyarakat mendapat pinang dari PNG dengan cara barter dengan kebutuhan pokok semisal gula, kopi, mie instan dan lainnya. Namun ketika akan dibawa ke Jayapura, di tengah laut mama-mama dicegat dan pinang mereka disita.

“Namun ada yang ganjil ketika pinang disita. Misalnya mama-mama bawa 14 karung pinang, yang ditangkap hanya tujuh karung. Kalau mau ambil pinang yang disita itu mama-mama disuruh ketemu komandan. Kami bisa memastikan itu marinir dari speedboat dan seragam yang mereka pakai,” kata Gustaf Udolof Toto. (*)

loading...

Sebelumnya

Pembunuh Theys jadi KaBAIS : Air susu Papua dibalas air tuba oleh Jokowi

Selanjutnya

Beberapa partai diyakini bakal membelot dalam Pilkada Kota Jayapura

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]bloidjubi.com

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe