PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Jurnalis ditangkap, AJI Jayapura minta polisi tidak represif
  • Senin, 19 Desember 2016 — 19:39
  • 2238x views

Jurnalis ditangkap, AJI Jayapura minta polisi tidak represif

“Polisi bawa saya tadi ke Polresta. Mereka ambil keterangan baru suruh saya pulang,” ungkap Tebay kepada Jubi, Senin (19/12/2016).
Wens Tebay, kontributor majalah Asasi menunjukkan lehernya yang dicekik oleh polisi - Jubi/Benny Mawel
Benny Mawel
frans@tabloidjubi.com
Editor : Kyoshi Rasiey

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Wens Tebay, kontributor majalah Asasi yang diterbitkan ELSAM Jakarta di Jayapura ditahan Polres Kota Jayapura bersama dengan demonstran Komite Nasional Papua Barat (KNPB) saat aksi penolakan Trikora, Senin (19/12/2016)

“Polisi bawa saya tadi ke Polresta. Mereka ambil keterangan baru suruh saya pulang,” ungkap Tebay kepada Jubi, Senin (19/12/2016).

Kata dia, ia ditangkap saat meliput polisi melakukan penghadangan, pemukulan dan penangkapan demonstran KNPB di Expo Waena.

“Saya ambil-ambil gambar. Polisi datang tanya saya, saya tunjukan kartu pers. Mereka tidak percaya, tarik dan cekik leher saya ini hingga saya tidak bisa bernafas,” ujarnya sambil memperagakan bagaimana dia di cekik.

“Ada yang tarik baju saya. Dada saya ini memar. Kena kuku atau gelang anggota, saya tidak tahu,” ungkapnya sambil menunjukan dadanya yang memar.

Lanjut dia, polisi menaikan dia bergabung dengan sembilan demonstran yang sudah ada dalam truk polisi. Truk itu, kemudian membawanya ke Polresta.

“Saya dipulangkan setelah ambil keterangan dan demonstran masih ditahan di halaman Polresta,” ujarnya.

Di lokasi berbeda, Sekretariat Pusat KNPB di Kamp Vietnam, Arnold Belau, Pimpinan Redaksi suarapapua.com, dan Zelly Ariane dari tabloidjubi.com dilarang oleh polisi memotret aksi polisi yang melakukan pemeriksaan kantor Sekretariat pusat KNPB di Kamp Wolker, Waena, Kota Jayapura.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen Kota Jayapura, Everth Jomoulena mengharapkan pihak kepolisian tidak terlalu reaktif terhadap kerja-kerja pers di Papua.   

“Pihak kepolsian tidak perlu represif, bisa membedakan mana wartawan dan masa,” ujarnya kepada Jubi.

Supaya antisipasi kejadian salah kaprah, Everth harapkan kepada jurnalis tidak terlalu dekat dengan masa aksi. Jurnalis mesti mengambil posisi yang tepat supaya tidak kena imbas.    

“Kita harapkan wartawan bisa mengambil jarak dari masa aksi. Kalau polisi terlanjur emosi memang sulit. Tetapi dalam keadaan emosi juga polisi mesti membedakan,” ujarnya.

Kepada polisi, Everth harapkan tidak terlalu mencurigai wartawan.

“Wartawan tidak boleh dicurigai begitu saja karena kedekatan dengan kelompok tertentu. Polisi juga tidak bisa larang kerja-kerja pers di ruang publik. Jadi polisi tidak bisa larang melarang,” tegasnya. (*)

Sebelumnya

Massa aksi 19 Desember ditangkap, legislator sebut polisi ingkar janji

Selanjutnya

Protes Hari Trikora, 405 orang ditangkap di empat wilayah Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua