Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Pengurus Rusunawa Uncen: Kapolresta Jayapura bohong
  • Rabu, 21 Desember 2016 — 06:30
  • 1688x views

Pengurus Rusunawa Uncen: Kapolresta Jayapura bohong

“Penipuan Polisi dan TNI kepada penghuni itu mereka bilang ada surat ijin dan sudah berkoordinasi dengan lembaga. Surat pemberitahuan dan ijin sudah dikeluarkan oleh lembaga ke Polresta Jayapura. Tapi setelah kami telusuri kepastian dan kebenaran suratnya ternyata di lembaga tidak keluarkan surat untuk penyisiran. Itu kan artinya penipuan yang dilakukan oleh polisi,” ujar Elius lagi.
Para pengurus Asrama Rusunawa saat bertandang ke Redaksi Jubi untuk mengklarifikasi pemberitaan beberapa media massa tentang insiden 19 Desember di Waena - Jubi/Kyoshi Rasiey
Zely Ariane
zely.ariane@tabloidjubi.com
Editor : Kyoshi Rasiey

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Perwakilan pengurus Asrama Rusunawa Universitas Cenderawasih menegaskan bahwa Kapolresta Jayapura Kota, AKBP Marison Tober H Sirait telah berbohong karena mengaku sudah mendapat izin dan berkoordinasi dengan pihak kelembagaan Universitas Cenderawasih saat melakukan penyisiran dan penyitaan barang-barang di Asrama Rusunawa.

Kapolresta Jayapura juga dituduh berbohong terkait penemuan ganja dan alat-alat tajam yang seakan-akan berada di kawasan Rusunawa dan dijadikan alasan untuk melakukan penyisiran di kawasan itu.

“Kami dari pihak Badan Pengurus Rusunawa kira Bapak Kapolres itu bohong. Dia bohong karena kedapatan alat itu (benda tajam dan ganja) bukan di Rusunawa melainkan di (asrama) Unit 3 dan 4 situ. Artinya (sebelum ke Rusunawa) mereka punya bukti sudah pegang to, tapi yang sampai ke publik seakan-akan terjadi di Asrama Rusunawa,” demikian keterangan Elius Wenda, Wakil Ketua Asrama Rusunawa, di Kantor Redaksi Jubi, Selasa (20/12/2016).

Elius juga mengungkapkan bahwa kebohongan berikut yang dilakukan Kapolresta terkait surat ijin penyisiran Asrama. Pihak kepolisian mengklaim sudah berkoordinasi dengan pihak lembaga Universitas serta kantongi ijin dari lembaga.

“Penipuan Polisi dan TNI kepada penghuni itu mereka bilang ada surat ijin dan sudah berkoordinasi dengan lembaga. Surat pemberitahuan dan ijin sudah dikeluarkan oleh lembaga ke Polresta Jayapura. Tapi setelah kami telusuri kepastian dan kebenaran suratnya ternyata di lembaga tidak keluarkan surat untuk penyisiran. Itu kan artinya penipuan yang dilakukan oleh polisi,” ujar Elius lagi.

Elius Wenda mengaku, menurut keterangan Kapolresta Jayapura kepada dirinya, pihak kepolisian sudah mengantongi ijin tersebut dua hari sebelumnya dan berkoordinasi dengan Pembantu Rektor III Universitas Cenderawasih, Fredik Sokoy. Namun hal itu tidak mendapat konfirmasi dari pihat Rektorat ketika dihubungi oleh Elius melalui sambungan telpon.

“Saat Kapolresta bilang ada ijin, lalu kami komunikasi melalui telpon dengan Bapak PR III juga Bapak Rektor, mereka bilang tidak tahu soal surat (ijin) itu. Sempat polisi mengaku mengirim SMS ke Bapak PR 3, katanya dua hari sebelum penyisiran polisi sudah mengantongi ijin, tapi ternyata tidak, mereka masuk menyisir tanpa surat ijin, baru kemudian mereka bilang sudah ada surat ijin. Ini kan bahasa tipuan yang dikeluarkan oleh anggota polisi,” ungkap Elius.

Elius juga mengatakan ketika Pembantu Rektor III tiba di lokasi Rusunawa untuk melakukan pembicaraan sekitar pukul 13.45 siang, pihak Kapolresta tampak menghindar.

“Setelah Bapak Fredi Sokoy PR III tiba dari Sentani ke Asrama Rusunawa sekitar pukul 1.45 menit. Kami pertanyakan apakah surat pemberitahuan penyisiran ini benar (dihadapan Kapolresta Jayapura dan PR III)? Nah, saat itu Bapak Kapolres malah menghindar dan langsung masuk kendaraan,” ujar Elius.

Dilansir Jubi sebelumnya (19/12), Pembantu Rektor 3 Uncen, Fredik Sokoy yang hadir saat itu menegaskan bahwa ‘operasi’ yang dilakukan aparat bukan perintah dari kampus.

"Operasi yang dilakukan ini bukan perintah dari Kampus, tetapi murni dari pihak kepolisian dalam rangka kriminalitas yang terjadi di Kota Jayapura,” ujarnya. 

Aksi damai, dalih penyisiran

Dari keterangan Elius Wenda, penyisiran yang dilakukan oleh aparat gabungan dimulai pukul 8 pagi di sekitar areal Rusunawa, Perumnas 3 Uncen Waena, dari ‘Vietnam’ yang menjadi lokasi Sekretariat Komite Nasional Papua Barat (KNPB), ke lokasi asrama Unit Satu hingga Enam hingga terakhir di Rusunawa.

“Mereka sweeping motor, ganja, dan bilang temukan alat tajam. Gabungan anggota TNI dan Polisi tiba di Asrama Rusunawa itu antara pukul 10 sampai 10.30. Setelah mereka tiba langsung sweeping motor. Yang ada surat-surat lengkap itu lima motor, yang tidak ada surat-surat itu belasan motor. Mereka ambil di Asrama Rusunawa jam 1 siang,” ujar Elius.

Elius juga menekankan bahwa pengambilan barang (bukti) bukan terjadi di Asrama Rusunawa, melainkan di asrama unit 3-5, yang ada di luar areal Rusunawa. Barang bukti berupa ganja menurut dia ditemukan di  Unit 3-4 di dalam kamar sekaligus bersama pihak yang memilikinya.

Terkait hal itu, Agustinus Mosib, Ketua Asrama Rusunawa yang mengaku berbicara dengan Kapolresta saat polisi berusaha masuk asrama, juga menegaskan bahwa penyisiran Rusunawa seperti dipolitisasi oleh aparat keamanan bersamaan dengan aksi damai yang dilakukan KNPB.

“Kami mau sampaikan pada polisi, sweeping polisi itu hanya memanfaatkan momen karena momen kemarin itu pas demonstrasi damai. Setelah amankan massa aksi lalu mereka semena-mena masuk sweeping di setiap asrama hingga rusunawa,” kata Masib.

Pengurus asrama Rusunawa berterima kasih pada Lembaga Universitas, dalam hal ini PR III yang sudah hadir dan memberikan keterangan jelas di lapangan hingga masalah bisa selesai.

Agustinus Rumaropen, senior asrama yang ikut memberi keterangan di Kantor Redaksi Jubi turut menyatakan kekecewaannya atas peristiwa penyisiran yang terah mencoreng nama Rusunawa tersebut.

“Terhadap kejadian kemarin khususnya pada tindakan Kapolresta Jayapura, dan gabungan TNI melakukan penyisiran dengan memanfaatkan momen aksi damai, membubarkan massa aksi dan juga masuk ke asrama untuk melakukan penyisiran dan penyitaan motor, kami nyatakan sangat kecewa,” tegasnya.

Dia mengimbau pihak lembaga Universitas agar dapat mencegah terulang kembali peristiwa tersebut dengan memperkuat koordinasi.

Secara khusus dia juga menyoroti pemberitaan media yang terkesan provokatif menyudutkan Rusunawa dan areal sekitarnya.

“Kepada media-media yang tidak hadir di lapangan jangan membuat berita yang tidak sesuai fakta di lapangan,” tegas Agustinus Rumaropen.

Dalih penyitaan

Sebelumnya kepada Jubi Kepala Bidang Humas Polda Papua, AKBP Ahmad Mustopa Kamal menjelaskan bahwa penangkapan dilakukan karena ditemukan benda-benda illegal di Rusunawa. Ia menjelaskan, saat demo berlangsung, beberapa orang lari dan masuk ke Rusunawa.

‘Setelah kordinasi dengan pengurus asrama, kami lakukan pemeriksaan di Rusunawa. Kami temukan Sepeda motor tanpa STNK, ganja, atribut Papua Merdeka dan KNPB, senjata tajam seperti panah dan parang, amunisi tiga butir dan laptop,” jelas Kabid Humas.

Beberapa orang yang ditangkap ini, menurutnya akan diperiksa dan jika tidak ditemukan bukti kepemilikan barang-barang tersebut akan dilepas.

Dilansir CNN Indonesia Selasa (20/12) Ahmad Kamal juga mengatakan bahwa anggota KNPB juga berbasis di lokasi tersebut, dan memaksa menggelar aksi peringatan Trikora. "Kami mencegah mereka karena ada indikasi tidak baik," kata Kamal.

Terkait hal itu, Sekretaris Umum KNPB, Ones Suhuniap menegaskan penyesalannya terkait penyisiran dan penyitaan yang dilakukan aparat. Menurut dia, hal itu hanya menunjukkan aparat tidak mengerti hukumnya sendiri.

“Kalau mau tangkap massa tinggal ditangkap dan dibawa, kenapa bisa masuk melakukan penyisiran, merusak barang-barang dan menyita? Aksi ini kan aksi damai, tidak ada kejahatan, tidak ada pembunuhan, tidak ada kasus di asrama-asrama, pakai hukum apa ini aparat kepolisian, ini bertentangan dengan UU mereka,” ujar Ones.

Agus Kossay, Ketua I KNPB kepada Jubi Selasa (20/12) juga menegaskan bahwa pihaknya tidak bertanggungjawab terhadap segala barang-barang yang disita polisi diluar Sekretariat KNPB yang terletak di Vietnam, dekat asrama Unit 6. Pihaknya juga menolak dikait-kaitkan dengan penemuan barang-barang tertentu yang kemungkinan akan diarahkan untuk kriminalisasi KNPB.

“Kami tidak bertanggungjawab terhadap barang-barang seperti motor, atau hal-hal lain yang ditemukan aparat di luar sekretariat kami, aparat tidak boleh menggunakan itu sebagai alibi untuk memukul kami. Fakta di lapangan berbicara lain,” tegas Agus.

Ones Suhuniap juga membenarkan hal tersebut, sambil menambahkan bahwa sekretariat KNPB tidak memiliki motor. “Kami para pengurus tidak memiliki motor di sekretariat ini,” kata dia.

Seperti informasi dari Badan Pengurus KNPB, barang-barang yang disita dari sekretariat mereka antara lain: mixer 2 buah, amplifier  2 buah,  laptop 1 buah dan charger, speker active, charger laptop Acer-mouse dan flashdisk 1 unit, buku catatan, HP Samsung 1 Unit, buku sejarah 3, wireless mike 1 set, lampu 3 buah, dokumen 1 map, whiteboard, foto dan bingkai foto Bucktar Tabuni serta kapak dan parang masing-masing 1 unit. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

DPRP : Fatwa MUI tidak berlaku di Papua

Selanjutnya

Legislator menduga ada yang disembunyikan dibalik rekomendasi HAM PBB

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe