Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Setelah dihajar dan ditangkap polisi, Edi dan Jack tidak langsung dibawa ke RS
  • Jumat, 23 Desember 2016 — 10:44
  • 2813x views

Setelah dihajar dan ditangkap polisi, Edi dan Jack tidak langsung dibawa ke RS

“Mereka datang lalu langsung dijemur, padahal Edi tu dalam keadaan patah tulang dan tampak lemas sekali,” demikian menurut Jack Mote korban lainnya yang ditemui Jubi di tempat yang sama.
Jack Mote (kiri) dan Edi Yalak (kanan) - Jubi/Zely Ariane
Zely Ariane
zely.ariane@tabloidjubi.com
Editor :

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Edi Yalak (22) dan Jack Mote (22), dua anak muda dari setidaknya 14 korban pemukulan aparat keamanan pada aksi protes Trikora 19 Desember lalu di titik Ekspo Waena, Jayapura, mengalami luka paling parah dan ikut ditahan di Polresta Jayapura bersama 37 orang lainnya. Edi mengalami patah tangan dan kepala bocor, sedangkan Jack juga dipaksa kehilangan beberapa rambut gimbalnya hingga kepala bocor.

Edi dan Jack yang ditemui Jubi di Perumnas III, Waena Rabu (21/12/2016) menceritakan pengalaman mereka saat dihajar, ditangkap hingga bisa tiba di RS Dok 2, Jayapura 19 Desember malam lalu.

Baca Larang aksi damai 19 Desember, Kepolisian mulai penangkapan sejak malam

“Saya waktu itu memimpin massa hingga titik Ekspo. Di sana sudah ramai TNI, Polri dan mobil dalmas mungkin sekitar 20, ada mobil tank juga enam unit. Saya suruh massa duduk, dan saya mau negosiasi dengan kepolisian, tetapi brimob dong datang lalu bubarkan kami tanpa tanya-tanya lagi,” ujar Edy sambil sedikit meringis memegang lengan kanannya yang patah.

Menurut Edi, aparat tersebut mengatakan peserta aksi KNPB tidak boleh melakukan orasi di situ, “mereka bilang kam tidak boleh orasi-orasi disini, tidak boleh bikin aksi dan harus dipulangkan, karena katanya tidak ada surat masuk di Polresta. Padahal kita sudah kasi masuk surat dan pemberitahuan sebelumnya,” ungkap Edi.

Hari itu tidak seperti biasa, karena polisi yang sebelumnya mau bernegosiasi, ketika Brimob dan TNI datang tidak lagi beri ruang bicara, “mereka langsung sasar untuk bubarkan. Saat itu saya dengar ada perintah: Edi yang harus ditangkap, dibawa, pukul saja, bawa ke Polresta, begitu yang saya dengar sambil saya tetap coba negosiasi,” ungkap Edi lagi.

Baca Protes Hari Trikora, 405 orang ditangkap di empat wilayah Papua

Edi Yalak saat dibawa ke RSUD Dok II

 

Menurut kesaksian Edi, aparat keamanan pertama-tama memukulnya dengan tameng. “Saya sempat tahan, tidak rasa sakit. Ada 4 aparat keroyok saya, pukul kepala sampai bocor dua titik dan bengkak di tiga titik. Mereka juga tusuk dengan tameng di dada. Lalu sebelum kasih naik ke truk itu, mereka tarik dan pukul dengan popor senjata saya punya tangan sampai patah tulang (lengan kanan), baru dong tarik saya sampai mobil dalmas.”

Di saat penangkapan itu, lanjut Edi, dirinya melihat Wens Tebay, jurnalis untuk terbitan Asasi Elsam dan peneliti ELsham Papua, ikut ditarik. “Saat itu saya ditarik bersama dua kaka perempuan, bapa satu dan satu jurnalis (Wens Tebay), dia dapat tangkap juga karena mau pele saya, kameranya dong ambil, lalu dibawa truk dalmas.”

Baca Jurnalis ditangkap, AJI Jayapura minta polisi tidak represif

Lalu Edi dan romobongan dibawa ke Polresta sekitar pukul 11.00 dan tiba sekitar pukul 12.00. Di sana sudah ada rombongan teman-temannya yang lebih dulu ditangkap dari Perumnas 3 Waena. Mereka dibiarkan berjam-jam di halaman.

“Mereka datang lalu langsung dijemur, padahal Edi tu dalam keadaan patah tulang dan tampak lemas sekali,” demikian menurut Jack Mote korban lainnya yang ditemui Jubi di tempat yang sama.

Jack Mote dihajar pada saat aksi damai hendak dimulai di Perumans III Waena, tepat di depan gerbang pintu masuk Sekretariat KNPB dekat asrama Unit 5 dan 6 Waena Jayapura.

“Saya lihat Hosea Yeimo (Koordinator aksi di Perumnas III) ditarik dan ditangkap. Karena saya bagian militan (keamanan KNPB) jadi saya ikut bantu menahan kawan-kawan. Saya ikut palang agar mereka tidak dibawa, tapi mereka (aparat) tarik saya kesana kemari. Rambut saya dipegang, ditarik keras, tapi saya masih peluk teman,” ungkap Jack yang terpaksa kehilangan dua rambut gimbalnya yang ditarik aparat hingga putus.

“Saya dipukul dengan sasaran di kaki, tiga pukulan kena di perut, itu bikin saya lambung sakit dan sesak napas lagi. Sebelum kasi naik panser mereka pukul saya pakai tongkat polisi itu, pukul lagi dibekas rambut yang dong su tarik itu, langsung darah picah keluar lagi karena dong toki di tempat bekas tarik rambut,” ujar Jack sambil tampak sedih perlihatkan dua rambut gimbalnya yang putus.

Baca Satu massa aksi 19 Desember yang ditangkap alami patah tulang

Rombongannya dibawa ke Polresta lebih dulu sebelum rombongan Edi dari titik Ekspo tiba.

Sakitnya, sampai mau pingsan

Menurut Edi dan Jack, mereka dibiarkan di halaman Polresta tanpa perawatan segera. Dari sekitar jam 12 siang sampai sekitar pukul 7 malam baru mereka dibawa ke RS Dok II, itupun atas permintaan pihak KNPB sendiri yang sedang ditahan.

Jack Mote menunjukkan kepalanya yang bocor - Jubi/Zely Ariane

“Saat itu ulu hati saya sudah sakit sekali dan saya sesak, tidak bisa bergerak lagi. Itu sudah saya mungkin hampir pingsan. Jack juga sama, kami hampir tidak tahu lagi sadar ka tidak,” ungkap Edi. 

Menurut dia saat itulah Korlap Umum dan seorang Kakak perempuan anggota militan KNPB melakukan negosiasi dengan polisi. “Mereka lakukan itu karena tidak tahan melihat kondisi kami, biar kami bisa dibawa ke RS. Sebetulnya kami mau jalan sendiri tidak perlu polisi, tapi sulit juga,” kata Edi.

Menurut Jack, mereka baru dibawa ke RS Dok II setelah seorang Ibu militan KNPB Numbay bertanggung jawab terhadap mereka berdua.

“Terpaksa ada ibu satu dia bertanggung jawab untuk bawa kami dua dan dia minta polisi agar bawa kami dua ke Dok 2. Bersamaan dengan Polresta dorang lalu kami dikawal ke RS. Ibu juga ajak 4 lagi kawan-kawan,” ungkap Jack.

Menurut dia bila tidak ada upaya dari teman-temannya agar mereka berdua dibawa ke Rumah Sakit, pihak kepolisian membiarkan saja.

“Edi tu tangannya sampe sangat menderita sampe tidak bisa bikin apa-apa. Kami berusaha bertahan tapi tidak bisa, kami sesak napas. Masih saja mereka bawa kami dan menyuruh kami buat pernyataan bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas kitong punya penderitaan dan agar kitong tidak adakan kegiatan lagi begitu,” ujar Jack.

Baca Penangkapan 19 Desember, dua orang terancam pidana 20 tahun

Sesampai di RS Umum Jayapura Dok II, mereka dirujuk ke Radiologi sambil tetap dikawal. Menurut Edi, setelah pemeriksaan selesai mereka memilih untuk pulang dan tidak dirawat di Rumah Sakit, walau aparat kepolisinya meminta mereka tinggal di RS dan biaya ditanggung kepolisian.

“Pas kita istirahat untuk foto Ronsen itu dong bilang ini kitong yang bayar jadi berobat saja, setelah sembuh baru kalian pulang. Tapi kita bilang tidak, kami harus pulang ke rumah. Jadi kita tinggalkan Dok 2 sekitar jam 1 malam. Tiba di Honai jam 2,” ujar Edi.

Pihak kepolisian membiarkan mereka pulang sambil membawa kembali lima orang anggota KNPB yang menemani mereka di RS, ke tahanan Polresta.

Baca DPRP : Polisi arogan, dimana demokrasi?

Malam 19 Desember itu sempat beredar kabar bahwa salah seorang korban yang dibawa ke RS Dok 2 itu dalam keadaan koma, namun Kapolres Jayapura membantahnya.

Polisi menghadang massa aksi di Kompleks Ekspo Waena, Jayapura - Jubi/Zely Ariane

Kapolresta Jayapura Kota, AKBP Marison Tober Sirait via pesan singkat kepada Jubi menyatakan tak benar jika ada informasi yang menyebut ada massa aksi yang koma akibat terkena pukulan ketika akan diamankan.

“Tidak ada yang koma. Sakit ditangannya. Kami sudah obati di rumah sakit,” kata Tober membalas pesan singkat Jubi, Senin (19/12) malam.

Warpo Wetipo, Ketua Diplomasi KNPB, yang saat itu ikut mendampingi, mengatakan aparat keamanan hendak membawa mereka ke RS Bhayangkara, namun KNPB tidak setuju. Dia mengarahkan pengobatan ke RS Umum Jayapura karena ragu dengan rujukan ke Bayangkara.

Baca Pengurus Rusunawa Uncen: Kapolresta Jayapura bohong

“Sejumlah pegalaman membuat kami tidak nyaman rekan kami dirujuk ke Bayangkara. Orang Papua, apa lagi aktivis yang masuk ke rumah sakit itu tidak ada jaminan. Nyawa aktivitis terancam, jadi kami memilih ke rumah sakit yang agak netral,” tegasnya.

Kami tidak akan balas dendam

Jack dan Edi saat ini sedang mendapat perawatan di tempat yang mereka sebut Honai di Perumnas II Waena dengan  kondisi yang tampak membaik. Lengan kanan Edi dibungkus kain di dalamnya dibalut dedaunan. Dia memilih perawatan sesuai tradisi. Lengannya tampak sedikit terputar, dan lurus kaku.

“Sakit sekali Kaka, tadi dong pijat, sekarang sedang tunggu ada satu Bapa lagi bisa tangani. Tapi lebih baik disini, karena sa pu perasaan lebih tenang bersama teman-teman,” ujar Edi.

Jack yang saat itu juga bersama Edi mengaku lega walau kepalanya belum sembuh, dan dia terpaksa kehilangan dua tumpuk rambut gimbal yang dia banggakan.

Baca Pasal makar prematur, KNPB minta Hosea Yeimo dan Ismael Alua dibebaskan

“Saya tidak ada sikap untuk balas dendam ke negara. Dalam kita punya perjuangan kita melakukan hal ini dalam keputusan sadar.  Kami tidak ada tindakan balik, yang penting kami keluar harus secara damai dan tidak terpaksa, tidak atas paksaan bahwa kami seakan-akan berbuat sesuatu (yang melanggar),” ungkap Jack saat berdialog dengan polisi di RS sesaat sebelum mereka dibolehkan pulang.

“Kami tidak mau ada yang membatasi kita punya kegiatan atau agenda, maka kami tidak akan tandatangan dan kalau tidak dibebaskan maka biarlah kembalikan kami ke Polresta lagi dan biarkan kami menderita di sana,” ujarnya kepada polisi  waktu itu RS. “Lalu polisi bilang biar, ‘kalian harus pulang karena kondisi makin tidak baik’”.

Saat ini wajah Jack dan Edi masih beristirahat, tidak ada takut di wajah mereka. Rasa sakit tampak ditahan sambil bercanda dengan sesama temannya di Honai itu.

“Sekarang perasaan setelah pulang, bertemu teman-teman kembali, ada rasa kelegaan, apalagi teman-teman sudah bisa keluar dari Polres. Tapi ketika kawan-kawan belum keluar ada sesuatu yang terasa tertinggal begitu,” kata Jack lirih.(*)

*Laporan dibuat oleh Zely Ariane dengan kontribusi Benny Mawel

loading...

Sebelumnya

Remisi terhadap napi di Papua jangan pilih kasih

Selanjutnya

Inilah lima kejahatan paling menonjol di Papua selama 2016

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe