TUTUP
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Ibukota
  3. Tiga tantangan intoleransi yang dihadapi Polri
  • Kamis, 05 Januari 2017 — 14:46
  • 1745x views

Tiga tantangan intoleransi yang dihadapi Polri

Kabag Mitra Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Kombes Pol Awi Setiyono mengatakan terdapat tiga tantangan terkait kasus intoleransi yang dihadapi Polri saat ini.
Kabag Mitra Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Kombes Pol Awi Setiyono. Polri hadapi tiga tantangan terkait kasus intoleransi. –tempo.co
ANTARA
[email protected]
Editor : Lina Nursanty

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jakarta, Jubi – Kabag Mitra Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Kombes Pol Awi Setiyono mengatakan terdapat tiga tantangan terkait kasus intoleransi yang dihadapi Polri saat ini.

Pertama, kata Awi, terkait dengan permasalahan internal yang terjadi di dalam agama itu sendiri bahwasannya masih ada aliran-aliran yang mempermasalahkan perbedaan-perbedaan. "Misalnya dalam agama Islam terkait dengan penafsiran Al Quran maupun hadits. Fakta di lapangan adanya aliran-aliran keagamaan yang memfitnahkan, mengharamkan, dan mengkafirkan pihak-pihak atau aliran-aliran lain karena perbedaan penafsiran itu sehingga yang terjadi menjadikan suatu masalah," tutur Awi saat Bincang Perdamaian "Potret Toleransi di Indonesia Tahun 2017" di Jakarta, Kamis (5/1/2017).

Kedua, Awi mengatakan adanya aksi penolakan pendirian tempat ibadah dan memang juga patut dicermati. "Beberapa tempat misalnya di suatu daerah di Jawa yang mayoritas Islam. Mungkin di situ beberapa kasus yang kami dapatkan misalnya penolakan pendirian gereja dalam mayoritas Islam. Tetapi di sisi lain misalnya di Manado yang mayoritas Nasrani di sana juga terjadi penolakan pendirian masjid ini kan juga menjadi masalah bangsa yang patut dicermati," katanya.

Terakhir, Awi menyinggung soal adanya kegamangan para petugas kepolisian di lapangan soal penindakan aksi-aksi intoleransi. "Kami tidak malu-malu menyampaikan ini karena memang demikian yang terjadi, pimpinan kami sudah menyatakan tindak tegas tidak ada 'sweeping-sweeping' lagi," ucap Awi.

Menurutnya, setiap tahun Kapolri sudah menyampaikan soal tindak tegas "sweeping" atau penyisiran namun pada pelaksanaannya mulai dari pergantian pimpinan, Kepala Satuan, Kapolda hingga Kapolres masih terjadi tidak kesamaan persepsi cara penindakan di lapangan sehingga menimbulkan kegamangan.

"Kejadian di Surabaya ada 'sweeping' malah dikawal, harusnya bubarkan tindak tegas, makanya kemarin diapresiasi terkait tindakan Kapolres Sragen (AKPB Cahyo Widiarso) yang mengusir kelompok-kelompok yang intoleransi (razia atribut natal di toko swalayan)," ujarnya. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Selama 2016, MA berhentikan dua hakim

Selanjutnya

Fadli Zon dan Fahri Hamzah nilai FPI boleh dilatih bela negara

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe
wso shell IndoXploit shell wso shell hacklink hacklink satış hacklink wso shell evden eve nakliyat istanbul nakliyat evden eve nakliyat istanbul evden eve nakliyat evden eve nakliyat istanbul nakliyat