PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pengalaman
  3. Calon penginjil dorong gerobak untuk biaya kuliah
  • Jumat, 06 Januari 2017 — 20:15
  • 4577x views

Calon penginjil dorong gerobak untuk biaya kuliah

“Saya dorong gerobak dari tahun 2015, setiap pulang kuliah saya istirahat baru saya dorong gerobak di pasar sini untuk uang tambah-tambah pakai fotokopi. Kalau hari Sabtu itu saya dorong gerobak full dari pagi sampai sore,” kata Kius Esma, saat ditemui Jubi di Pasar Pharaa Sentani, pada Jumat (6/1/2017).
Kius Esma usai menurunkan muatan barang yang diangkutnya di Pasar Pharaa Sentani. - Jubi /Yance Wenda
Yance Wenda
yan_yance@ymail.com
Editor : Yuliana Lantipo

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Sentani, Jubi - Untuk menambah kebutuhan kuliah dan kebutuhan sehari–hari, pemuda asal Kabupaten Yahukimo ini hampir setiap hari menyempatkan waktunya seusai kuliah untuk mendorong gerobak di pasar Pharaa Sentani, Kabupaten Jayapura.

“Saya dorong gerobak dari tahun 2015, setiap pulang kuliah saya istirahat baru saya dorong gerobak di pasar sini untuk uang tambah-tambah pakai fotokopi. Kalau hari Sabtu itu saya dorong gerobak full dari pagi sampai sore,” kata Kius Esma, saat ditemui Jubi di Pasar Pharaa Sentani, pada Jumat (6/1/2017).

Kius Esma merupakan mahasiswa semester empat jurusan penginjilan di Sekolah Tinggi Teologia Walter Post Jayapura di Pos 7 Sentani.   

Bagi sebagian besar orang, pekerjaan mendorong gerobak bukanlah pekerjaan yang gampang. Ia membutuhkan kesabaran dan keuletan yang tinggi meski pendapatannya terbilang kecil. Hal itu sudah dilakukan Kius setahun lebih dengan memperoleh rata-rata Rp50 ribu per hari.

“Kalau saya dorong gerobak setengah hari itu dapat Rp50 ribu. Kalau dari pagi sampai sore Rp200-300 ribu. Tapi kadang-kadang ada orang yang kenal dan pakai jasa kami itu biasanya mereka kasih lebih," ujar Kius Esma.

Sebagai anak yang sudah tidak menerima bantuan materil dari orang tuanya, profesi Kius ini menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi semua kebutuhannya.

"Hasilnya saya gunakan untuk kebutuhan kuliah dan kebutuhan sehari-hari, untuk transport dan uang makan,” lagi katanya. Kius mengatakan dengan modal gerobak yang dibelinya seharga Rp400 ribu.  

Orang-orang yang bekerja menjual jasa sebagai pendorong gerobak di pasar yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2014 itu datang dari beragam daerah. Papua dan non Papua.

Salah satunya adalah La Agus. Pendorong gerobak asal Baubau, Sulawesi Tenggara, ini mengatakan, sudah dua tahun ia menjalankan pekerjaan tersebut.   

“Saya daftar Rp100 ribu dan tulis nomor Rp100 ribu. Kami bayar pajak gerobak ke mandor yang biasa jalan tagih itu Rp15 ribu per minggu,” ucapnya.

La Agus mengaku tetap bersabar menjadi pendorong gerobak walau pendapatan tidak besar. “Pendapatan yang untuk satu hari itu tidak tentu tergantung berapa banyak yang kita angkat dan dari hasil dorong saya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari,“ kata La Agus. (*)

Sebelumnya

Meraup keuntungan dari menjual bunga di Hari Natal

Selanjutnya

7 tahun berjualan kelinci untuk menghidupi keluarga

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua