Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Pemberian marga pada orang non Marind, itu bentuk pelecehan terhadap adat
  • Jumat, 06 Januari 2017 — 20:35
  • 1976x views

Pemberian marga pada orang non Marind, itu bentuk pelecehan terhadap adat

“Saya berharap ini menjadi perhatian bagi kita semua orang Marind di waktu-waktu mendatang,” pintanya.
Pertemuan tokoh adat dan intelektual Marind di Rumah Makan Sederhana beberapa hari lalu - Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Angela Flassy

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Merauke, Jubi - Seorang intelektual muda Marind, Harry Ndiken meminta kepada masyarakat Marind agar tidak memberikan marga kepada siapa saja, karena itu adalah bentuk pelecehan terhadap adat.

“Saya berani bicara demikian, karena sejumlah orang, telah menggunakan marga milik orang Marind. Padahal, sangat sakral dan tak serta merta diberikan begitu saja,” tegas Harry saat ditemui Jubi Jumat (6/1/2017).

Bahkan, lanjut dia, ada orang sengaja kawin masuk dalam suatu marga Marind dan ujung-ujungnya menguasai tanah dan dijual lagi untuk memperkaya diri sendiri. “Memang sudah ada beberapa kejadian baik di Muting maupun dalam wilayah kota,” tegasnya.

Dikatakan, ketulusan orang Marind, telah dimanfaatkan segelintir orang dengan mendapatkan marga dan hanya ingin memperkaya diri. 

“Saya berharap ini menjadi perhatian bagi kita semua orang Marind di waktu-waktu mendatang,” pintanya.

Untuk pemberian marga Marind kepada non orang Malind, dibicarakan terlebih dahulu, apakah pantas atau tidak. Lalu harus dengan upacara adat terlebih dahulu dengan mengundang semua marga dari empat mata penjuru angin. Disitulah, mereka ikut menyaksikan prosesinya. Karena pemberian marga tersebut sangat sakral.

“Jadi, tidak serta merta diberikan begitu saja. Saya juga minta kepada Lembaga Masyarakat Adat (LMA) agar ikut melakukan kontrol terhadap penggunaan marga,” ujarnya.

Intinya, lanjut dia, pemberian marga tidak boleh hanya atas persetujuan satu keluarga. Harus melalui proses panjang.  
Anggota DPRD Kabupaten Merauke, Hendrikus Hengky Ndiken yang juga salah seorang putra Marind menegaskan, nama marga yang dimiliki orang Marind, tak bisa diberikan kepada orang lain.

“Pemberian marga kepada orang lain, perlu melalui suatu proses panjang dan tak serta merta diberikan begitu saja,” kata dia. (*)

loading...

Sebelumnya

Masyarakat Buti dingatkan tidak jual tanah lagi

Selanjutnya

Ndiken : Jangan rampas hak kesulungan orang Marind

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Jumat, 11 Mei 2018 WP | 6364x views
Domberai |— Sabtu, 12 Mei 2018 WP | 2461x views
Polhukam |— Jumat, 18 Mei 2018 WP | 2331x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe