Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Infrastruktur
  3. Perkembangan pembangunan tantangan OAP
  • Senin, 09 Januari 2017 — 15:57
  • 1287x views

Perkembangan pembangunan tantangan OAP

"Ini tantangan terhadap orang asli Papua. Misalnya dulu pedagang asli Papua butuh pasar permanen untuk memasarkan hasil pertanian, perkebunan, ikan hasil tangkapan dan buruan mereka," kata Decky kepada Jubi, Senin (9/1/2017).
Pasar Pharaa, fasilitas ekonomi yang dibangun dan menjadi tantangan OAP untuk eksis di bidang perekonomian - Jubi/Engelbert Wally
Arjuna Pademme
harjuna@tabloidjubi.com
Editor : Kyoshi Rasiey

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Legislator Papua, Decky Nawipa menyatakan, perkembangan pembangunan merupakan tantangan terhadap Orang Asli Papua (OAP) untuk tetap eksis diatas tanahnya sendiri.

Hal itu dikatakan Decky menyikapi pesatnya pembangunan di Papua kini, terutama di daerah perkotaan yang mengakibatkan banyak orang asli Papua terpinggirkan.

"Ini tantangan terhadap orang asli Papua. Misalnya dulu pedagang asli Papua butuh pasar permanen untuk memasarkan hasil pertanian, perkebunan, ikan hasil tangkapan dan buruan mereka. Kini pasar permanen sudah ada namun area yang mereka tempati selama ini untuk berkebun dan bertani lokasinya semakin sempit," kata Decky kepada Jubi, Senin (9/1/2017).

Menurut anggota Fraksi Gerindra DPR Papua itu, beberapa waktu lalu, sejumlah mama-mama Papua pedagang sayur dan umbi-umbian mengeluh lantaran areal perkebunan mereka di sejumlah lokasi pinggiran Kota Jayapura mulai hilang karena dialih fungsikan untuk pembangunan berbagai infrastruktur.

"Saya pikir, kian pesatnya pembangunan memang menjadi tantangan orang asli Papua. Pemerintah dan pihak terkait lainnya perlu memikirkan bagaimana agar orang asli Papua yang selama ini menghidupi keluarganya dengan bertani dan berkebun tak kehilangan lahannya," ucapnya.

Katanya, pemerintah dan pihak terkait lainnya mungkin perlu memikirkan adanya satu lokasi yang dikhususnya untuk wilayah pertanian dan perkebunan. Dengan begitu orang asli Papua yang selama ini menekuni bidang tersebut bisa tetap eksis.

"Tapi saya berharap orang asli Papua tetap berjuang agar bisa bersaing diera perkembangan zaman kini. Jangan gampang menyerah. Kita harus terus berupaya meningkatkan kapasitas kita agar tak terpinggirkan di tanah sendiri. Pihak pemerintah juga perlu mencari solusi. Jangan berdiam diri," katanya.

Sementara anggota Komisi I DPR Papua bidang Pemerintahan, Pertahanan, Politik, Hukum dan HAM, Emus Gwijangge mengingatkan orang asli Papua agar tak terus menjual tanah ulayatnya kepada para investor.

"Kalau tanah ulayat habis dijual kepada investor untuk dipakai membangun mall, ruko dan lainnya, generasi berikut bagaimana? Ini yang harus dipikirkan. Jangan sampai setelah tanah habis terjual, pemilik ulayat jadi penonton," kata Emus.

Ia lebih setuju jika tanah ulayat digunakan investor dengan sistem sewa pakai dalam jangka waktu tertentu. Dengan begitu kata politisi Demokrat tersebut, status tanah ulayat akan tetap menjadi hak milik pemilik ulayat. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Kata PDAM Jayapura, kerusakan pipa sebabkan kelangkaan air

Selanjutnya

Pemprov Papua perlu menyiapkan sarana pendukung ekspor

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe