Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Bali & Nusa Tenggara
  3. Ratusan siswa diliburkan karena sekolah mereka disegel
  • Jumat, 13 Januari 2017 — 13:17
  • 1745x views

Ratusan siswa diliburkan karena sekolah mereka disegel

Lebih dari 200 siswa SDN dan SMPN III Kupang Barat di Desa Oematnunu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur terpaksa diliburkan akibat sekolah mereka disegel oleh sejumlah warga yang mengaku sebagai pemilik lahan.
Ilustrasi. Lebih dari 200 siswa SDN dan SMPN III Kupang Barat di Desa Oematnunu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur terpaksa diliburkan akibat sekolah mereka disegel. –tempo.co
ANTARA
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Lina Nursanty

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Kupang, Jubi – Lebih dari 200 siswa SDN dan SMPN III Kupang Barat di Desa Oematnunu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur terpaksa diliburkan akibat sekolah mereka disegel oleh sejumlah warga yang mengaku sebagai pemilik lahan.

"Anak-anak tidak bisa mengikuti pelajaran sejak Kamis (12/1), karena sekolah mereka disegel oleh warga yang mengaku sebagai pemilik lahan," kata Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Kupang Imanuel Buan ketika dihubungi dari Kupang, Jumat (13/1).

Untuk mengatasi masalah tersebut, kata dia, pihaknya telah mengutus tiga orang pengawas ke lokasi tersebut untuk berdialog dengan warga yang mengakui sebagai pemilik lahan tersebut.

Ia mengatakan kasus penyegelan yang dilakukan oleh sejumlah warga yang mengaku pemilik lahan di atas lokasi dibangunnya SD Negeri dan SMP Negeri III Kupang Barat di Desa Oematnunu tersebut telah didengarnya sejak Kamis (12/1).

Ia menambahkan akibat kegiatan penyegelan tersebut, 200-an siswa SD dan SMPN III Kupang Barat tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar, sebagaimana mestinya. "Anak-anak terpaksa diliburkan, karena kondisinya tidak memungkinkan," katanya menambahkan.

Titus Buifena, salah seorang tokoh masyarakat Desa Oematnunu yang juga pemilik lahan tersebut mengatakan penyegelan itu dilakukan karena kepala sekolah setempat memberhentikan salah seorang anak mereka yang berstatus sebagai pegawai tata usaha.

Sebelum sekolah tersebut dibangun pada tahun 1998, kata Titus, sudah ada perjanjian antara pemerintah daerah setempat dengan pemilik lahan untuk mempekerjakan anak mereka sebagai penjaga sekolah dan tata usaha.

Namun dalam perjalanan, lanjut Titus, kepala sekolah di kedua sekolah tersebut mengeluarkan surat keputusan yang berisi pemecatan seorang tata usaha dan dua orang penjaga sekolah yang selama ini hanya dibayar Rp150.000/bulan selama hampir 10 tahun. (*)

loading...

Sebelumnya

Polresta Denpasar ringkus tiga warga negara Peru pembobol ATM

Selanjutnya

Korban banjir Bima telah kembali dari pengungsian

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe