Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pengalaman
  3. Kisah guru yang memilih mengajar di pedalaman
  • Jumat, 23 September 2016 — 09:50
  • 2363x views

Kisah guru yang memilih mengajar di pedalaman

“Karena di kampung mereka membutuhkan pendidikan seperti di kota juga dan butuh perhatian guru untuk mendidik, memotivasi, dan menasehati, menamkan karakter budi pekerti kepada mereka, dan seorang guru menjadi orang tua bagi anak-anak,” katanya menyebut alasan kepada Jubi.
Murid-murid di SD Yayasan Pendidikan Guru Indonesia (YPPGI) Nambume, Distrik Prime, Kabupaten Lanny Jaya. – Dok. Naomi Nifu untuk Jubi.
Yance Wenda
yan_yance@ymail.com
Editor : Syofiardi

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Sentani, Jubi - Mengabdi menjadi seorang guru di pedalaman bukalah hal yang biasa, apalagi bagi perempuan muda. Itulah yang dilakukan Naomi Nifu, 24 tahun.

Gadis asal Kupang Amarasi, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini memutuskan mengabdi sebagai guru di SD Yayasan Pendidikan Guru Indonesia (YPPGI) Nambume, Distrik Prime, Kabupaten Lanny Jaya.

“Karena di kampung mereka membutuhkan pendidikan seperti di kota juga dan butuh perhatian guru untuk mendidik, memotivasi, dan menasehati, menamkan karakter budi pekerti kepada mereka, dan seorang guru menjadi orang tua bagi anak-anak,” katanya menyebut alasan kepada Jubi.

Naomi mengatakan, bukan suatu kebetulan ia akhirnya mengajar di sekolah sekarang. Tapi semua itu rencana Tuhan untuk hidupnya

Ketika mengajar pertama kali, katanya, agak sulit beradaptasi dengan lingkungan anak-anak. Karena belum pernah ia alami sebelumnya.

“Seperti penampilan mereka, pakaian yang mereka pakai di rumah itu yang mereka pakai ke sekolah dan tanpa alas kaki seperti sepatu maupun sandal,” ujarnya.

Naomi mengaku di sekolah ia bisa belajar banyak dari murid-muridnya. Dekat dengan mereka, merangkul mereka, sehingga mereka tidak minder, tapi dekat dengan guru. Ia sangat senang dapat melakukan itu.

“Suka duka yang saya alami dalam mengajar, pertama kali Agustus mengajar di kelas 3 dan 4 itu siswa saya hanya berjumlah 5 orang saja,” kata Naomi yang berkomunikasi dengan Jubi melalui pesan Facebook, Rabu (21/9/2016).

Namun karena kehadiran guru baru, jumlah siswa menjadi 21 orang, dan sekarang 29 orang semua siswa. Namun yang bisa membaca baru tiga orang saja. Ada beberapa siswa yang tidak mengenal huruf.

SD Nambume memiliki 8 guru, 3 guru ASN termasuk kepala sekolah, 3 guru kontrak, dan 2 guru lokal. 

Kepala SD Nambume Distrik Pirime Ganolik Wenda mengatakan, kesulitan di sekolahnya karena hanya memiliki tiga ruang kelas. Akibatnya satu kelas disekat menjadi dua ruangan. Ia telah mengirim proposal penambahan ruangan, namun belum ditanggapi Dinas Pendidikan. (*)

loading...

Sebelumnya

Letinus Murib, menjadi Satpam dan mengojek demi biaya kuliah

Selanjutnya

Penjual bunga di pemakaman Abepura, sehari bisa dapat 200 ribu

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe