PapuaMart
close
Banner iklan disini
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Meepago
  3. Sweeping aparat keamanan diduga makan korban, ribuan warga Dogiyai datangi Kantor DPRD
  • Selasa, 17 Januari 2017 — 12:43
  • 1475x views

Sweeping aparat keamanan diduga makan korban, ribuan warga Dogiyai datangi Kantor DPRD

Selain dua warga korban meninggal, banyak warga Dogiyai yang dipukul tanpa alasan yang jelas. Semua barang bawaaan di dalam tas dan noken pun disita. Terlebih, alat tajam seperti parang, pisau, silet, dan alat tajam yang lain.
Masyarakat Dogiyai yang merasa tak nyaman dengan aksi sweeping aparat keamanan melakukan demonstrasi ke Kantor DPRD kabupaten Dogiyai - Jubi/Philemon Keiya
Philemon Keiya
keiyapilemon@gmail.com
Editor : Zely Ariane

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jubi, Dogiyai – Sweeping yang dilakukan gabungan aparat keamanan belakangan ini di Dogiyai telah memakan korban. Sedikitnya dua warga sipil Dogiyai, Otis Pekei (21) dan Melkias Dogomo (33) menjadi korban sweeping. Hal itu memaksa ribuan warga turun jalan dan datangi ke kantor DPRD Dogiyai, Senin (16/01/2017).

Ketua Solidaritas Peduli Budaya Rakyat Mee Dogiyai, Benediktus Goo kepada Jubi di Dogiyai, menyebutkan dua warga tersebut meninggal setelah disiksa gabungan aparat keamanan. Selain dua warga korban meninggal, belasan warga Dogiyai menjadi korban pemukulan dari aparat keamanan gabungan yang lakukan sweeping.

Goo mengatakan, Otis Pekei disiksa polisi, Selasa (10/01) mulai dari Kali Tuka hingga tiba di Polsek Moanemani. Saat itu, Otis Pekei sedang menuju ke Nabire. Namun, ia ditahan di Jembatan Kali Tuka. Pekei disiksa selama ditahan. Pekei dikeluarkan dari Polsek Moanemani dalam keadaan tak bernyawa sekitar pukul 15.00 WIT dan dikembalikan ke keluarganya.

Sementara Melkias Dogomo dikabarkan meninggal usai ditahan polisi. Ia ditahan di Moanemani, 23 Desember lalu. Selama  ditahan beberapa jam di Polsek Moanemani,  Polisi diduga memasukkan pangkal senjata tempat keluar peluru ke dalam mulutnya. Sore harinya dia dipulangkan ke rumah. Sampai di rumah, Melkias Dogomo jatuh sakit hingga meninggal 7 Januari lalu.

Selain dua warga korban meninggal, banyak warga Dogiyai yang dipukul tanpa alasan yang jelas. Semua barang bawaaan di dalam tas dan noken pun disita. Terlebih, alat tajam seperti parang, pisau, silet, dan alat tajam yang lain.

“Aparat keamanan juga menyita pakaian, noken, gelang dan topi yang bermotif Bintang Kejora,” katanya.

Kata Goo, dalam sweeping tersebut juga, polisi meminta kepada warga yang rambutnya gimbal panjang dan jenggot panjang untuk dipangkas. Warga Dogiyai merasa terganggu. Karena, setiap hari gabungan aparat keamanan lakukan sweeping.

Mestinya, gabungan aparat keamanan datang ke Dogiyai untuk menjaga pengamanan Pilkada. Pada kenyataannya, sweeping yang dilakukan sudah tidak jelas. Karena sweeping untuk alat tajam masih jalan.

“Harusnya sweeping yang dilakukan untuk pengamanan Pilkada dan sweeping SIM/STNK untuk semua kendaraan yang ada di Dogiyai,” tegas Goo.

Tambah Goo, gabungan aparat keamanan yang didatangkan di Dogiyai sesuai UU PKPU hanya untuk pengamanan Pilkada yang akan digelar pada bulan Februari mendatang.

Ia menilai, sweeping yang dilakukan itu salah sasaran. Harusnya, menurut dia, amankan para penjual dan pengedar minuman keras yang hingga saat ini masih marak. Padahal selain minuman keras, terkait Pilkada, banyak Baliho yang sudah ditanam para calon Bupati masih berhamburan.

“Harusnya Polisi amankan yang berkaitan dengan Pilkada saja. Bukan datang ke Dogiyai lalu mau menakuti warga Dogiyai yang tidak salah sama sekali,” kesalnya.

Lanjutnya, “Sweeping yang dilakukan ini sweeping tanpa arah. Karena, yang kami tahu selama ini, jika polisi sweeping berarti yang berkaitan dengan kendaraan, seperti SIM dan STNK.”

Dukung aksi demo warga

Kepala Distrik Dogiyai, Willem Tagi mengatakan, pihaknya mendukung aksi yang dilakukan. Pasalnya, apa yang selama ini dilakukan gabungan aparat keamanan di Dogiyai sangat meresahkan warga Dogiyai.

“Kami beberapa kepala distrik di Dogiyai menyambut baik aksi hari ini. Jangan ada orang dari luar Dogiyai yang datang mengadu domba warga saya,” tegas Tagi.

Ia meminta kepada aparat keamanan jangan lagi lakukan sweeping yang meresahkan warga Dogiyai. Karena, kata dia, selama ini warga Dogiyai hidup dalam rukun dan damai.

“Jika keamanan datang ke Dogiyai untuk pengamanan Pilkada, jalankan tugas itu saja. Jangan ada gerakan tambahan di Dogiyai,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Distrik Kamuu Timur, Aleks Pigai. Kata Pigai, jika kedepan ada sweeping dari aparat keamanan yang berlebihan, pihaknya bersama ribuan warga Dogiyai tetap akan lakukan aksi untuk menolak semua aksi yang dilakukan.

“Kami sangat sayangkan sikap dari pihak keamanan yang berlebihan ini,” tuturnya.

Ia meminta kepada gabungan aparat keamanan yang sudah ditugaskan di Dogiyai untuk ditarik kembali. Bisa ditugaskan kembali sebelum dua minggu Pilkada digelar pada  bulan Februari mendatang.

Ditempat yang sama, Sekertaris Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Dogiyai, Aleks Kogaa menegaskan, agar aparat kepolisian jangan bersikap semena-mena kepada warga di Dogiyai.

“Selama ini, banyak warga Dogiyai yang selalu dipukul. Ada pertumpahan darah juga. Dengan tegas kami tolak semua tindakan dari polisi ini,” tegas Kogaa.

Dogiyai, jelas Kogaa, merupakan salah satu daerah teraman yang ada di Papua. Selama ini, warga Dogiyai hidup dalam aman dan damai. Namun, situasi Dogiyai berubah sejak lima bulan lalu. Maka itu ia meminta agar semua pihak, termasuk pihak keamanan untuk menjaga keamanan di Dogiyai secara bersama.

Anggota DPR Dogiyai, Yeskel Anou mengatakan pihaknya pernah lakukan kordinasi dengan pihak Polres Nabire. Anou berjanji pihaknya akan kordinasi dengan Polres Nabire, Polsek Moanemani di Dogiyai, pihak eksekutif.

“Setelah kordinasi, kami akan kembali undang kordinator Solidaritas untuk  audiensi dengan pihak keamanan,” janjinya.

Dalam aksi ke kantor DPRD Dogiyai itu, dari 20 anggota DPRD, hanya tiga anggota saja yang menerima ribuan warga Dogiyai yang lakukan aksi damai.

Benediktus Goo menyesalkan pemerintah daerah dan DPR Dogiyai yang tidak peduli.  

Buktinya, kata Goo, sejauh ini tidak ada aksi nyata yang dilakukan oleh Pemda dan DPRD. Padahal, selama ini aksi sweeping berlebihan yang dilakukan gabungan aparat keamanan ini terjadi didepan mata.

“Kami menilai, selama ini Pemda dan DPR Dogiyai menjadi budaknya aparat keamanan yang ada di Dogiyai,” tegasnya.

Ia menegaskan, jika dalam beberapa waktu kedepan aksi sweeping dilakukan lagi, pihaknya akan kembali turun ke jalan dan datangi lagi kantor DPR dengan jumlah massa yang jauh lebih banyak.

Dari pantauan Jubi, Ribuan warga Dogiyai terlebih dulu kumpul di lapangan sepak bola Ekemanida. Sekitar jam 11.15 WIT, massa aksi mulai long march ke kantor DPR Dogiyai. Tiba di kantor DPR, massa aksi mulai sampaikan orasi dengan tertib dan massa aksi mulai bubarkan diri.

Sebelumnya, Kepala Kepolisian Resor Nabire, Ajun Komisaris Besar Polisi Semmy Ronny Thabaa, membantah bahwa razia dan sweeping yang dilakukan aparat gabungan telah meresahkan masyarakat, apalagi hingga jatuh korban.

“Tidak betul ada korban luka, tolong korbannya siapa, dimana, dan kejadian kapan sampaikan pada kami detilnya. Kami lakukan itu untuk berikan rasa aman, seharusnya masyarakan terima kasih.” ujar Thabaa kepada Jubi melalui sambungan telpon Jumat (13/1/2017).

Baca Sweeping aparat gabungan mulai meresahkan, masyarakat Dogiyai akan datangi DPRD

Menurut Thabaa sweeping tersebut adalah program nasional terkait pengamanan pilkada sebagai tindakan pencegahan. Oleh sebab itu, menurut dia, operasi dilakukan setiap hari.(*)

Sebelumnya

Dana Desa kurang transparan, warga Kampung Deta aksi di kantor BPMK Paniai

Selanjutnya

Warisan leluhur, ternak babi harus dipertahankan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua