Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Penkes
  3. PGRI nilai program SM-3T kurang efektif
  • Jumat, 23 September 2016 — 10:20
  • 502x views

PGRI nilai program SM-3T kurang efektif

Selain itu, jelas dia, program SM-3T terlalu berlebihan, lantaran sudah pasti fasilitas termasuk honor para sarjana mengajar itu, akan diberikan perhatian secara sungguh-sungguh. Sebenarnya, kalau guru-guru di Kabupaten Merauke diberi perhatian baik termasuk insentif dan tunjangan lain, dipastikan mereka akan mengabdi dengan sungguh-sungguh di kampung.
Siswa-siswa SMP di Kimaam, Merauke - Jubi/Ans K
Ans K
Editor : Angela Flassy

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Merauke, Jubi - Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Merauke, Sergius Womsiwor menilai, program Sarjana Mengajar di daerah terluar, terjauh dan Terpencil (3T), dinilai kurang efektif, terutama dari sisi pembiayaan.

“Pada prinsipnya kita mendukung program pemerintah pusat itu. Hanya saja, kurang efektif dari sisi pembiayaan, padahal di setiap sekolah, dipastikan telah ada guru juga,” kata Sergius kepada Jubi Jumat (23/9/2016).

Selain itu, jelas dia, program  SM-3T terlalu berlebihan, lantaran sudah pasti fasilitas termasuk honor para sarjana mengajar itu, akan diberikan perhatian secara sungguh-sungguh.  Sebenarnya, kalau guru-guru di Kabupaten Merauke diberi perhatian baik termasuk insentif dan tunjangan lain, dipastikan mereka akan mengabdi dengan sungguh-sungguh di kampung.

Selama ini, menurut Sergius, banyak guru meninggalkan tugas lantaran kurang mendapatkan perhatian  sungguh-sungguh dari pemerintah. Ketika akan bertugas ke daerah pedalaman, harus mengeluarkan gaji.

“Nah, ini yang harus diperhatikan ke depan,” pintanya.

“Saya sependapat jika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke dibawah kepemimpinan Frederikus Gebze-Sularso, memberikan perhatian dengan baik kepada para guru di daerah pedalaman,” ungkapnya.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merauke, Moses Kaibu mengakui jika kegiatan belajar mengajar di daerah pedalaman, tak berjalan baik atau stagnan. Hal itu dikarenakan para guru lebih memilih tinggal di kota dengan alasan melanjutkan studi.

Kondisi seperti demikian, justru akan berdampak besar kepada anak-anak asli Papua di daerah pedalaman. Karena mereka tak mendapatkan kesempatan baik dalam pendidikan jika dibandingkan anak-anak lain dalam wilayah kota maupun pinggiran.

“Saya kira pemerintah harus cepat tanggap terhadap persoalan kekurangan tenaga guru di kampung-kampung. Dengan program sarjana mengajar, agar bisa dipetakan dengan baik. Dimana, memberikan prioritas  dengan penempatan guru-guru itu ke pedalaman,” pintanya. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Dipalang guru honorer, dua bulan SD dan SMP Siriwo, Nabire tak ada KBM

Selanjutnya

Dua Puskesmas di Kabupaten Jayapura disiapkan sebagai Puskesmas akreditasi

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe