Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Berita Papua
  3. Australia diduga ’terpaksa’ tahan Van Tonder saat aksi dukung West Papua di KBRI Canberra
  • Minggu, 29 Januari 2017 — 08:02
  • 2497x views

Australia diduga ’terpaksa’ tahan Van Tonder saat aksi dukung West Papua di KBRI Canberra

Para pemrotes yang ikut ke ruang persidangan bersolidaritas pada AJ, menduga Kepolisian Australia sedang berusaha menjaga hubungan dengan pemerintah Indonesia, dan penahanan tersebut adalah wujud “sogokan Australia pada Indonesia”.
Aksi solidaritas untuk West Papua di KBRI Canberra Jumat (27/1), satu orang ditangkap dan dikenai denda oleh Kepolisian Australia – JUBI/Lewis Prai Wellip facebook
Zely Ariane
zely.ariane@tabloidjubi.com
Editor :

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Seorang mahasiswa, Adrian 'AJ' Van Tonder (25) sempat ditahan 24 jam oleh Kepolisian di Canberra Australia karena bersikukuh melanjutkan aksi protes di depan KBRI Indonesia di Canberra, dan menolak memberi keterangan kepada polisi.

AJ adalah salah seorang dari sekitar 30an pemrotes Papua dan non Papua yang bersolidaritas mengecam pemerintah RI atas pelanggaran HAM yang terjadi di West Papua serta mendukung penentuan nasib sendiri Papua. Aksi solidaritas tersebut dilakukan Jum’at (27/1) sebagai bagian dari kampanye solidaritas untuk West Papua di berbagai kota di Australia.

Mereka dituduh mengganggu lalu lintas karena memblokade kendaraan yang hendak masuk ke KBRI Canberra. Para pemrotes melakukan aksi simbolik menggeletakkan diri dengan “bersimbah darah” di jalan depan kantor tersebut, sambil mengusung poster-poster dan spanduk protes atas pelanggaran HAM di Papua oleh militer Indonesia, pembebasan tahanan politik dan menuntut referendum.

“Ini adalah teaternya orang-orang yang dibunuh,” demikian keterangan pers kelompok solidaritas yang melakukan aksi ‘bergelimpangan di jalan” dengan noda-noda darah dari cat merah beserta beberapa nama tokoh-tokoh pro kemerdekaan West Papua yang mati terbunuh.

“Sekaranglah waktunya bagi pemerintah Indonesia dan Australia untuk menghentikan segala kerjasama militer dan mempertanggung jawabkan peran mereka dalam kejahatan HAM seperti Paniai Berdarah tahun 2014,” ujar Anthon Rumbiak, dalam keterangan persnya Sabtu (28/1/2017) salah seorang dari 43 yang mendapatkan suaka dari pemerintah Australia setelah meninggalkan Papua 11 tahun lalu.

Penahanan AJ

Tak hanya dikenakan denda sebesar AUD750'AJ', Van Tonder juga ditahan 1 X 24 jam. Pengacara Van Tonder, dilansir Sydney Morning Herald (SMH), Sabtu (28/1), mengatakan alasan penahanan kliennya ‘bukanlah hal yang biasa terjadi,” dan tidak jelas kenapa bisa terjadi, karena hukuman atas perbuataannya itu sebetulnya hanya setara denda, bukan penahanan.  

Hakim pengadilan. Robert Cook, yang menyidangkan AJ Sabtu pagi itu mengatakan penyelenggaraan protes adalah hak masyarakat.

“Anda berhak melakukannya karena itu memang hak anda, namun karena anda dianggap mengabaikan instruksi polisi (untuk pindah dari jalan), akhirnya anda membuat polisi tidak punya pilihan selain memaksa anda pindah,” ujarnya.

Namun para pemrotes yang ikut ke ruang persidangan bersolidaritas pada AJ, menduga Kepolisian Australia sedang berusaha menjaga hubungan dengan pemerintah Indonesia, dan penahanan tersebut adalah wujud “sogokan Australia pada Indonesia”.

“Polisi sedang mengambil hati Pemerintah Indonesia dan ingin tunjukkan mereka keras terhadap para aktivis pro West Papua,” kata Rebecca Langley. “Apalagi ada ketegangan antara Indonesia dan Australia baru-baru ini terkait kerjasama militer, sehingga mata Indonesia sedang terbuka”.

Namun penangkapan yang terjadi Jum’at lalu, seperti halnya pada penangkapan beberapa waktu lalu di Melbourne, tidak akan menyurutkan solidaritas dan kampanye untuk membela hak-hak orang Papua.

Baca juga Aktivis pro West Papua: Indonesia hiper-sensitif
Baca juga KJRI Melbourne didatangi pemrotes pro West Papua, satu orang ditahan

“Ini hanya bukti saja pemerintah Australia malah tunduk pada tekanan Indonesia, dan penangkapan ini hanya akan memicu lebih banyak dukungan dari masyarakat biasa di jalan-jalan,” ujar Ronny Kareni kepada SMH.

Kareni yang menjadi bagian dari gerakan solidaritas dan aktif di gerakan kebudayaan West Papua di Australia itu melakukan perjalanan dari Melbourne ke Canberra demi aksi protes Jumat lalu sekaligus pringati protes nasional “Hari Invasi” di Australia untuk membela hak-hak warga Aborijin Australia.

“Selasa nanti kami akan melanjutkan aksi solidaritas ke Darwin,” ujar Kareni kepada Jubi Minggu (29/1/2017).(*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Dana Pilkada Gubernur Papua berkisar Rp1,26 triliun

Selanjutnya

Kapolres Nabire minta masyarakat jangan bangun opini negatif

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe