PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Berita Papua
  3. Raih penghargaan Octovianus Pogau, Febriana: Ini bukan tentang saya
  • Kamis, 02 Februari 2017 — 07:42
  • 1062x views

Raih penghargaan Octovianus Pogau, Febriana: Ini bukan tentang saya

“Setelah beberapa waktu mewawancarai aktivis-aktivis Papua, saya jadi belajar banyak tentang sejarah mereka. Papua menghendaki kebebasan bicara, bicara atas nama rakyat mereka, memutuskan masa depan mereka sendiri, dan itu tidak bisa ditunda-tunda lagi” ujarnya.
Febriana Firdaus di sebuah aksi di depan Istana Negara Jakarta – Febriana Firdaus facebook
Zely Ariane
zely.ariane@tabloidjubi.com
Editor :

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi – “Pogau bukan saja nama penghargaan”, begitu ujar Febriana Firdaus di situs Medium pribadinya setelah menerima penghargaan jurnalisme Octovianus Pogau Selasa, (31/1/2017), tepat di hari kematian anak muda jurnalis pemberani asli Papua itu.

Dalam refleksinya, Febriana yang pernah bekerja di beberapa media terkemuka di Indonesia memandang penghargaan tersebut bukan tentang dirinya, melainkan tentang Octovianus Pogau sendiri.

“Saya yakin sebagian besar jurnalis tidak tahu siapa itu Pogau. Dan sedihnya, saya dulu juga begitu. Seperti mayoritas orang Indonesia lainnya yang lebih kenal Rizieq atau Trump, ketimbang figur seperti Pogau. Saya bagian dari masyarakat itu, yang sempat gagal paham dan mengakui minoritas di wilayah seperti Papua,” tulisnya di situs tersebut.

Namun itu tak berlangsung lama. Setelah Febri, panggilan akrabnya, berganti teman sejak 2014, dari yang semula hanya wartawan-wartawan sejawat lokal kini meluas ke lingkaran aktivis, narasumbernya, juga jurnalis asing.

“Saya percaya seorang jurnalis harus melibatkan diri dengan komunitas baru, tidak melulu diseputar komunitas yang saya sudah pahami,” kata dia yang mengaku berubah karena kata-kata nasihat yang berbunyi ‘libatkan dirimu dalam komunitas dan subjek yang kamu tulis’.

Setelah itu dia mulai berteman dengan aktivis-aktivis Papua. Dia bertemu mereka cukup banyak, baik yang asli Papua maupun yang bersolidaritas. “Tak masalah asal usulmu selama kamu mendukung orang Papua untuk mendapatkan kebebasan berekspresinya,” ujarnya.

Febri pertama bertemu dan menulis tentang Filep Karma untuk media Rappler. Sejak itu dia mengaku lebih memahami mengapa orang Papua selalu melawan Jakarta. “Karena Jakarta tidak pernah perlakukan mereka dengan adil,” ujarnya.

Tiga tulisannya untuk Rappler berturut-turut menyangkut kisah Nicko A Suhuniap, yang jadi sasaran kekerasan saat aksi protes di Bunderan HI Jakarta. “Saat itu semua media mainstream sibuk liput Papa Minta Saham, saya memilih mengunjungi NIcko di Rumah Sakit, tentu saja tidak ada wartawan yang ke sana.”

Lalu dia mulai memberanikan diri menulis tentang aktivis Papua lainnya yang meninggal tidak wajar di Papua: Robert Jitmau, ‘pahlawan pasar Mama Papua’. Dari sini Febri menjadi terhubung dengan penulis Papua lainnya seperti Lygia Judith Giay yang melalui tulisannya telah menantang Febri sedikit menuju kedalaman Papua.

Febri juga mengulas laporan Brisbane terkait Genosida Perlahan di Papua sejak 1969, saat banyak media memberitakannya tetapi tidak menjelaskan isi laporan tersebut dengan proporsional.

“Setelah beberapa waktu mewawancarai aktivis-aktivis Papua, saya jadi belajar banyak tentang sejarah mereka. Papua menghendaki kebebasan bicara, bicara atas nama rakyat mereka, memutuskan masa depan mereka sendiri, dan itu tidak bisa ditunda-tunda lagi” ujarnya.

Febri juga menuliskan bagaimana dari pengalamannya berinteraksi dan menulis tersebut dia sampai pada kesimpulan bahwa Papua tidak pernah secara sukarela bergabung dengan Indonesia. “Menurut orang Papua, Referendum 1969 itu mengingkari kesepakatan New York Agreement, karena dilakukan dibawah tekanan militer Indonesia”.

Itulah sebabnya, bagi Febri, penghargaan itu bukan tentang dirinya maupun tentang siapapun yang akan mendapatkannya di tahun-tahun mendatang. “Ini hanyalah peringan lembut buat kita melalui nama ‘Okto Pogau’. Dia itu lebih dari sekedar nama, dia adlaah jurnalis yang menunjukkan wajah pelanggaran HAM di Papua. Dan pertanyaannya: dimana media? Apakah jurnalis lainnya punya keberanian yang sama seperti Pogau?”

Bagi Febri, penghargaan ini adalah pengingat bagi jurnalis Indonesia akan pentingnya melaporkan kasus-kasus pelanggaran HAM, dan terlebih lagi memberi perhatian lebih banyak pada Papua.

“Saya merasa tidak tepat menerima penghargaan ini, siapa saya dibanding Pogau? Tapi di sisi lain, ini juga beri saya kepercayaan diri untuk terus bekerja melaporkan kasus-kasus pelanggaran HAM di seluruh Indonesia,” ujarnya.(*)

Sebelumnya

Pantai Teluk Youtefa dipenuhi sampah

Selanjutnya

ATM dibobol, sehari bank BTN ditutup

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua