PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
  1. Home
  2. Advertorial
  3. Giri Wijiantoro dikukuhkan menjadi anak adat Sentani
  • Kamis, 02 Februari 2017 — 18:04
  • 764x views

Giri Wijiantoro dikukuhkan menjadi anak adat Sentani

Mathius Awoitauw, calon bupati, mengatakan ritual yang sama pernah dilakukan pada periode pertama saat ia mencalonkan diri. Ritual ini dianggapnya penting, sehingga hal yang sama kembali dilakukannya bersama calon wakilnya itu.
Giri Wijiantoro ketika dikukuhkan menjadi anak adat Sentani. Jubi/Engel Wally
Engelbert Wally
engellenny2509@gmail.com
Editor : Yuliana Lantipo

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Sentani, Jubi –  Giri Wijiyantoro, Rabu (1/2/2017) secara resmi dikukuhkan menjadi anak adat Sentani oleh masyarakat adat Kampung Yokiwa, Distrik Sentani Timur. Pengukuhan ini sekaligus dilaksanakan dengan doa pengutusan bagi pasangan Mathius Awoitauw dan Giri Wijiyantoro (Mario) oleh pihak Gereja dan masyarakat adat untuk bersaing dalam pesta demokrasi Pilkada Kabupaten Jayapura 2017.

Kegiatan pengukuhan diawali dengan penjemputan dengan tarian Isolo (tarian di atas perahu) oleh masyarakat adat Sentani Timur dan kampung Yokiwa dari pantai Kalkote menuju kampung Yokiwa, guna melaksanakan upcara pengukuhannya.

Setiba di Kampung Yokiwa, Giri Wijiantoro disambut oleh Vinzen Mimitauw dan David Fieobetauw sebagai Abhu Afa (tua-tua adat), kemudian diserahkan kepada Daud Awoitauw sebagai Ondofolo untuk melaksanakan pengukuhan.

Pengukuhan tersebut ditandai dengan pemakaian topi bulu Kasuari, noken serta seikat busur dan anak panah. Kegiatan lalu dilanjutkan dengan doa pengutusan oleh pihak gereja.

Menurut Daud Awoitauw, pemberian gelar anak adat diberikan lantara Giri Wijiantoro berpasangan Mathius Awoitauw, calon bupati, yang juga putra asli kampung itu.

“Prinsip kami sebagai anak-anak adat dari pesisir danau Sentani adalah Nabheya emale nabhe memale (pergi dengan muka, kembali juga dengan muka). Prinsip ini sudah ditanamkan oleh nenek moyang kita sejak dulu sebagai simbol untuk memasuki pertempuran. Ketika kita pergi dengan muka yang terangkat, maka apapun hasilnya ketika kita kembali juga harus dengan muka yang terangkat,” jelas Daud di Kampung Yokiwa, Kamis (2/2/2017).

Mathius Awoitauw, calon bupati, mengatakan ritual yang sama pernah dilakukan pada periode pertama saat ia mencalonkan diri. Ritual ini dianggapnya penting, sehingga hal yang sama kembali dilakukannya bersama calon wakilnya itu.

“Saya dan pak Giri akan keuar dari kampung dengan membawa semua harapan masyarakat, oleh sebab itu doa dan dukungan seperti ini sangat penting untuk mengantar perjalanan kita dengan waktu yang tidak begitu lama lagi akan menuju Gunung Merah,” kata Mathius Awoitauw.

Giri Wijiantoro, menyatakan apresiasi dan bangga atas penerimaan dirinya menjadi salah satu anak adat dari kampung Yokiwa tersebut.

“Saya sangat bangga dengan pengukuhan yang dilakukan saat ini, bahwasannya saudara kita yang asli di sini masih bisa mengakui keberadaan saudaranya yang dari seberang. Selain itu juga, saya yang nasionalis ini tidak mempersoalkan soal perbedaan yang selama ini dibicarakan karena kita semua adalah anak bangsa yang harus berjalan bersama untuk mewujudkan semua cita-cita masyarakat kita secara bersama,” ucapnya. (*)

Sebelumnya

Tokoh intelektual dan adat berkomitmen menangkan pasangan Mario

Selanjutnya

DR. Ones Pahabol: Saya datang bukan untuk dilayani tapi melayani

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua