Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Infrastruktur
  3. Empat infrastruktur kelistrikan di Papua rampung akhir 2017
  • Kamis, 02 Februari 2017 — 19:06
  • 2298x views

Empat infrastruktur kelistrikan di Papua rampung akhir 2017

“Jika proses pembebasan lahan terkendala, seluruh proses pembangunan selanjutnya akan mundur karena pembangunan proyek baru bisa dimulai jika lahan sudah bebas,” katanya.
PLTA Orya di Genyem, Kabupaten Jayapura. Proyek PLN yang telah selesai 2016 – Dok. PLN
Sindung Sukoco
Editor : Syofiardi
LipSus
Features |
Jumat, 22 Juni 2018 | 21:50 WP
Features |
Jumat, 22 Juni 2018 | 16:20 WP
Features |
Kamis, 21 Juni 2018 | 17:48 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Portal Berita Tanah Papua No. 1 | Jubi ,

Jayapura, Jubi – General Manager PLN Unit Induk Pembangunan Papua Henrison Lumbanraja menargetkan empat infrastruktur kelistrikan di Papua rampung akhir 2017.

Empat infrastuktur tersebut, dua di antaranya Pusat Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) dan dua lainnya Gardu Induk (GI). Kedua PLTMG adalah PLTMG Mobile Power Plant (MPP) Jayapura (50 MW) dan PLTMG MPP Nabire (20 MW). Sedangkan dua, yaitu GI adalah Holtekamp dan GI Jayapura.

Henrison mengatakan, kendala sosial yang dihadapi umumnya terkait masalah tanah adat. Ini salah satu kendala terbesar dalam pembangunan proyek di Papua.

“Jika proses pembebasan lahan terkendala, seluruh proses pembangunan selanjutnya akan mundur karena pembangunan proyek baru bisa dimulai jika lahan sudah bebas,” katanya.

Ia mencontohkan, masalah sosial yang kerap terjadi adalah klaim kepemilikan tanah, pemalangan, dan lainnya yang menganggu proses pra-konstruksi dan saat konstruksi proyek.

Di sisi lain, lanjut Lumbanraja kendala teknis yang dihadapi umumnya bersifat kendala geografis dan aksesibilitas. Contoh kendala geografis adalah kontur tanah terlalu esktrim sehingga sulit untuk diakses.

Sedangkan permasalahan aksesibilitas ketiadaan akses jalan untuk transportasi menuju ke tempat proyek. Ia optimistis dapat menyelesaikan masalah sosial dan teknis.

“Diperlukan dukungan dari segala lapis pemangku kepentingan yang memiliki peran penting, misalnya pemerintah daerah berperan dalam proses perizinan dan masyarakat berperan besar dalam proses pembebasan lahan,”ujarnya.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Papua, Rosan Perkasa Roeslani, seperti dikutip Antara, berharap proyek kelistrikan yang mangkrak bisa dikerjakan kembali, karena kini Indonesia memerlukan pasokan daya tambahan untuk menunjang pembangunan.

Menurutnya, masuknya investor tergantung dengan fasilitas kelistrikan. Sedangkan investor, baik nasional maupu asing sangat diperlukan untuk memajukan perekonomian Indonesia. (*)

loading...

Sebelumnya

Landasan pacu bandara Yahukimo perlu diperpanjang

Selanjutnya

Panglima TNI: Pembangunan jalan Nduga-Wamena sudah selesai 284 kilometer

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe
wso shell IndoXploit shell wso shell hacklink hacklink satış hacklink wso shell evden eve nakliyat istanbul nakliyat evden eve nakliyat istanbul evden eve nakliyat evden eve nakliyat istanbul nakliyat