Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Walau diprotes gereja, Guam tetap sahkan uu pelecehan seksual
  • Minggu, 25 September 2016 — 18:04
  • 153x views

Walau diprotes gereja, Guam tetap sahkan uu pelecehan seksual

Kendati diprotes pihak gereja Katholik, Gubernur Guam, Eddie Calvo menandatangani undang-undang kontroversial yang akan memperbolehkan korban pelecehan seksual untuk menuntut pelaku dan institusi tempat pelaku bernaung kapan pun (berlaku surut). Calvo mengatakan dengan ditandatanganinya UU tersebut maka pintu keadilan akan terbuka bagi anak-anak yang menjadi korban pecehan seksual.
Gubernur Guam, Eddie Calvo. -- RNZI
RNZI
Editor : Lina Nursanty
LipSus
Features |
Sabtu, 24 Februari 2018 | 11:20 WP
Features |
Sabtu, 24 Februari 2018 | 11:03 WP
Features |
Kamis, 22 Februari 2018 | 22:57 WP
Features |
Kamis, 22 Februari 2018 | 07:49 WP

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

 

Guam, Jubi – Kendati diprotes pihak gereja Katholik, Gubernur Guam, Eddie Calvo menandatangani undang-undang kontroversial yang akan memperbolehkan korban pelecehan seksual untuk menuntut pelaku dan institusi tempat pelaku bernaung kapan pun (berlaku surut). Calvo mengatakan dengan ditandatanganinya UU tersebut maka pintu keadilan akan terbuka bagi anak-anak yang menjadi korban pecehan seksual.

Pekan lalu, Gereja Katolik Guam mengajukan petisi yang ditandatangani 4.000 warga untuk melawan rancangan undang-undang tersebut. Radio New Zealand yang mengutip Pacific News Center melaporkan bahwa pihak gereja telah mengirimkan permintaan kepada Gubernur Eddie Calvo untuk menggunakan hak vetonya membatalkan rancangan undang-undang tersebut.

“Meski ada itu (petisi), hari ini saya akan berdiri di pihak yang menderita,” ujar Eddie Calvo. 

Pengesahan UU tersebut disambut baik oleh para korban pelecehan seksual, para aktivis dan senator lokal Frank Blas yang menyampaikan bahwa fokus legislasi mereka adalah membela para korban dan memberikan mereka suara dan peluang mencari keadilan.

Uskup Savio Hon Tai Fai lalu meresponnya dengan cara menerbitkan pernyataan permintaan maaf kepada para korban pelecehan seksual yang dilakukan para rohaniawan dan pendeta Katholik di masa lalu. Selain itu, uskup juga berjanji akan memberikan bantuan dana bagi para korban.

Beberapa bulan lalu, Uskup Anthony Apuron dan beberapa orang rohaniawan gereja dituntut atas kasus pelecehan seksual yang mereka lakukan pada tahun 1950-an. Sang anak laki-laki yang menjadi korban kini telah menjadi warga lanjut usia dan baru berani berbicara mengungkap pelecehan seksual yang menimpanya semasa kecil.

Pihak gereja mengatakan bahwa jika RUU tersebut lolos, maka akan mengancam eksistensi gereja dan seluruh pelayanan gereja bisa terganggu. “Keuskupan menjelang kebangkrutan karena harus membiayai kasus-kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak. Masing-masing wilayah keuskupan berjuang untuk bertahan agar pelayanan dan sekolah-sekolah tetap buka,” ujar Jeff San Nicholas dari pihak gereja. (*)

loading...

Sebelumnya

Kepulauan solomon dilanda wabah meningitis

Selanjutnya

Negara-negara kepulauan kecil desak pbb perhatikan nasib mereka

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Berita Papua |— Sabtu, 17 Februari 2018 WP | 6689x views
Pasifik |— Rabu, 14 Februari 2018 WP | 3325x views
Penkes |— Rabu, 21 Februari 2018 WP | 2818x views
Lapago |— Jumat, 16 Februari 2018 WP | 2370x views
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe