Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. Perbedaan ideologi jangan dijadikan kepentingan politik
  • Sabtu, 25 Februari 2017 — 18:40
  • 894x views

Perbedaan ideologi jangan dijadikan kepentingan politik

"Kita tidak bisa menutupi kesalahan dengan uang. Pejabat selalu mencari pebenaran. Memberikan uang ke gereja dan rumah ibadah lainnya untuk dapat pujian. Cuci tangan. Ada perbedaan ideologi orang Papua. Ada yang mendukung Papua Merdeka dan ada yang tidak. Ini dijadikan alat politik. Jual di Jakarta untuk dapat jabatan," kata Pendeta Elopere disela-sela KKR
Ilustrasi KKR PHBC di Gedung Tongkonan, jalan Jeruk Nipis, Kotaraja, Kota Jayapura, Papua, Jumat (24/2/2017) - Jubi/Arjuna.
Arjuna Pademme
harjuna@tabloidjubi.com
Editor : Galuwo

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Jayapura, Jubi - Koordinator Papua New Guinea Hollines Bible Chuch (PHBC) di Indonesia, Pendeta Saul Elopere menyatakan, seseorang tak bisa menutupi kesalahannya dengan uang. Apa pun yang dilakukan seseorang akan ia pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Ia mencontohkan, terkadang ada pejabat korup atau pengusaha curang secara penampilan seakan bersih, tulus, tidak menyimpang dan suka menyumbang untuk pembangunan gereja dan rumah ibadah lainnya.

"Kita tidak bisa menutupi kesalahan dengan uang. Pejabat selalu mencari pebenaran. Memberikan uang ke gereja dan rumah ibadah lainnya untuk dapat pujian. Cuci tangan. Ada perbedaan ideologi orang Papua. Ada yang mendukung Papua Merdeka dan ada yang tidak. Ini dijadikan alat politik. Jual di Jakarta untuk dapat jabatan," kata Pendeta Elopere disela-sela KKR PHBC di Gedung Tongkonan, jalan Jeruk Nipis, Kotaraja, Kota Jayapura, Papua, Jumat (24/2/2017).

Ada juga pejabat kata pendeta Lopere yang kerap kali melanggar hukum. Ketika akan ditangkap ia mengklaim bagian dari Organisasi Papua Merdeka (OPM).

"Tentu itu tidak dibenarkan. Itu omong ksong. Tidak boleh lagi pimpinan gereja berdoa untuk orang yang akan bersaing dalam politik. Saya mantan pejabat. Pernah melakukan itu. Tapi saya menyadari itu salah," ujarnya.

Ia mengajak para pejabat di Papua meninggalkan berbagai kebiasaan buruk dan kembali kepada Tuhan. Karena harta dan jabatan hanya bersifat semu. Semua manusia akan meninggalkan dunia ini dan raganya kembali ke tanah.

Sementara pendeta John Inggibal mengatakan, banyak orang yang hanya mendengarkan firman, tapi tak melakukan firman itu dalam kehidupannya.

"Banyak yang mengaku percaya tapi tidak berbuat sesuai firman. Dengar firman tapi tidak tersimpan di dalam hati. Kita tidak akan menjadi kudus kalau kita tidak bertobat sungguh-sungguh," kata Pendeta Inggabal.

loading...

Sebelumnya

Pleno KPUD rusuh, TNI diperbantukan ke Intan Jaya

Selanjutnya

Rusuh, Polda Papua sarankan KPUD Intan Jaya tunda pleno

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe