close
Iklan Kominfo
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Domberai
  3. Lima kampung gelar sasi biota laut dan alat tangkap
  • Selasa, 28 Februari 2017 — 10:38
  • 1223x views

Lima kampung gelar sasi biota laut dan alat tangkap

Sasi adalah sistem dan upacara tradisional yang disepakati masyarakat adat untuk melarang penangkapan terhadap tiga biota tersebut selama jangka waktu tertentu. Misalnya tujuh bulan hingga satu atau dua tahun.
Prosesi sasi terhadap tiga jenis biota laut dan lima jenis alat tangkap yang dibawa oleh penari tradisional masyarakat Salawati Utara untuk diletakkan di meja sebelum ibadah dan sasi - Jubi/Florence Niken.
Florence Niken
Editor : Timoteus Marten

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Sorong, Jubi – Masyarakat lima kampung dan satu dusun di Pulau Senapan, Distrik Salawati Utara, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat menggelar sasi terhadap tiga jenis biota laut dan sasi permanen lima jenis alat tangkap tradisional, yang dirangkai dalam ibadah, Minggu (26/2/2017).

Tiga jenis biota laut itu adalah teripang, lobster dan lolak (tiram laut) dan lima alat tangkapnya, akar bore, bom, pukat harimau dan potasium  serta kompresor.

Sasi adalah sistem dan upacara tradisional yang disepakati masyarakat adat untuk melarang penangkapan terhadap tiga biota tersebut selama jangka waktu tertentu.  Misalnya tujuh bulan hingga satu atau dua tahun.

Sasi tidak hanya di laut, tetapi juga berlaku untuk kekayan alam lainnya di darat. Upacara sasi digelar atas dasar kemauan dan kesepakatan bersama untuk menjaga kekayaan laut, salah satu sumber kehidupan masyarakat setempat.

Pasalnya masyarakat makin kesulitan mencari ikan dan biota laut. Kawasan perairan Salawati Utara memang sasaran penangkapan ikan oleh nelayan luar dengan cara yang tidak ramah lingkungan.

“Kalau sekarang dorang mau bom ikan banyak cara seperti pakai pipa atau pakai buah pepaya. Tra bersuara, tapi tiba-tiba air laut meledak,” kata Kepala Adat Kampung Waidim, Timotiuus Parajal Fiatlain.

Ia mengharapkan agar gelar sasi dapat mengembalikan kondisi perikanan di distrik itu sehingga dapat dinikmati masyarakat lokal untuk kesejahteraannya.

Ketua Dewan Adat Suku Maya, Krist Thebu mengatakan, upaya perlindungan kekayaan alam melalui sasi perlu diapresiasi.

“Ada kesadaran untuk berupaya melindungi kawasan perairannya agar nanti masyarakat bisa merasakan langsung pemanfaatan sasi, manfaat sekarang dan nanti buat anak cucu,” kata Krist.

Ibadah sasi di Pulau Duf (Pulau Senapan) itu dilanjutkan dengan penguburan alat tangkap sebagai simbol lima jenis alat tangkap disasi permanen. Tiga biota laut secara simbolis juga dilarungkan ke laut untuk disasi masyarakat setempat. (*)

loading...

Sebelumnya

PPI Pomako butuh pasokan air bersih

Selanjutnya

Suku Ani palang kantor bupati Sorsel

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4944x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4318x views
Domberai |— Minggu, 21 Oktober 2018 WP | 3997x views
Otonomi |— Rabu, 17 Oktober 2018 WP | 2522x views
Polhukam |— Selasa, 16 Oktober 2018 WP | 2469x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe