Festival Film Papua
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
  1. Home
  2. Lapago
  3. Kabupaten terus didorong bangun regulasi perlindungan perempuan dan anak
  • Kamis, 02 Maret 2017 — 09:17
  • 1051x views

Kabupaten terus didorong bangun regulasi perlindungan perempuan dan anak

Hasil penelitian pada 2008 hingga 2010 di Papua tentang isu gender dan khusus bagi korban kekerasan perempuan dan anak, menemukan tujuh kabupaten/kota yang tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak sangat tinggi, termasuk Jayawijaya.
Sinkronisasi program USAID-Bersama dengan pemangku kepentingan di Gedung Sekolah Minggu GKI Betlehem Wamena. - Jubi/Islami
Islami Adisubrata
islami@tabloidjubi.com
Editor : Yuliana Lantipo

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Wamena, Jubi – Pemerintah daerah tingkat kabupaten di Provinsi Papua terus didorong membuat peraturan tentang perlindungan terhadap perempuan dan anak, kelompok yang dominan sebagai korban kekerasan.

Kepala Bidang Pengarusutamaan Gender (PUG) Bidang Ekonomi Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Papua, Josephin B Wandosa mengatakan regulasi perlindungan untuk tingkat provinsi telah diterbitkan dan meminta pemerintah kabupaten untuk mengeluarkan perda serupa untuk melindungi perempuan dan anak yang kerap menjadi korban kekerasan.

Pemerintah Papua telah menerbitkan peraturan daerah nomor 8 tahun 2013 tentang perlindungan korban kekerasan terhadap rumah tangga maupun peraturan gubernur tentang perlindungan perempuan dan anak di Papua.

Hasil penelitian pada 2008 hingga 2010 di Papua tentang isu gender dan khusus bagi korban kekerasan perempuan dan anak, menemukan tujuh kabupaten/kota yang tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak sangat tinggi, termasuk Jayawijaya.

“Apabila P2TP2A di daerah tidak berjalan maksimal, seluruhnya harus dievaluasi dan direvisi, apalagi kesulitan di Jayawijaya ini mereka yang jabatan fungsional yang duduk di P2TP2A atau para pejabat, karena pejabat tidak bisa terima korban dan hal ini juga provinsi dan USAID Bersama ingin mendorong merubah agar orang yang duduk di dalam ini orang teknis supaya bisa menangani korban,” kata Josephin kepada wartawan di Wamena, Sabtu (18/2/2017).

Pastor John Djonga, tokoh agama Pegunungan Tengah Papua menegaskan, nilai-nilai adat orang pegunungan yang selama ini disebut sebagai pewaris generasi, sesungguhnya sudah tidak ada.

Ia mempertanyakan, “nilai adat mana yang masih dibanggakan orang gunung? Sebab honai yang diklaim masih menyimpan nilai adat seperti merawat hubungan kekeluargaan antara suami istri, perdamaian dan hubungan antara sesama serta tidak bertindak anarkis tanpa sebab sudah tidak terawat,” katanya.

Menuturnya, “Honai yang diklaim sebagai tempat adat turun temurun itu kini penuh dengan rumput (tidak dirawat) dan menjadi dingin,” kata Pater John dalam diskusi sinkronisasi program USAID-Bersama yang berfokus pada Kekerasan Berbasis Gender (KBG), Jumat (17/2/2017).

Menurutnya penerapan hukum sering tidak berpihak pada korban dan tidak memberikan efek jera bagi pelaku kekerasan.

“Karena yang buat masalah teman dengan polisi yang mungkin teman minum (Miras) dan teman berjudi dan sebagainya, sehingga pelaku balik nuntut korban karena hubungan teman itu. Jadi hukum kita di negara ini saya bingung, sehingga semua soal harus kembali ke keluarga,” ungkap Pater. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Yakobus-Oscar minta masyarakat Dogiyai jaga persaudaraan

Selanjutnya

Wakil Bupati Yahukimo meresmikan Gereja GKI Rehobot Monin

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua