PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Saireri
  3. SUN bagi selebaran dan stiker keprihatinan
  • Senin, 06 Maret 2017 — 19:28
  • 992x views

SUN bagi selebaran dan stiker keprihatinan

“Kehadiran para investor sering mengabaikan hak-hak masyarakat adat. Sehingga timbul pikiran dari anak-anak Nabire, untuk mendirikan suatu wadah,” ujar Koordinator aksi Rubertino Hanebora.
Warga Nabire di pasar Karang Tumaristis sedang mendengarkan orasi dari Hanebora dan menerima selebaran yang dibagikan tim peduli Nifasi – Jubi/Titus Ruban
Titus Ruban
titus@tabloidjubi.com
Editor : Angela Flassy

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Nabire, Jubi – Sekitar 60 pemuda–pemudi yang tergabung dalam Solidaritas untuk Nifasi (SUN), Kamis (6/3/2017) melakukan aksi bagi-bagi selebaran dan stiker.

Aksi tersebut sebagai bentuk keprihatinan mereka terhadap persoalan yang terjadi di areal tambang emas Musairo kampung Nifasi Nabire.

“Kehadiran para investor sering mengabaikan hak-hak masyarakat adat. Sehingga timbul pikiran dari anak-anak Nabire, untuk mendirikan suatu wadah,” ujar Koordinator aksi Rubertino Hanebora.

Aksi dilaksanakan pada tiga titik yakni, terminal Oyehe, pasar Karang Tumaritis dan terminal Kalibobo Nabire.

“Tujuan aksi itu guna menyuarakan kondisi dan pengabaian-pengabaian yang dilakukan oleh investor, Pemerintah Daerah,  Pemerintah Provinsi dan Pemerintah pusat terhadap hak-hak masyarakat adat,” katanya.

Lanjut Hanebora, aksi itu lebih membantu, mendorong dan mengkampanyekan secara luas serta mendorong sebuah penyelesaian-penyelesaian  pihak terkait terhadap kondisi masyarakat adat di Nifasi.

“Kami ingin penyelesaian masalah adat yang benar-benar adil, baik masyarakat adat, investor serta yang berkepentingan. Kami akan menyuarakan  aspirasi masyarakat  sebagai wujud kepedulian kami,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat Nifasi tidak dibenturkan oleh para investor. “Kami berharap pemerintah tidak hanya memantau dan diam, tetapi melakukan pendataan-pendataan tentang konflik-konflik di kabupaten Nabire secara umum,” katanya.

Terkait konflik Nifasi, Robertino berharap pemerintah pro aktif. “Persoalan hari ini tidak terlepas dari pemerintah. Proses perizinan dari negara ini lewat pemerintah, jadi pemerintah juga bertanggung jawab tentang konflik di Nifasi,” tegasnya.

Maria, seorang warga Nifasi mengatakan selama ini pemkab Nabire dan instansi terkait di kabupaten itu hanya diam saja.

“Masyarakat adat selalu jadi  korban. Saya harap anak muda lebih berperan dalam mempertahankan harga diri dan martabat masyarakatnya. Ingat apa yang mereka lakukan ini adalah bukan untuk kita, tetapi untuk anak cucu kita,” katanya. (*)

Sebelumnya

Penghasilan ojek di Nabire Rp100 ribu per hari

Selanjutnya

PSU Yapen tetap jalan, “Tofan” desak suara Distrik Teluk Ampimoi dikembalikan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua