PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
  1. Home
  2. Jayapura Membangun
  3. Marthen, 12 tahun jadi tukang sampah dan pemulung
  • Selasa, 07 Maret 2017 — 19:52
  • 945x views

Marthen, 12 tahun jadi tukang sampah dan pemulung

Ia mengaku menggeluti pekerjaan ini dengan tekun dan senang. Tiap hari, selama 12 tahun, ia bangun pagi pukul 03.00 dinihari hingga pukul 06.00 WIT untuk mengangkut sampah.
Marthen Asso (45) dan istrinya, Helena (45) di tengah sampah-sampah yang diangkutnya. Kaleng bekas dijualnya untuk mendapatkan penghasilan tambahan – Jubi/Yance Wenda
Yance Wenda
yan_yance@ymail.com
Editor : Timoteus Marten

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Sentani,  Jubi – Menjadi tukang sapu (bersih) kota dan pemulung di Sentani, Jayapura sangat langka. Namun pria ini menekuninya selama 12 tahun. Namanya Marthen Asso, 45 tahun.

“Saya di TPA (tempat pembuangan akhir) kota Sentani sejak belum punya kumis sampai sekarang rambut putih. Kami tiga orang. Dua lainnya sudah meninggal,” katanya kepada Jubi di Sentani, Selasa (7/3/2017).

Ia mengaku menggeluti pekerjaan ini dengan tekun dan senang. Tiap hari, selama 12 tahun, ia bangun pagi pukul 03.00 dinihari hingga pukul 06.00 WIT untuk mengangkut sampah.
 
“Walau pendapatan dari hasil angkat sampah, atur-atur truk dan buang sampah di TPA, pendapatan pas-pasan. Kami siasati dengan jual kaleng bekas,” ujar bapak asal Jayawijaya ini.
 
Ia menuturkan, honor yang didapat dari pekerja di TPA hanya Rp 230.000. “Itu gaji beberapa tahun lalu dengan yang sekarang ini. Selain itu uang makan, minum,  pinang, rokok dan sabun itu kami dapatkan dari hasil jual kaleng bekas untuk satu hari,” katanya.
 
Sementara baja/besi tua dikumpulkan dan dijual untuk keperluan mendadak. Misalnya untuk keperluan gereja dan kedukaan. “Ini harganya mahal jadi kami simpan dan tidak langsung jual,” ujarnya.
 
Ia menceritakan, pekerjaan ini meski pendapatan pas-pasan, toh dilakoni dengan tekun dan bersemangat.
 
“Yang penting ada kaleng di tumpukan sampah. Kalau ada satu atau lebih itu semangat kami untuk kerja luar biasa,” katanya.
 
Maka dari itu, ia meminta kepada Pemkab Jayapura agar memperhatikan para pembersih kota yang bekerja di TPA tersebut.
 
“Demi Tuhan kami kerja tangan kosong. Tidak pakai perlengkapan seperti sepatu tanah lumpur, sarung tangan dan alat kerja. Kami OAP (orang asli Papua) ini dari dulu tidak diberi kesempatan mengemudi truk padahal kami bisa,” katanya.
 
Tukang sampah lainnya, Helena Matuan (45) mengaku sudah biasa melakukan pekerjaan seperti itu. Awalnya memang ia jijik, tapi lama-kelamaan dirinya sudah terbiasa.
 
“Pertama memang saya agak takut angkat sampah basah, seperti pampers dan pembalut wanita. Itu saya mau muntah. Sekarang sudah bisa,” kata Helena, istri Marthen Asso.
 
Dari mengangkat sampah dan menjual kaleng-kaleng bekas, pasangan ini bisa membiayai anaknya, Jenny Asso, yang kini jelas 1 SMP Bonaventura Sentani.
 
Helena mengaku pernah ditegur tetangga karena sampah-sampah busuk membuat tak nyaman. Oleh karena itu, ia keluar pukul 05.00 dinihari hingga pukul 17.00 WIT untuk menjalankan pekerjaannya itu.
 
“Saya pulang bawa itu sampah. Kalau masih bagus kami cuci bersih,” katanya. (*)

Sebelumnya

Program aliansi koperasi agrobisnis diluncurkan

Selanjutnya

Kelompok Pelangi Kasih tanam 10.000 bibit vanili

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua