close
Iklan Kominfo
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Bomberai
  3. Perempuan di Misool produksi 400 bungkus abon sebulan
  • Rabu, 08 Maret 2017 — 09:09
  • 1440x views

Perempuan di Misool produksi 400 bungkus abon sebulan

Sekali produksi abon ini membutuhkan bahan baku ikan bubara (Caranx sp) dan tengiri sebanyak 5-70 kilo. Ikan-ikan tersebut dibeli dari nelayan setempat dengan harga bervariasi, Rp 23.000 per kilo untuk tengiri dan Rp 15.000 untuk bubara.
Ketua kelompok ibu-ibu pembuat abon ikan dari Kampung Limalas, Distrik Misool, Raja Ampat, Anjelina Mjam ketika menunjukkan abon ikan yang dihasilkan kelompoknya – Jubi/Florence Niken
Florence Niken
Editor : Timoteus Marten

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1
 
Sorong, Jubi – Perempuan atau mama-mama Papua di Kampung Limalas, Distrik Misool Timur, Raja Ampat, Papua Barat menghasilkan sedikitnya 400 bungkus abon ikan tiap bulannya.

Sekali produksi abon ini membutuhkan bahan baku ikan bubara (Caranx sp) dan tengiri sebanyak 5-70 kilo. Ikan-ikan tersebut dibeli dari nelayan setempat dengan harga bervariasi, Rp 23.000 per kilo untuk tengiri dan Rp 15.000 untuk bubara.
 
Ketua kelompok pembuat abon ikan Kampung Limalas, Anjelina Mjam mengatakan kegiatan ekonomi kreatif ini dapat membantu perekonomian keluarga.
 
“Sangat membantu dalam meningkatkan potensi ekonomi masyarakat di sini,” kata Anjelina kepada Jubi di Sorong, Selasa (7/3/2017).
 
Ia mengaku hasil menjual abon ikan ini dapat membayar gaji 17 orang karyawannya dan simpanan kelompok tiap bulan.
 
Atas usahanya ini, mama-mama yang bernaung dalam koperasi Embun binaan GKI Kalsis Raja Ampat Selatan ini pun berhasil menggaet The Nature Consevancy (TNC) untuk melakukan pendampingan.
 
Koordinator program monitoring dan evaluasi TNC, Awaludinnoer mengatakan, tengiri dan bubara merupakan ikan yang paling banyak ditangkap nelayan Limalas.
 
“Dan setelah melalui beberapa proses memang tekstur ikan tengiri dan bubara paling cocok buat abon ikan,” kata Awaludinnnoer.
 
Pada November 2015 lalu dilakukan produksi massal setelah mendapat izin dari Depkes, nomor izin perdagangan dan label halal dari MUI.
 
“Sekarang kami lebih fokus pada manajemen keuangan dan kualitas produksi abon dan upaya pengembangan ekonomi kreatif lainnya,” katanya.
 
Kini abon ikan buatan mama-mama di Kampung Limalas dipasarkan di pasar lokal, Waisai dan Sorong. Bahkan dijual secara online seharga Rp 30.000 untuk kemasan 100 gram abon bubara dan Rp 35.000 untuk tengiri. (*)
 

 

loading...

Sebelumnya

Matis Mairuma pimpin Perbakin Kaimana

Selanjutnya

Hari Air, BWS Papua Barat bersihkan Kali Remu

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Terkini

Populer
Dunia |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4915x views
Polhukam |— Minggu, 14 Oktober 2018 WP | 4251x views
Otonomi |— Rabu, 17 Oktober 2018 WP | 2483x views
Polhukam |— Selasa, 16 Oktober 2018 WP | 2433x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]idjubi.com

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe