Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Penkes
  3. Kopkedat Papua desak pemerintah tangani masalah kesehatan di Korowai
  • Rabu, 08 Maret 2017 — 14:29
  • 808x views

Kopkedat Papua desak pemerintah tangani masalah kesehatan di Korowai

Ketua Kopkedat Papua Yan Akobiarek menilai pemerintah tidak serius dan melakukan pembiaran terhadap nasib masyarakat yang ada di dataran rendah Papua selatan ini.
Rumah di atas pohon Suku Korowai, Kabupaten Boven Digoel-Jubi/Ist
Sindung Sukoco
sindung@tabloidjubi.com
Editor : Dominggus Mampioper

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Jayapura, Jubi – Komunitas Peduli Kemanusiaan Daerah Terpencil (Kopkedat Papua), meminta pemerintah serius menangani kesehatan masyarakat suku Korowai, Kopkaka dan sekitarnya.

Ketua Kopkedat Papua Yan Akobiarek menilai pemerintah tidak serius dan melakukan pembiaran terhadap nasib masyarakat yang ada di dataran rendah Papua selatan ini.

“Kami minta pemerintah segera tangani penyakit yang dialami masyarakat Korowai, Kopkaka dan sekitarnya. Banyak masyarakat terjangkit penyakit. Mereka menderita setengah mati. Mau berobat dimana, tidak ada rumah sakit, tenaga medis dan peralatan kesehatan. Banyak mama – mama dan adik – adik kecil menderita, tapi banyak juga yang meninggal,” kata Yan kepada Jubi melalui release, Selasa (7/3/2017)

Sebelumnya Kopkedat pernah memberitakan melalui media agar pemerintah merespon secepatnya. Namun menurut Yan dan rekan – rekannya menilai pemerintah lalai desakan tersebut. Komunitas memberikan wanti – wanti supaya ada tindakan penanganan secara dini.

Menurut mereka pelayanan kesehatan di Korowai, Kopkaka dan sekitarnya tidak berjalan semestinya. Padahal persoalan kesehatan di daerah ini cukup kumpleks.

Di tempat terpisah, Pendeta Sem Awom yang cukup lama melakukan penginjilan di Korowai, Kopkaka dan sekitarnya melalui gereja,  mengatakan pihaknya pernah mendorong beberapa hal penting yang berkaitan dengan persoalan masyarakat. Seperti meminta pembangunan lapangan terbang, infrastruktur kesehatan dan pendidikan.  

“Kami pernah meminta beberapa pembangunan sesuai tuntutan masyarakat. Tapi pemerintah tidak mau jawab proposal kami. Terpaksa masyarakat membongkar lapangan terbang sendiri. Kemudian pembangunan gedung pustu ada tapi tenaga dan obat – obat tidak ada. Guru–guru juga tidak ada. Kasihan masyarakat di daerah sama sekali tidak rasakan manfaat Otsus, UP4B dan lain lain. Kapan mereka yang di kampung–kampung ini melihat dan rasakan pelayanan pemerintah?,” kata pendeta Awom melalui telepon selulernya.

Ketika ditanya apa saja gejala penyakit yang dialami masyarakat, Awom mengaku ada banyak penyakit seperti gatal – gatal pada kulit yang berujung pada kudis, ada pula penyakit kaki gajah, dingin panas, batuk lendir dan lain sebagainya. “Sulit memastikan nama – nama penyakit karena tidak ada tenaga yang dapat menganalisis itu. Kondisi ini tidak berubah sampai saat ini. Bahkan belum ada tanda – tanda perhatian dan keseriusan pemerintah daerah,” lanjutnya.

Daud Subuhato, masyarakat melalui telepon seluler, membenarkan terkait kesehatan masyarakat Korowai, Kopkaka dan sekitarnya. Dari beragam masalah lain, permasalahan kesehatan di daerah ini tidak bisa dilihat sebela mata. Butuh penangan dalam bentuk tindakan nyata. Ia menegaskan, masyarakat membutuhkan sentuhan pelayan kesehatan prima. Ia tidak mau, orangnya meninggal sia – sia tanpa ada penanggan medis.

“Kesehatan masyarakat Korowai, Kopkaka dan sekitarnya menjadi persoalan yang serius. Disini ada berapa pustu tapi tidak ada tenaga medis. Masyarakat mau berobat susah, karena jauh dari kota. Mereka tinggal menderita sampai maut menjemput nyawa mereka. Anak – anak kecil, remaja, dewasa, ibu – ibu dan bapa – bapa semua terserang penyakit. Kematian juga paling banyak. Sungguh, saya tidak mau saya orang mati sia – sia. Pemerintah harus bertanggung jawab. Jangan bilang orang Korowai itu warga negara tapi tidak mau perhatikan mereka. Nah, ini kan aneh to? Pemerintah segera tangani kesehatan, pendidikan dan masalah lain – lain”, tegas Subuhato.

Korowai adalah suku yang baru ditemukan keberadaannya sekitar 35 tahun lalu di pedalaman Papua. Berpopulasi sekitar 3000 orang. Suku terasing ini hidup di rumah pohon yang disebut Rumah Tinggi. Beberapa rumah bahkan bisa mencapai ketinggian 50 meter dari permukaan tanah.

Orang-orang Korowai menempati kawasan hutan sekitar 150 kilometer dari Laut Arafura. Mereka adalah pemburu-pengumpul yang memiliki keterampilan bertahan hidup. Sampai sekitar 1975, Korowai hampir tidak mempunyai kontak dengan dunia luar. Mereka hanya mengenal diantara mereka saja. Wilayah ini termasuk dalam  Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Aktivis LSM kesehatan siap berikan data ke Pelapor Khusus PBB

Selanjutnya

UNBK tak ada internet, SMA YPK Diaspora numpang di SMKN 3

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe