Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Pelapor Khusus harus kunjungi pelosok Papua
  • Kamis, 09 Maret 2017 — 06:37
  • 2021x views

Pelapor Khusus harus kunjungi pelosok Papua

“Tuan Dainius Puras harus turun ke daerah terpencil lagi. Jangan hanya di kota saja. Berbicara soal kesehatan itu semua terjadi di pelosok, bukan di perkotaan. Alangkah bagusnya datang ke wilayah adat Meepago,” kata Direktur Eksekutuf Yapkema Paniai, Hanoc Herison Pigai kepada Jubi via telepon selular, Rabu, (8/3/2017).
Ilustrasi pelayanan kesehatan di Pegunungan Bintang - Ist
Abeth You
abethamoyeyou@gmail.com
Editor : Angela Flassy

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi – Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) Paniai, Papua yang bergerak di bidang kesehatan itu meminta kepada Dainius Puras mengunjungi tujuh wilayah adat di tanah Papua, bahkan hingga ke pelosok Papua.

“Tuan Dainius Puras harus turun ke daerah terpencil lagi. Jangan hanya di kota saja. Berbicara soal kesehatan itu semua terjadi di pelosok, bukan di perkotaan. Alangkah bagusnya datang ke wilayah adat Meepago,” kata Direktur Eksekutuf Yapkema Paniai, Hanoc Herison Pigai kepada Jubi via telepon selular, Rabu, (8/3/2017).

Pigai mengharapkan, pelapor khusus tersebut tidak hanya menilai capaian pemerintah terhadap pembangunan (infrastruktur) bidang kesehatan, tapi yang terpenting adalah layanan medis di Kabupaten/Kota, bahkan perkampungan.

“Termasuk hak orang asli Papua (OAP) untuk mengakses ke layanan medis itu terlayani atau tidak. Baik di Puskesmas atau Pustu. Kalau ini jangan menilai hanya di Jayapura, Timika, Nabire, atau Merauke.” ujarnya.

Menurutnya jika Jakarta yang menyetir dia hanya berkunjung ke perkotaan saja, sama saja itu penipuan.

“Kalau pelapor datang ke daerah-daerah mengambil data berarti dia betul-betul datang ke Papua dan melihat dari dekat, khususnya wilayah Meepago” kata dia.

Dia menjelaskan, di wilayah Meepago dalam kurun waktu 1999 hingga 2017terdapat kurang lebih 20.000 penderita HIV/Aids yang terancam meninggal pasca berhentinya bantuan luar negeri (Australia) untuk HIV/AIDS.

“Sekitar 40.000 orang kami sudah berupaya untuk menyelamatkan dengan bantuan luar negeri tersebut yang dilakukan oleh CAI penguatan kapasitas medis,” ujarnya.

Ance Boma, bidang penyuluhan HIV/Aids Yapkema Paniai mengatakan jika dibutuhkan, pihaknya memiliki cukup laporan untuk dilaporkan.

“Persoalan kesehatan itu ada di pelosok-pelosok dan kami memiliki data-data kematian itu,” kata Boma, (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Tentang HAM Papua di PBB : Indonesia “diterjang” arus laut Pasifik

Selanjutnya

ULMWP memilih berhati-hati atas rencana kunjungan Menlu Australia

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe