Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Tribunal Vatikan diragukan penuhi keadilan penyintas pelecehan seksual di Guam
  • Kamis, 09 Maret 2017 — 13:05
  • 1724x views

Tribunal Vatikan diragukan penuhi keadilan penyintas pelecehan seksual di Guam

Wall mengaku jika menyangkut kasus-kasus pelecehan seksual para uskup, tingkat kerahasiaannya itu luar biasa tinggi.
Tertuduh pelaku pelecehan seksual di Gereja Katolik, mantan Uskup Guam Anthony S. Apuron - IST
Pacific Islands Report
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Zely Ariane

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Hagatna, Guam, Jubi – Keengganan penyintas pelecehan seksual oleh rohaniawan gereja Katolik di Guam untuk memberikan kesaksian dan terlibat dalam proses Tribunal Vatikan terkait erat dengan sistem peradilan internal di gereja Katolik.

Namun, penyintas yang memilih tidak terlibat dalam proses Tribunal Vatikan dikhawatirkan akan mengurangi bukti-bukti yang dapat dikumpulkan tribunal tersebut.

Jennifer Haselberger, pengacara gereja menganggap tindakan tidak berpartisipasi dalam proses pengadilan gereja Vatikan sebagai kesalahan.

Haselberger adalah salah seorang dari dua pengacara yang menangani investigasi Vatikan terhadap Keuskupan Anthony S. Apuron. Apuron dituding melakukan pelecehan seksual terhadap putera-putera altar di tahun 1970-an.

Atas saran dari pengacara mereka, David Lujan, mantan putera-putera altar yang menuntut Apuron tersebut tidak bertemu Tim Vatikan saat kunjungan mereka ke Guam pertengahan Februari lalu. Hal itu dikarenakan Lujan tidak diijinkan ikut serta bersama para korban.

Kritik penyelesaian ala gereja

Patrick J. Wall, pengacara gereja lainnya sekaligus mantan Pastor yang mengadvokasi ratusan penyintas pelecehan seksual para rohaniawan, mengatakan “semua bukti adalah bukti itu sendiri dan pengadilan gereja akan menggali kedalaman dan ketepatannya.”

 

“Para pejabat gereja memakai kacamata berbeda-beda, melihat dunia melalui teologi moral mereka dan memiliki aturan berbeda terkait bukti-bukti dibanding pengadilan sipil,” ujar Wall Jumat (3/3) lalu.

Wall juga mengatakan cukup “aneh” jika para penyintas Apuron tidak dibolehkan mengajak pengacaranya bersama-sama untuk bertemu tim dari Vatikan itu.

“Saya duga hal itu terjadi karena pengacara mereka adalah pengacara sipil, pengadilan gereja khawatir “the Holy See” akan dituntut di pengadilan sipil Guam karena gagal mengawasi Apuron,” ujar Wall.

Menurut Wall ia meninggalkan kepasturan setelah semakin jelas dirinya merasa dimanfaatkan hanya untuk menutupi pelecehan seksual pastur-pastur.

Tribunal Vatikan dipimpin oleh Kardinal Raymond Leo Burke datang ke Guam guna mendengarkan langsung dari para saksi sebagai bagian dari investigasi Apuron.

“Tanpa bukti yang diberikan oleh para korban, kemungkinan besar tribunal tidak akan memiliki cukup bukti untuk membuat keputusan afirmasinya,” ujar Haselberger.    

Lujan mengatakan bahwa klien-kliennya di Guam, Hawaii dan Arizona akan memberikan kesaksian tertulis kepada Vatikan menyangkut pelecehan Apuron tersebut.

Haselberger sebelumnya bertugas sebagai konselor urusan gereja di Keuskupan Saint Paul dan Minneapolis. Dia kemudian mengundurkan diri pada April 2013 karena memrotes cara keuskupan menangani tuduhan pelecehan seksual para rohaniawan.

Dia lalu mendirikan Konsultasi dan Layanan Gerejani, LLC, berbasis di Minnesota dan duduk di badan penilai independen serta pembicara terkemuka terkait isu-isu hukum gereja dan Gereja Katolik.

Guam membuat sejarah

Wall mengaku jika menyangkut kasus-kasus pelecehan seksual para uskup, tingkat kerahasiaannya itu luar biasa tinggi.

“Semua investigasi dilakukan dengan rahasia, dan kasus Apuron adalah kasus pertama dimana publik setidaknya mengetahui sebagian darinya. Dalam hal ini, Guam sedang membuat sejarah dan jurnalis adalah penulis sejarah itu guna mengedukasi publik,”

Dia mengatakan dalam kasus pelecehan seksual anak, tidak ada yang disebut normal. “Kejahatan ini menyisakan luka, seperti yang Paus John Paul katakan ‘luka permanen atas jiwa’. Sehingga kesaksian apapun yang dapat diberikan seorang penyintas itu sajalah yang dapat dia berikan,” ujar Wall.

Wall adalah seorang peneliti utama untuk Jeff Anderson & Associates, sebuah firma hukum berbasis di Minnesota yang mewakili korban pelecehan seksual anak. Wall juga membantu membedah pembelaan yang keuskupan lindungi selama proses persidangan.

Dia juga turut menulis buku yang diberi judul “Seks, Pastur dan Kode-kode Rahasia,” sebuah buku terkenal tentang sejarah pelecehan seksual di Gereja Katolik.

Haselberger mengakui penting bagi semua orang menyadari proses peradilan gereja itu sangat berbeda.

“Para korban, jika mereka berpartisipasi, tidak akan diwajibkan melakukan pemeriksaan silang oleh pembela. Satu-satunya orang yang boleh mengajukan pertanyaan kepada saksi hanyalah hakim,” ujar Haselberger.

Tim Vatikan yang datang mengunjungi Guam segera menarik perhatian internasional, sebagian karena Kardinal Burke—juga seorang pengacara gereja—akan memimpin persidangan Apuron. Burke adalah pemimpin sayap Gereja Katolik konservatif dan seringkali bersitegang dengan Pope Francis terkait isu-isu internal gereja.

“Namun demikian, tidak perlu terlalu percaya pada proses gereja karena masyarakat tidak akan bisa melihat buktinya, apalagi semua yang dipelajari gereja akan disimpan sebagai rahasia. Satu-satunya harapan atas keadilan adalah melalui sistem pengadilan sipil di pulau tersebut dan dilakukan terbuka,” tambahnya.

David Lujan mewakili empat orang penuntut Apuron dan 19 lainnya, mengajukan tuntutan perdata melawan rohaniawan atas pelecehan seksual. Kesemua kasus tersebut menuntut rohaniawan sebesar $115 juta di Pengadilan Distrik Guam.

Dua firma hukum Guam, bermitra setidaknya dengan tiga firma hukum di AS dan Hawaii, mengatakan mereka juga akan mengajukan kasus-kasus pelecehan seksual anak.(*)

Sebelumnya

30 perempuan berlaga di pemilu PNG 2017

Selanjutnya

Walau tertunda, pemimpin Guam tetap ingin referendum dekolonisasi

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe