Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Lapago
  3. Kesepakatan bersama, usaha dagang pinggiran kota Jayawijaya khusus warga lokal
  • Kamis, 09 Maret 2017 — 13:46
  • 864x views

Kesepakatan bersama, usaha dagang pinggiran kota Jayawijaya khusus warga lokal

“Tujuan utama kesepakatan tersebut untuk memberikan kesempatan orang asli Papua,” katanya di Wamena, Rabu (8/3/2017).
Kios yang hendak dibangun seorang guru di halaman SMP N3 Wamena, Distrik Asolokobal – Jubi / Wesai
Editor : Yuliana Lantipo

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Wamena, Jubi – Demi menjaga agar tidak terjadi kecemburuan ekonomi antar penduduk sipil, masyarakat Jayawijaya membuat sebuah kesepakatan bersama tentang lokasi usaha. Masyarakat bukan asli Jayawijaya hanya boleh mendirikan usahanya di dalam kota, dan daerah di pinggiran kota dikhususkan bagi penduduk lokal, yang rata-rata berpenghasilan rendah.

Salah satu daerah yang telah bersepakat adalah masyarakat Distrik Asolokobal, khususnya daerah Megapura dan sekitarnya, di Kabupaten Jayawijaya. Salah satu pemiliki ulayat tanah di Megapura, Ayub Wuka, mengatakan masyarakatnya telah sepakat bahwa pendirian tempat usaha bisnis, semisal kios, di wilayahnya hanya dibolehkan bagi orang asli untuk memberikan kesempatan mereka berdagang.

“Tujuan utama kesepakatan tersebut untuk memberikan kesempatan orang asli Papua,” katanya di Wamena, Rabu (8/3/2017).

Baru-baru ini, masyarakatnya protes atas pembangunan sebuah kios di halaman SMP Negeri 3 Megapura, Distrik Asolokobal, yang dilakukan oleh seorang guru.

“Di halaman sekolah  itukan ada bangun rumah, saya tanya itu bangun apa, guru-guru bilang kios milik Pak  guru Riyanto. Saya bilang tidak bisa karena kami punya kesekpakatan di sini bahwa saudara-saudara non Papua tidak boleh buka kios di sini,” kata Ayub Wuka, usai melakukan pertemuan dengan para guru di SMP N3 Wamena.

Ia mengatakan salah satu alasan kesepakatan bersama tentang pelarangan pembukaan tempat usaha tersebut, “mengingat pengusaha kecil orang asli Papua selalu kalah saing dengan pedaganga pendatang,” ucapnya.

“Tapi juga kami mau sampaikan begini… saudara-saudara pendatang cukuplah menguasai perdagangan dan perekonomian di dalam kota Wamena. Yang di luar kota berikan kesempatan untuk kami orang asli juga bisa berdagang, biarpun kecil yang penting kami juga nikmati,” ujarnya.

Pantauan Jubi di halaman SMP N3 Wamena, sudah berdiri sebuah rumah papan menghadap ke arah Jalan Raya Wamena-Kurima. Ia berukuran kurang lebih 4 x 8 meter. Bangunan itu rencanya akan dijadikan kios milik seorang guru.

“Kalo memang itu koperasi sekolah atau kantin, silahkan dibuat tapi jangan untuk umum atau dijalan utama, silahkan buat di dalam sekolah, seperti biasa kantin. Tadi saya sampaikan begitu kepada para guru dan kepela sekolah,” ujar Ayub yang juga ketua Komite Sekolah SMP N3 Wamena.

Terpisah, Kepala SMP N3 Wamena, Ansgar Blasius Biru, membenarkan rencana pembangunan kios itu oleh salah seorang gurunya di halaman sekolah tersebut.

“Sebenarnya bertujuan untuk mengihindarkan anak-anak yang mau jajan pergi jauh cari kios, atau bapak ibu guru yang mau beli sesuatu bisa tertolong,” jelas Ansgar melalui sambungan telepon kepada Jubi.

Namun, kata Ansgar, karena ada peraturan kesepakatan masyarakat setempat tentang pembukaan kios di sana maka pihaknya bersepakat untuk tidak melanjutkan pembangunan kios tersebut.

“Kami baru dengar tadi saat diskusi dengan ketua komite pak Ayub Wuka. Ternyata ada kesepakatan itu, maka keputusan terakhir hasil diskusinya kami tidak melanjutkan pembangunan kios di halaman sekolah itu,” ujarnya. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

RRI Wamena berbagi kasih dengan mendonor darah

Selanjutnya

FKMI Puncak Jaya tolak PSU

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe