Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Perempuan & Anak
  3. Guru tak ada di kampung, murid merantau ke Jayapura
  • Sabtu, 11 Maret 2017 — 04:25
  • 5186x views

Guru tak ada di kampung, murid merantau ke Jayapura

“Nanti mereka akan tambah ketinggalan. Kami mencoba kasih masuk di kelas 3 dan 4. Kami berusaha untuk mendidik mereka. Karena kalau kami tidak berbuat demikian, siapa yang mau membantu mereka?” jelasnya.
Murid SD YPK Kampung Netar saat mengikuti acara Fashion Show, memperingati HUT YPK - Jubi/David Sobolim
David Sobolim
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Angela Flassy

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Sentani, Jubi - Ada gambaran yang berbeda saat lomba fashion show busana gereja yang diadakan Sekolah Dasar (SD) YPK Netar, menyambut ulang tahun YPK yang ke-55 tahun di tanah Papua. Sejumlah murid di sekolah ini tampak lebih besar dari siswa SD pada umum.

Salah satunya, Yoki Awaki, 14 tahun. Kini ia duduk di kelas lima. Kepada Jubi ia menuturkan dirinya berasal dari Kampung Taya, Kabupaten Mamberamo Raya. Ia datang ke Kabupaten Jayapura sejak tahun 2015.

“Di Kampung Taya guru-guru tidak ada di tempat tugas. Hanya waktu mau ujian baru guru datang ke kampung,” katanya.

Dari Mamberamo Raya, orang tuanya mengirimkan ia ke kakaknya yang saat ini juga menempuh pendidikan di Kota Jayapura.

“Saya mau sekolah di kota (Jayapura) tapi karena tidak tahu baca dan menulis, akhirnya saya dibawa kakak ketemu kepala sekolah di sini dan dan diterima,” katanya.

Yoki mengaku tidak malu dengan kondisi fisiknya yang terlihat lebih besar jika dibandingkan dengan siswa kelas V lainnya.

“Saya tidak malu. Saya mau sekolah,” ujarnya.

Saat tiba di Jayapura, kendala utama yang dihadapi ia dan teman-temannya adalah bahasa. Mereka terbiasa menggunakan bahasa asli sehingga ragu berbahasa Indonesia .

Hal yang sama juga disampaikan siswa asal Mamberamo lainnya. Lusiana, 14 tahun. Meski seharusnya sudah duduk di bangku SMP, namun karena belum bisa membaca dan menulis, kini duduk di kelas tiga.

Kepala sekolah SD YPK Netar, Benselina M.Ohee kepada Jubi, Selasa (7/3/2017) di ruang kerjanya
mengatakan ada puluhan siswa dari Kampung Taya yang menempuh pendidikan di sekolahnya.

“Rata-rata mereka ini belum bisa menulis dan membaca. Jadi saat mereka mencoba masuk di sekolah dasar negeri, mereka ditolak. Kakak-kakak mereka bawa ke sini untuk didik. Kami menerima,” katanya.

Benselina menjelaskan meskipun belum bisa menulis dan membaca para siswa itu tidak dimasukkan ke kelas 1.

“Nanti mereka akan tambah ketinggalan. Kami mencoba kasih masuk di kelas 3 dan 4. Kami berusaha untuk mendidik mereka. Karena kalau kami tidak berbuat demikian, siapa yang mau membantu mereka?” jelasnya.

Benselina selalu memotivasi para guru-guru kelas dan para guru kelas mengajari mereka dengan hati mengasihi.

“Kami selalu mencoba mengajar kembali huruf-huruf dan angka-angka- seperti layaknya anak-anak di kelas satu SD. Mereka ini punya kemauan yang keras untuk sekolah, mereka juga cepat mengerti,” katanya.

Benselina menuturkan, ia dan para guru juga membuat metode khusus dan sesederhana mungki agar mudah dipahami para siswa tersebut. Namun kemajuan siswa tidak semua sama.

“Ada yang cepat mengerti, ada yang tidak mengerti sama sekali. Dan yang tidak mengerti ini, kami tidak naikkan ke kelas berikutnya. Dan ketika dia satu kali tahan kelas, dia mulai berusaha belajar dan tahun berikut dinaikkan kelas,” ujarnya.

Para siswa ini asal Kabupaten Mamberamo raya itu berdomisili di Kampung Harapan. Selain membantu pelajaran, sekolah juga membantu dua sak beras untuk anak-anak tersebut.

“Kami ini yayasan yang dan punyai visi-misi yang jelas. Setiap orang patut diselamatkan. Bukan hanya melalui penginjilan, tetapi juga melalui pendidikan,” kata kepala sekolah yang kini berusia 50 tahun.

Ia berharap pada usia YPK yang ke-55 tahun ini, YPK mampu mendidik anak-anak di Papua guna membangun Papua.

Seorang orangtua/wali murid, Deni sangat bersyukur ada sekolah seperti SD YPK Netar yang mau menerima anak-anak mereka.

“Sekolah lain tidak mau terima karena mereka sama sekali belum tahu baca tulisan. Namun SD YPK Netar mau menerima,” katanya.

Deni berharap pemerintah dan pemerhati pendidikan di provinsi Papua bisa melihat apa yang menjadi pergumulan masyarakat di kampung mereka.

“Kabupaten lain maju, tapi kabupaten kami di bidang pendidikan ini masih ketinggalan.” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Garuda Indonesia diminta buka rute Sentani-PNG

Selanjutnya

BI Papua dorong usaha ‘money changer’ di seluruh perbatasan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe