PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
  1. Home
  2. Penkes
  3. Kisah guru perintis SLB di Kota Jayapura
  • Senin, 13 Maret 2017 — 09:51
  • 535x views

Kisah guru perintis SLB di Kota Jayapura

“Bermula ketika kami berempat diminta Pemprov Papua mengikuti pendidikan SLB di Pulau Jawa, pulang dari sana kami dirikan SLB ini pada 1986,” ujarnya kepada Jubi baru-baru ini.
Foto anak berkebutuhan khusus saat belajar - Jubi/Yance Wenda.
Yance Wenda
yan_yance@ymail.com
Editor : Syofiardi

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Sentani, Jubi – Gidion Kosay, salah seorang perintis SLB (Sekolah Luar Biasa) di Kota Jayapura. Pria asal Kabupaten Jayapura ini lebih 30 tahun mengabdikan diri mengajar anak-anak berkebutuhan khusus.
 
“Bermula ketika kami berempat diminta Pemprov Papua mengikuti pendidikan SLB di Pulau Jawa, pulang dari sana kami dirikan SLB ini pada 1986,” ujarnya kepada Jubi baru-baru ini.
 
Tiga rekannya adalah Fredik Maniwa, Siprut Daulu, dan Alex Pekey. Pemerintah pusat mewajibkan setiap provinsi mengirimkan empat orang. Setiap orang mengambil pendidikan guru SLB dengan jurusan berbeda. Jurusan A (Tuna Netra), B (Tuna Rungu), C (Tuna Graita), dan D (Tuna Daksa).
 
“Awalnya saya tidak tahu apa itu SLB, waktu itu saya baru tamat Sekolah Pendidikan Guru (SPG), jadi karena ada program dari pemerintah untuk melanjutkan kuliah, saya ikut saja,” katanya.
 
Pendidikan dijalaninya enam bulan, tiga bulan teori dan tiga bulan praktek. Selesai pendidikan ia diberi dua surat kuasa untuk membuka SLB dan SD. Ia memilih membuka SLB.
 
Mengajar di SLB sesuatu yang berbeda bagi Gidion. Menghadapi anak-anak difabel ini sangat susah, terlebih bagi yang belum memahami apa yang disampaikan dan apa yang dilakukan. Apalagi dengan tenaga pengajar seadanya.
 
“Sekarang tenaga pengajar yang kami miliki hanya 10 orang, termasuk dua guru kontrak, ini masih kurang,” ucap pria 53 tahun ini
 
Sarimu Juatono, guru yang sudah 26 tahun mengajar mengaku sudah memiliki pengalaman bervariasi menghadapi anak didiknya, mulai dari yang ringan hingga berat, seperti autis.
 
“Menghadapi anak-anak yang kekurangan seperti ini memberikan warna tersendiri bagi kami, seperti ada masalah di rumah dengan datang ke sekolah lihat anak-anak ini menjadi sejuk dan menjadi hiburan bagi kami, sebab anak-anak yang berkekurangan saja ceria, apalagi kami yang normal yang lengkap ini menghadapi masalah seperti ini, kok tidak bisa,” ucap pria 52 tahun asal Solo ini. (*)

Sebelumnya

BEM FK gelar bimbingan pelatihan pegambilan darah vena

Selanjutnya

Dana BOS diduga jadi “lahan basah” di Sorong

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua