Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Dari 33.452 karyawan Freeport, hanya 25,15 persen pekerja asli Papua
  • Rabu, 15 Maret 2017 — 15:59
  • 2222x views

Dari 33.452 karyawan Freeport, hanya 25,15 persen pekerja asli Papua

Lalu, dari total 33.452 pekerja itu, orang asli Papua mencapai 8.413 orang atau 25,15 persen dan pekerja Indonesia non-Papua sejumlah 24.195 orang atau 72,33 persen.
Karyawan PT Freeport Indonesia di Tembagapura - Dok. Jubi
ANTARA
redaksi@tabloidjubi.com
Editor : Kyoshi Rasiey

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jakarta, Jubi - Gerakan Solidaritas Peduli Freeport (GSPF) mencatat saat ini PT Freeport Indonesia menyerap sebanyak 32.608 tenaga kerja lokal, yang telah memberikan manfaat signifikan bagi perekonomian Kabupaten Mimika, Papua.

Juru Bicara GSPF Virgo Solossa saat dihubungi di Jakarta, Selasa mengatakan, secara total, tenaga kerja Freeport Indonesia mencapai 33.452 orang dengan rincian 32.608 pekerja lokal dan 844 pekerja asing.

"Dari total 33.452 tenaga kerja tersebut, sebanyak 12.184 merupakan karyawan langsung dan 21.286 lainnya pekerja kontraktor," ujarnya.

Lalu, dari total 33.452 pekerja itu, orang asli Papua mencapai 8.413 orang atau 25,15 persen dan pekerja Indonesia non-Papua sejumlah 24.195 orang atau 72,33 persen.

Sedangkan, tenaga kerja asing hanya 844 orang atau 2,5 persen.

Ia melanjutkan, dari karyawan langsung Freeport Indonesia yang berjumlah 12.184 itu, pekerja asli Papua mencapai 4.357 atau 35,76 persen dan karyawan Indonesia non-Papua sejumlah 7.652 atau 62,8 persen.

Sedangkan karyawan asing hanya sejumlah 175 orang atau 1,44 persen.

Dengan data-data tersebut, menurut Virgo, terganggunya operasi Freeport sekarang ini dirasakan cukup berat oleh rakyat Mimika.

"Ketika perusahaan merumahkan dan mem-PHK-kan karyawannya, otomatis hal ini mempengaruhi dinamika sosial dan ekonomi masyarakat," ujarnya.

Ia melanjutkan, semakin lama proses negosiasi pemerintah pusat dengan Freeport, semakin berdampak besar terhadap pendapatan asli daerah dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.

Virgo menambahkan, sejak 1996, Freeport telah melipatgandakan jumlah karyawan asli Papua yang memegang posisi manajemen strategis.

"Hingga saat ini telah ada enam 'vice president' asli Papua dan 40 manajer atau karyawan level senior asli Papua. Selain itu, telah ada 29 operator 'haul truck' wanita," ujarnya.

Sementara, di media sosial telah muncul gerakan papua bicara, menggunakan tagar #papuabicara yang meminta pemerintah lebih memperhatikan permasalahan Freeport dari sisi kepentingan rakyat Papua.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Mimika Septinus Soumilena mengatakan, kehadiran Freeport telah menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi.

"Tidak dapat dipungkiri, lebih dari empat dekade Freeport telah menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi dan berkontribusi besar dalam penciptaan lapangan kerja di Papua," ujarnya.

Menurut data kajian Lembaga Pengembangan Ekonomi Masyarakat (LPEM) UI pada 2013, kehadiran Freeport berkontribusi 91 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Mimika, 38 persen kepada PDRB Papua, 1,7 persen dari total APBN, 0,8 persen dari seluruh pendapatan rumah tangga nasional, dan 44 persen dari pemasukan rumah tangga di Provinsi Papua.

Selama kurun 1992-2016, Freeport telah menginvestasikan lebih dari 1,46 miliar dolar AS untuk pembangunan infrastruktur dan masyarakat Mimika.

Pembangunan kota, bandara, jalan, jembatan, gedung pemerintahan, rumah sakit, fasilitas air bersih, lapangan terbang perintis, fasilitas air bersih, serta stadion olah raga, dapat dilihat jika berkunjung ke Mimika.

Selain menyerap lebih dari 33.000 tenaga kerja, Freeport juga menciptakan lebih dari 238.000 kesempatan kerja sebagai dampak berganda (multiplier effect) dari kehadirannya.

Menurut Septinus, dengan mengumpamakan satu ayah yang bekerja di Freeport dan kemudian tinggal di Kota Timika dengan membawa keluarganya, maka kebutuhan dasar baik primer, sekunder, tersier dari keluarga tersebut tentunya akan diperoleh dari para penyedia barang dan jasa di Timika.

Artinya lagi, ungkap Septinus, ada pergerakan ekonomi yang diakibatkan oleh kebutuhan warga Freeport.

"Bayangkan apabila dikalikan puluhan ribu karyawan Freeport dan kontraktornya, maka terjadilah 'multiplier effect' yang berdampak positif terhadap penciptaan lapangan kerja baru dan kesejahteraan," katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Kunjungi Indonesia bulan depan, Wakil Presiden AS akan bicara soal Freeport

Selanjutnya

Deportasi jurnalis Perancis, AJI Jayapura : Kebijakan Presiden belum diimplementasikan baik

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe