Konferensi Luar Biasa
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Deiyai diminta jadi sentral pengembangan kopi arabika
  • Kamis, 16 Maret 2017 — 23:09
  • 627x views

Deiyai diminta jadi sentral pengembangan kopi arabika

Letak masalahnya, menurut dia, potensi pertanian dan perkebunan kopi arabika Deiyai belum ada yang menggenjot.
Ketua Bappeda Provinsi Papua Muhammad Musa’ad (kiri) bersama Hanok Herison Pigai (tengah) dan Ketua Kelompok Petani Kopi Deiyai Robi Edoway dalam kunjungan ke daerah Bomou, Rabu (15/3/2017) – Jubi/Zely Ariane.
Zely Ariane
zely.ariane@tabloidjubi.com
Editor : Syofiardi

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Wagete, Jubi – Produksi kopi arabika Deiyai sebenarnya dapat meningkat hingga 2.000 ton per tahun jika pengembangan kopi dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir.
 
Target tersebut disampaikan Hanok Herison Pigai, direktur Yayasan Pengembangan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema) yang menjelaskan usulan rencana pengembangan kopi arabika Deiyai pada acara kunjungan kerja Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Papua di Wagete, Kabupaten Deiyai, Rabu (15/3/2017).
 
Menurut Herison, rencana tersebut sekilas terkesan ambisius, namun dengan kerja terukur berdasarkan potensi yang sudah berjalan, angka tersebut masuk akal bisa dicapai.
 
“BIla masing-masing keluarga di Kabupaten Deiyai menanam minimal 200 pohon kopi arabika, maka pendapatan per keluarga di Deiyai dapat meningkat hingga Rp10 juta per tahun,” ujarnya.
 
Ia menambahkan, target 2000 ton hanya bisa tercapai jika terbangun sentral produksi di 10 titik yang disebut Unit Pengembangan Kopi Arabika Berbasis Masyarakat (UPKBM).
 
Titik-titik tersebut, lanjut Herison, berfungsi untuk mendata petani dan potensinya, menyimpan serta mendistribusikan alat dan bibit, serta pusat pelatihan dan pengolahan, sekaligus menerima penjualan biji kopi. 
 
Dia menyesalkan tradisi menanam kopi di Deiyai khususnya dan Meepago pada umumnya, belum berkembang menjadi pengembangan produksi kopi dari hulu ke hilir. 
 
Letak masalahnya, menurut dia, potensi pertanian dan perkebunan kopi arabika Deiyai belum ada yang menggenjot.  
 
“Hampir semua lahan di sekitar Danau Tigi digunakan untuk menanam ubi jalar, padahal pada 1962 hingga 1997 kopi arabika menempati urutan teratas dalam usaha pertanian masyarakat, namun kini tinggal nama karena persoalan pasar,” ujarnya. 
 
Untuk mengatasi sulitnya pengorganisasian petani menjawab tantangan pasar, Yapkema menawarkan pembentukan UPKBM sebagai model kerja. UPKBM adalah wadah sentral pengorganisasian petani dan ujung tombak pelaksanaan program pengembangan kopi arabika Deiyai yang akan bergerak dari rumah ke rumah. 
 
Ketua Bappeda Provinsi Papua Muhammad Musa’ad mengapresiasi target dan rencana yang sudah disusun Kabupaten Deiyai untuk mengembangkan kopi arabika.
 
“Kami senang dengan target 2.000 ton kopi, biar jadi mimpi besar karena itu penting sebagai harapan, saya lihat ini komitmen luar biasa, jadi kami akan laporkan ke gubernur bahwa Deiyai adalah kabupaten yang sungguh-sungguh hendak mengembangkan potensi kopi ini,” ujarnya.
 
Musa’ad menilai pengembangan kopi arabika Deiyai sesuai basis unggulan lokal, bukan program baru yang didatangkan dari luar yang belum tentu sesuai kebutuhan dan kemampuan masyarakat setempat sehingga berpotensi gagal.
 
“Kopi Deiyai, Dogiyai dari kecil saya sudah dengar, artinya sudah ada modal karena masyarakat sudah mencintai pekerjaan itu, kita memang membagi pembangunan  Papua berbasis unggulan lokal yaitu apa yang sudah menjadi kehidupan rakyat, dan untuk Kabupaten Deiyai ya kopi ini,” kata dia.
 
Musa’ad mengatakan Bappeda sudah melihat potensi ini dan sudah menetapkan fokusnya.
 
“Jadi kopi sudah kita tetapkan dan akan fokus ke sini, ke depan alokasi anggaran akan mengikuti prioritas program, misalnya sekarang kopi maka prioritas ke sana dulu, termasuk keterpaduan dengan pembangunan infrastruktur, dengan demikian hasilnya akan tampak dan masyarakat menjadi punya kepercayaan,” ujarnya.
 
Ketua Bappeda Kabupaten Deiyai Frans Adii dalam kesempatan kunjungan kerja Bappeda Provinsi Papua untuk tindak lanjut alokasi program Gerbang Mas Hasrat Papua (Gerakan Bangkit Mandiri dan Sejahtera Harapan Seluruh Rakyat Papua) dan alokasi dana infrastruktur 2017/2018 itu, juga menekankan fokus pengembangan kopi arabika Deiyai. 
 
Ia meminta Bappeda Provinsi mendukung lebih banyak rencana tersebut.

 

“Khusus untuk program pengembangan ekonomi kerakyatan di Deiyai selama ini fokus pada pengembangan budidaya kopi di pekarangan rumah, setidaknya 200 pohon, ke depan perencanaan pengembangan kawasan kebun kopi dapat jadi prioritas,” ujarnya. 
 
Turut hadir pada acara itu Sekda Kabupaten Deiyai Marten Ukago dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Deiyai Layuk Rombe.
 
Rombongan juga mengunjungi rumah kelompok petani kopi yang menanam kopi di pekarangan rumahnya di Bomou.
 
Pada kesempatan itu Robi Edoway, ketua kelompok tani tersebut meminta kepada Kepala Bappeda Provinsi Papua agar memastikan bantuan untuk pemasaran kopi milik masyarakat.
 
“Kami menanam kopi sudah lama, yang paling penting diperhatikan adalah pengembangannya hingga pemasaran, itu harus dibantu, jangan cuma janji-janji dan ambil foto-foto saja, lalu tidak ada perubahan apa-apa,” tegasnya sambil memberikan oleh-oleh setengah karung kecil biji kopi arabika produksinya kepada Musa’ad. 
 
Muhammad Musa’ad menjanjikan akan merumuskan lebih lanjut program sentra kopi Deiyai ini pada Musrembang akhir Maret ini di Nabire.(*)
Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Bulog operasi pasar tekan harga cabai rawit

Selanjutnya

Kanwil Pajak Papua butuh peran bendahara capai target Rp13 triliun

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe