PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
  1. Home
  2. Lingkungan
  3. Ohee: Butuh ratusan tahun terumbu karang bertumbuh, sehari dirusak kapal turis asing
  • Jumat, 17 Maret 2017 — 00:01
  • 2675x views

Ohee: Butuh ratusan tahun terumbu karang bertumbuh, sehari dirusak kapal turis asing

"Bayangkan satu centimeter terumbu karang butuh waktu lima sampai sepuluh tahun untuk hidup kembali, apalagi dalam jumlah yang banyak. Terumbu karang yang ditanam tak bisa menyamai ekosistem terumbu karang yang aslinya lagi,"kata Ohee saat dihubungi melalui hand phone,Selasa(14/3/2017) malam.
Raja Ampat - IST
Niko MB
ness@tabloidjubi.com
Editor : Dominggus Mampioper

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Jayapura, Jubi - Peneliti dan dosen jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Cenderawasih (Uncen) Henderite Ohee Phd mengatakan, sangat menyayangkan rusaknya terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat. Pasalnya butuh ratusan tahun untuk menanam dan tumbuh kembali.

"Bayangkan satu centimeter terumbu karang butuh waktu lima sampai sepuluh tahun untuk hidup kembali, apalagi dalam jumlah yang banyak. Terumbu karang yang ditanam tak bisa menyamai ekosistem terumbu karang yang aslinya lagi,"kata Ohee saat dihubungi melalui hand phone,Selasa(14/3/2017) malam.

Doktor alumni Universitas Gotingen Jerman ini menambahkan pihak yang menabrak atau merusak harus bertanggungjawab dan memberikan kompensasi kepada perbaikan lingkungan perairan dan terumbu karang terutama pemerintah Kabupaten Raja Ampat.

"Kalau pun ada kompensasi dan penanaman kembali terumbu karang jelas tak akan sama dengan yang alami dan membutuhkan waktu lama,"kata Henny yang pernah meneliti perairan Raja Ampat bersama Conservation International Indonesia beberapa waktu lalu.

Pakar biologi perairan laut ini menambahkan terumbu karang adalah ekosistem bawah laut yang terdiri dari sekelompok binatang karang yang membentuk struktur kalisum karbonat, semacam batu kapur. "Ekosistem ini menjadi habitat hidup berbagai satwa laut, hal ini membuat perairan Raja Ampat memiliki jenis ikan yang terbanyak dan endemik,"katanya.

Hal senada juga dikatakan, Koordinator Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Papua dan Papua Barat Ais Rumbekwan, Raja Ampat adalah ikon wisata sehingga menambah nilai tambah bagi wilayah ini terutama bagi masyarakat setempat.
"Mereka telah menghancurkan biota laut dan haruh melakukan pemulihan kembali dan memberikan manfaat langsung termasuk masyarakat setempat,"katanya.


Secara terpisah pemerhati lingkungan dari Sorong, Syafrudin Sabonama mengatakan sebenarnya kapal pesiar Caledonian Sky yang berlayar pada 4 Maret 2017 di Waigeo telah dilengkapi Global Posisition System(GPS) merupakan system navigasi berbasis satelit dan juga radar tetapi tidak diketahui alasan pasti hingga terdampar ke perairan dangkal dan terjebak sehingga merusak terumbu karang di Kabupaten Raja Ampat.

“Kami kaget dengan beredarnya foto dari kapal pesiar dengan kapasitas besar tersebut hingga bisa terdampar. Oleh karena itu kami meminta kepada semua pihak agar dapat fokus menyelesaikan kasus tersebut. Kita perlu menindak lanjuti persoalan ini hingga ke Menteri Kelautan dan Perikanan agar ditindak tegas,” kata Syafrudin Sabonama.

Menurut Richardo Tapilatu, Kepala Pusat Penelitian Sumber daya laut Universitas Papua bahwa terumbu karang yang rusak diperkirakan mencapai 13.533 meter persegi, dengan keragaman delapan genus terumbu karang, diantaranya acropora, porites, montipora, stylophora, poychilopora, tubastrea, Vafia dan Vafites.

“Kita masih berkoordinasi dan berharap agar pihak pengelola kapal bertanggung jawab, mengingat kerusakan terumbu karang akan berdampak buruk bagi kesehatan laut kita” kata Tapilatu.

Sesuai data, Noble Caledonia merupakan perusahaan yang mengoperasikan kapal Caledonian Sky, setidaknya harus membayar 10,8 – 16,2 juta dollar AS, dengan perhitungan, untuk satu meter persegi, nilai ganti ruginya ditaksir 800 – 1200 dollar AS.


Pemerintah Siap Gugat Ganti Rugi

Pemerintah Indonesia membentuk sebuah sebuah tim bersama yang terdiri dari berbagai kementerian dan lembaga terkait, yakni Kemenko Kemaritiman, KKP, KLHK, Kemhub, Kemenpar, Kemenkumham, Kejaksaan Agung dan Polri serta Pemda setempat terkait kerusakan terumbu karang di Radja Ampat oleh Kapal MV Caledonian Sky.

Hal ini ditegaskan Djoko Hartoyo dari Biro Informasi dan Hukum Kemenko Bidang Kemaritiman, RI dalam press releasenya kepada Jubi, Selasa(14/3/2017).

Menurut Hartoyo ada tiga tugas pokok gugus tugas tersebut yakni menangani aspek hukum baik perdata maupun pidana termasuk Mutual Legal Assistance (bantuan timbal balik) maupun upaya ekstradisi bila diperlukan.

Kedua, lanjut dia  tim ini juga bertugas untuk melakukan penghitungan kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh kandasnya kapal MV Caledonian Sky, keselamatan navigasi  dan hal-hal terkait lainnya.

Selain itu kata Deputi Koordinasi Bidang Kedaulatan Maritim Kemenko Kemaritiman Arif Havas Oegroseno  pemerintah siap menempuh segala cara agar pemilik kapal MV Caledonian Sky bersedia bertanggung jawab. “Kita siap untuk mengambil segala langkah yang diperlukan agar masyarakat tidak dirugikan dan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh MV Caledonian Sky bisa segera diatasi,” ujarnya.


Kronologis rusaknya terumbu karang di Radja Ampat diawali dari masuknya sebuah kapal pesiar, MV Caledonian Sky yang memiliki bobot 4200 GT, pada tanggal 3 Maret 2017. Kapal berbendera Bahama itu dinahkodai oleh Kapten Keith Michael Taylor. Kapal tersebut digunakan untuk membawa 102 turis dan anak buah kapal (ABK) sebanyak 79 orang.

Setelah mengelilingi pulau untuk mengamati keanekaragaman burung serta menikmati pementasan seni, para penumpang kembali ke kapal pada siang hari, tanggal 4 Maret 2017. Kapal pesiar itu kemudian melanjutkan perjalanan ke Bitung pada pukul 12.41 WIT. Di tengah perjalanan menuju Bitung, MV Caledonian Sky kandas diatas sekumpulan terumbu karang di Raja Ampat. Untuk mengatasi hal ini Kapten Keith Michael Taylor merujuk pada petunjuk GPS dan radar tanpa mempertimbangkan faktor gelombang dan kondisi alam lainnya.

Saat kapal itu kandas, sebuah kapal penarik (tug boat) dengan nama TB Audreyrob Tanjung Priok tiba di lokasi untuk mengeluarkan kapal pesiar tersebut. Namun upaya tersebut awalnya tidak berhasil karena kapal MV Caledonian Sky terlalu berat.

Kapten terus berupaya  untuk menjalankan  kapal Caledonian Sky hingga akhirnya berhasil kembali berlayar pada pukul 23.15 WIT pada tanggal 4 Maret 2017.

Kandasnya kapal Caledonian Sky yang dinahkodai oleh Kapten Keith Michael Taylor ini menimbulkan dampak kerusakan terumbu karang yang luar biasa. Investigasi awal yang dilakukan oleh pemerintah setempat menunjukkan bahwa terumbu karang yang rusak luasnya mencapai 1600 m2. Parahnya, terumbu karang yang dirusak oleh kapten kapal MV Caledonian Sky itu berada tepat di jantung Raja Ampat, sebuah pusat keanekaragaman hayati laut.

Terumbu karang yang tumbuh ratusan tahun itu dirusak oleh kapten Kapal MV Caledonian Sky dalam waktu kurang dari sehari. Mustahil untuk memperbaiki atau mengkonservasi kembali bagian terumbu karang yang telah rusak dan mati itu. Ironisnya, ratusan ikan yang biasanya mengelilingi lokasi tersebut juga menghilang.

Jumlah pasti luasan terumbu karang yang rusak belum sepenuhnya selesai divaluasi. Bisa jadi lebih dari 1600 m2.

Tanpa mempedulikan efek yang ditimbulkan terhadap kekayaan alam tersebut, Kapten Keith Michael Taylor tetap melanjutkan perjalanannya ke Bitung dan kini telah berlabuh di Filipina. Nampaknya, Kapten Keith Michael Taylor menyerahkan masalah ganti rugi kerusakan itu kepada perusahaan asuransi.

Berdasarkan UU 32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, perusakan kekayaan alam seperti terumbu karang, lahan gambut dan hutan merupakan tindakan kriminal yang  ancaman hukumannya adalah pidana penjara. Oleh karena itu, kendati perusahaan asuransi bersedia untuk membayar kerusakan lingkungannya, namun hal tersebut tidak dapat  menghilangkan aspek pidananya. (*)

Sebelumnya

Kepulauan Marshall, negara pertama ratifikasi kesepakatan global HFC

Selanjutnya

Budaya hidup bersih di Jayapura jangan dipaksakan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua