Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Lapago
  3. Rumah Pohon “Buku Subu” bakal tujuan wisata budaya Yahukimo
  • Sabtu, 18 Maret 2017 — 04:45
  • 2340x views

Rumah Pohon “Buku Subu” bakal tujuan wisata budaya Yahukimo

Masyarakat suku Korowai, tersebar di tiga wilayah administrasi: Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. Sementara suku Momuna, tersebar di dataran rendah kota Dekai, Yahukimo.
Kepala Suku Momuna, Noni Omu, bersama masyarakat di Kampung Masi. -Jubi/Yuliana Lantipo
Yuliana Lantipo
yuliana_lantipo@tabloidjubi.com
Editor : Admin Jubi

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

RUMAH POHON, kini bisa dijumpai Ibukota Dekai, Kabupaten Yahukimo. Model rumah, yang sudah populer dari suku Korowai, itu ternyata memiliki kesamaan rumah tradisional dengan masyarakat suku Momuna, yang masuk dalam wilayah administrasi pemerintah Kabupaten Yahukimo.

Masyarakat suku Korowai, tersebar di tiga wilayah administrasi: Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. Sementara suku Momuna, tersebar di dataran rendah kota Dekai, Yahukimo.

Kedua suku itu memiliki beberapa kesamaan. Salah satunya bentuk rumah tradisional yang disebut “Buku Subu” oleh orang Momuna. Ia berarti  Rumah Tinggi. Tinggi karena bisa mencapai belasan hingga puluhan meter dari atas permukaan tanah.

Kalau dulu, para wisatawan yang ingin mengjangkau rumah pohon selalu ke Korowai, dengan rute perjalanan yang agak panjang, kini wisatawan bisa menemukannya Kota Dekai, dengan akses yang lebih mudah.

Pada Jumat, 17 Maret 2017, bersama Mike Hesegem, yang mempelopori pembangunan kembali Rumah Tinggi di kota itu, Jubi beruntung mendapat kesempatan mengunjungi masyarakat asli Momuna di Kampung Masi, yang berjarak sekitar 6 kilo meter dari pusat kota.

Dari Jalan Raya Gunung, kami menyusuri jalanan di pinggiran Kali Buatan, menggunakan sepeda motor. Sepanjang jalan hingga masuk perkampungan, kita disuguhi sejuknya udara segar dari pepohonan dan tumbuhan yang masih tumbuh liar. Serta melintasi tiga aliaran kali yang jernih dan dingin.

“Kuntre!” kata Mike kepada Kepala Suku Momuna di Kampung Masi, bapak Noni Omu.

“Kunter be!” kata kepala suku membalas sapaan kami dalam bahasa asli tersebut, sembari menghampiri dan berpelukan.

Setelah dijelaskan maksud kedatangan kami, kepala suku bersama beberapa masyarakat menghantar kami masuk lebih dalam ke arah hutan di jalan setapak. Tidak jauh dari lokasi perumahan masyarakat, rumah sosial bantuan dari pemerintah, berdiri tegak tiga rumah pohon, yang ditopang batang-batang pohon.

Budaya dan wisata

Rumah pohon tidak dipungkiri lagi merupakan rumah yang unik, yang menjadi ciri khas budaya daerah tertentu. Momuna dan Korowai. Namun, seiring perkembangan peradaban manusia, Buku Subu milik masyarakat Momuna itu pun mulai hilang.

Kepala Suku Noni Omu mengatakan, “Sekarang kami tinggal di rumah seng, bantuan pemerintah,” katanya dalam bahasa Momuna dan diartikan Nehemia Omu, keponakannya.

Dari ceritanya, kebanyakan masyarakat Momuna tidak lagi membangun rumah tinggi tersebut sekitar 15 tahun belakangan.

Melihat salah satu bukti kepemilikian budaya orang Momuna yang kian tergerus, Mike Hesegem, itu mengaku sedih. Bermodal ‘percaya diri’ dan dukungan keluarga, Sarjana Pariwisata, lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata, Bali pada 2004, itu mempelopori pembangunan rumah pohon atau rumah tinggi tersebut.

“(Rumah) ini adalah jati diri, budaya,” arti rumah itu bagi Mike.

“Rumah tidak boleh hilang. Budaya harus tetap dijaga. Memang masyarakat sudah punya rumah-rumah beratap seng. Rumah sosial bantuan dari Pemerintah. Tapi ini adalah budayanya. Jati dirinya. Sebagai anak daerah, saya berkewajiban mempertahankan ini supaya anak-anak muda tidak lupa," kata pria bernama lengkap Mike Merianus R. Hesegem, S. Par.

Awal tahun 2016, Mike bersama Kepala Suku Noni Omu dan puluhan warganya, secara swadaya berhasil mendirikan tiga rumah pohon tersebut. Semuanya diselesaikan dalam empat bulan.

Rumah pohon itu ditopang batang-batang pohon dengan ketinggian mencapai sekitar 12 meter. Atapnya terbuat dari daun sagu. Dinding rumah dari kayu dan dilapisi kulit kayu. Begitu pula alas lantai rumah. Setiap rumah, dibagi menjadi dua ruang, “ruang tamu sekaligus dapur dan ruang tidur keluarga,” kata Mike.

Mike mengatakan, ketiga rumah itu sengaja dibangun untuk beberapa alasan. Selain untuk mempertahankan budaya, juga bertujuan menjadikannya sebagai tempat tujuan wisata di Yahukimo.

“Harapan kami ini berkembang jadi destinasi wisata di sini, dengan begitu bisa gerakan ekonomi masyarakat khususnya di kampung Masi,” katanya. “Satu malam Rp150 ribu,” biaya nginap per malam, kata Mike. Ia mengatakan, per rumah mampu menampung 10 sampai 15 orang.

Dalam beberapa bulan ke depan, Mike bersama masyarakat Kampung Masi berencana membangun lagi tiga rumah pohon yang nantinya disewakan bagi para wisatawan. (*)

loading...

Sebelumnya

Sidang sinode GKI di Waisai dinilai sarat kepentingan 

Selanjutnya

Hingga 8 April, Polres Yahukimo buka pendaftaran Polki dan Polwan

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe