Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Domberai
  3. LNG Tangguh diduga bohongi masyarakat adat
  • Jumat, 21 Maret 2017 — 23:10
  • 847x views

LNG Tangguh diduga bohongi masyarakat adat

“Dalam laporan itu disebutkan mengenai dugaan pengelolaan “dana badi” dari proyek LNG Tangguh di Teluk Bintuni yang tidak jelas bagi masyarakat adat setempat,” kata Direktur LP3BH Manokwari,Yan Christian Warinussy kepada Jubi di Sorong melalui keterangan tertulis, Senin (20/3/2015).  
LNG Tangguh di Teluk Bintuni – Jubi/lngworldnews.com
Niko MB
ness@tabloidjubi.com
Editor : Timoteus Marten

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Sorong, Jubi – Perusahaan minyak LNG Tangguh di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat diduga melakukan pembohongan terkait pengelolaan dana abadi bagi masyarakat adat pemilik ulayat. 

Hal ini diketahui setelah Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum  (LP3BH) Manokwari menerima laporan dan pengaduan dari Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Suku Sumuri, Tadeus Fossa dan Ketua Dewan Adat Suku (DAS) Sumuri, Rafael Sodefa. 

“Dalam laporan itu disebutkan mengenai dugaan pengelolaan “dana abadi” dari proyek LNG Tangguh di Teluk Bintuni yang tidak jelas bagi masyarakat adat setempat,” kata Direktur LP3BH Manokwari,Yan Christian Warinussy kepada Jubi di Sorong melalui keterangan tertulis, Senin (20/3/2015).  

Masyarakat adat suku Sumuri, yang terdiri dari marga Wayuri, Soway dan Simuna hingga kini hanya mendengar bahwa ada badan hukum berbentuk yayasan yang mengelola “dana abadi”. 

Dalam pemanfaatannya pengelolaan “dana abadi” itu sama sekali tak diketahui masyarakat adat Suku Sumuri. 

Menurut informasi yang berkembang mereka tak pernah diberi tahu BP Indonesia selaku kontraktor dari SKK migas yang mengelola proyek LNG Tangguh mengenai apa, siapa, darimana, kemana dan bagiamana pengelolaan dana itu. 

“Hal ini benar-benar menimbulkan tanda tanya, karena nama yayasan yang disebut telah dibentuk tanpa keterlibatan masyarakat adat suku Sumuri tersebut disebut bernama Yayasan Pengembangan Masyarakat Sumuri dan belakangan ini disebut dengan nama Yayasan Dimaga yang dalam bahasa Sumuri artinya Kitong (kita) punya,” katanya.

Akte pendiri dari yayasan tersebut bilamana telah terbentuk pun sama sekali tidak pernah diketahui masyarakat adat. Selain itu, tidak ada sosialisasi dari pihak BP Indonesia kepada masyarakat adat Suku Sumuri, yang tanah adatnya sebagian besar kini berdiri bangunan train 1 dan train 2 dari Proyek LNG Tangguh. 

Humas LNG Tangguh, Hendra Waromi saat dikonfirmas melalui selulernya belum mau memberikan komentar. 

Ia mengaku masih akan berkordinasi dengan manajemen dan pihak yang berkompeten. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Terumbu karang rusak, lumba-lumba dan hiu macan menghilang 

Selanjutnya

25 guru di Sorong dilatih tingkatkan produktivitasnya

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe