PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Polhukam
  3. 25 taipan kontrol 10,1 juta lahan sawit di Indonesia
  • Kamis, 23 Maret 2017 — 13:17
  • 462x views

25 taipan kontrol 10,1 juta lahan sawit di Indonesia

Menurut dia hasil penelitian TuK Indonesia menyebutkan 25 kelompok perusahaan sawit yang dimiliki taipan-taipan mengendalikan 31 persen dari total luas area pertanaman sawit di Indonesia saat ini. 
Tampak anak-anak Kampung Selil Distrik Uliln bermain bulutangkis di areal HGU Bio Inti Agrindo 2 - Jubi
Dominggus Mampioper
dominggusmampioper@tabloidjubi.com
Editor : Admin Jubi

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Jayapura, Jubi - Edie Sutrisno peneliti dari Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia menyebutkan sebanyak 25 taipan kuasai sawit di Indonesia.

"Mereka mengontrol lahan seluas 10,1 juta hektar di Indonesia," katanya dalam lokakarya bertema Tantangan Penyelamatan Hutan Papua melalui Penyelarasan Regulasi dan Penghentian Ekpansi Industri Ekstratktif, di salah satu Hotel di Abepura, 20-21 Maret 2017.

Menurut dia hasil penelitian TuK Indonesia menyebutkan 25 kelompok perusahaan sawit yang dimiliki taipan-taipan mengendalikan 31 persen dari total luas area pertanaman sawit di Indonesia saat ini. 

Tambahnya, taipan-taipan itu bukan warga Indonesia tetapi sebagian berasal Malaysia dan Skotlandia.

Menurut dia lagi penguasaan area tersebut sebanyak 62 persen di Kalimantan (terluas di Kalimantan Barat diikuti Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur), 32 persen di Sumatera (terluas di Riau diikuti Sumatera Selatan), empat persen di Sulawesi, dan dua persen di Papua. 

"Ini semua data yang diperoleh dari pemerintah,"katanya.

Hanya saja lanjut dia di Provinsi Papua sesuai data hanya dua persen, namun di Papua pemerintah memberikan bonus. 

"Misalnya ada perusahaan sawit yang mau membuka lahan sebesar 100 hektar maka pemerintah menambah atau memberikan bonus seratus persen jadi lahannya menjadi 200 hektar," katanya. Dia menambahkan sambil bercanda, ini mungkin karena Otsus sehingga ada kebijakan tambah bonus lahan.

Kata dia hasil penelitian TuK Indonesia mengungkapkan bahwa taipan-taipan sawit ini didukung oleh sejumlah lembaga keuangan nasional dan internasional, di antaranya Bank HSBC dari Inggris, Bank OCBC dari Singapura, Bank CIMB dari Malaysia, dan Bank Mandiri dari Indonesia.

Edie Sutrisno mengaku sulit untuk membendung penguasaan lahan yang dilakukan para taipan ini terkecuali memberikan informasi akurat kepada pihak perbankan agar tidak lagi memberikan pinjaman kredit.

"Kita harus melihat jenjang perizinan perusahaan perkebunan kelapa sawit, kalau hanya mengantongi izin usaha perkebunan maka itu tidak sah terkecuali kalau mengantongi hak hak atas tanah yaitu hak guna usaha(HGU," katanya. 

Pasalnya kata dia pihak perbankan juga memperhatikan dua hal pertama kepatuhan terutama taat hukum sebab ini menyangkut reputasi bank.

Sementara itu Abner Mansai dari anggota Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Papua dan Papua Barat menyebutkan sebanyak 10 perusahaan kelapa sawit di Kabupaten Jayapura, hanya tiga perusahaan yang telah membuka kebun sawit antara lain Sinar Mas, Delta Rekamandiri, Musim Mas. 

Dia mengkhawatirkan jangan sampai lahan kelapa sawit yang belum dipakai sebagai landbanking untuk mendapat kredit atau pinjaman bank.

Selain itu menurut Hadi dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua mengatakan pengalaman LBH mendampingi masyarakat korban sawit  suku Yerisiam terjadi banyak tumpah tindih izin di pemkab Nabire. "Apalagi ketika masyarakat menuntut hak atas tanah adat selalu mendapat cap separatisme," katanya.

Sumber data yang dikutip Jubi dari WWF Indonesia menyebutkan kompilasi data sekunder menunjukkan bahwa sampai 2014 sebanyak 30 perusahaan di tujuh kabupaten di Provinsi Papua, telah mendapatkan izin prinsip dari Kementerian Kehutanan dan sekitar 24 perusahaan telah memperoleh izin usaha perkebunan (IUP) dari Kementerian Pertanian untuk segera merealisasikan tahapan usahanya.

Ketujuh kabupaten itu adalah Kabupaten Merauke (150.872 hektare/ha), Kabupaten Sarmi (71.889 ha), Kabupaten Kerom (18.338 ha), Kabupaten Jayapura (99.737 ha), Kabupaten Nabire (17.000 ha), Mimika (77.660 ha), dan Kabupaten Boven Digoel (385.167 ha).

Indonesia adalah pemasok dominan terbesar kelapa sawit, baik CPO (crude palm oil) dan PKO (palm kernel oil), dengan jumlah pasokan lebih dari 40 persen pangsa pasar global pada 2012. Sedangkan konsumsi dalam negeri kurang dari 10 persen konsumsi minyak sawit dunia. (*)

Sebelumnya

Ada hubungan keluarga, Ketua KPU Papua tidak terlibat supervisi Pilkada Yapen

Selanjutnya

Polda Papua Barat terima 154 personel baru

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua