Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Penkes
  3. Empat sekolah jadi proyek percontohan sekolah ramah anak
  • Kamis, 23 Maret 2017 — 18:32
  • 1086x views

Empat sekolah jadi proyek percontohan sekolah ramah anak

Kepala SMAN 5 Jayapura Yomina Agnes Bonai mengatakan, sekolah ramah anak memberikan rasa aman kepada peserta didik. Siswa harus bebas dari masalah-masalah yang dihadapi di sekolah dan harus merasa nyaman, aman, dan tidak ada kekerasan terhadap mereka, baik dari teman-temannya maupun tenaga pendidik.  
Plang Sekolah Ramah Anak di SMK Negeri 5 Jayapura – Jubi/Roy Ratumakin.  
Roy Ratumakin
Editor : Syofiardi
LipSus

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1
 
Jayapura, Jubi – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjuk empat sekolah di Kota Jayapura sebagai proyek percontohan (pilot project) program Sekolah Ramah Anak (SRA) sejak 28 November 2016.
 
Keempat sekolah adalah SD Negeri 1 Hamadi, SMP Negeri 6 Jayapura, SMA Negeri 5 Jayapura, dan SMK Negeri 5 Jayapura.
 
Kepala SMAN 5 Jayapura Yomina Agnes Bonai mengatakan, sekolah ramah anak memberikan rasa aman kepada peserta didik. Siswa harus bebas dari masalah-masalah yang dihadapi di sekolah dan harus merasa nyaman, aman, dan tidak ada kekerasan terhadap mereka, baik dari teman-temannya maupun tenaga pendidik.
 
“Kami dibiayai Rp22 juta untuk pembelian delapan unit alat CCTV dan pembuatan sejumlah slogan yang dipasang di lingkungan sekolah,” katanya ketika dikontak Jubi Kamis (23/3/2017).
 
Menurut Bonai, program tersebut terkait Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 82/2015 untuk menghadirkan rasa aman kepada anak khususnya di lingkungan sekolah sebagai rumah kedua yang bebas dari tindak kekerasan.
 
Tindak kekerasan tersebut adalah perilaku yang dilakukan secara fisik, psikis, seksual, atau melalui buku ajar yang mencerminkan tindakan agresif dan penyerangan yang terjadi di lingkungan sekolah dan mengakibatkan ketakutan, trauma, kerusakan barang, luka atau cedera, cacat, dan atau kematian.
 
“Bentuk-bentuk tindak kekerasan di antaranya praktik perundungan, perkelahian, kekerasan berdasar SARA, perploncoan, pemerasan, penganiayaan, pelecehan, pencabulan, ataupun perkosaan,” katanya.
 
Kepala SMKN 5 Jayapura Suprayitno Rohadi mengatakan, penerapan SRA di sekolah yang dipimpinnya bukan berarti ketika siswa salah harus diatasi dengan fisik tetapi berupa hukuman yang mendidik.
 
“Misalnya, ketika siswa terlambat kami hukum dengan mencabut rumput atau membersihkan halaman sekolah, ini mendidik mereka pentingnya disiplin, begitu pun dengan pelanggaran lain, jadi bukan fisik atau dimarahi guru, tetapi wejangan atau nasihat,” ujarnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Penutupan USBN berjalan lancar

Selanjutnya

ISPA dan malaria penyakit dominan di RSUD Yowari

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe