Festival Film Papua
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Dulu terpuruk, kini jadi pengusaha sukses
  • Sabtu, 25 Maret 2017 — 11:38
  • 7303x views

Dulu terpuruk, kini jadi pengusaha sukses

Ungkapan “pengalaman adalah guru yang paling berharga” membuatnya tetap bertahan dan menjalankan usaha bata merah.  Awalnya ia punya mimpi untuk menjadi pengusaha di kampung halamannya. Namun mimpi itu kandas di ongkos. Tak ada biaya untuk memulainya. 
Ayub Wuka menunjukan produksi pertamanya hasil pembakaran batu bata merah – Jubi/Islami
Islami Adisubrata
islami@tabloidjubi.com
Editor : Timoteus Marten

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1

Wamena, Jubi –  Ia pernah ditipu hingga mencapai Rp 1,8 miliar sewaktu merintis usaha pembuatan batu bata merah hingga usahanya terpuruk. Namun ia tetap optimistis dan bangkit kembali hingga sukses. 

Pengalaman ini terpatri di sanubari pria berusia 37 tahun asal Kampung Ninabua, Distrik Asolokabl, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Ayub Wuka. 

Ungkapan “pengalaman adalah guru yang paling berharga” membuatnya tetap bertahan dan menjalankan usaha bata merah. 
Awalnya ia punya mimpi untuk menjadi pengusaha di kampung halamannya. Namun mimpi itu kandas di ongkos. Tak ada biaya untuk memulainya. 

Niat itu sepertinya menarik Yayasan Oikonomos Papua dan menyokong Ayub untuk berusaha, mandiri dan berdikari. 

“Waktu itu saya ditawarkan oleh Yayasan Oikonomos untuk membuka usaha batu bata. Lalu saya tanya soal dana dan yayasan siap membantu. Hanya bermodalkan lahan milik saya, akhirnya yayasan meminjamkan modal 30 juta rupiah,” katanya kepada Jubi awal pekan ini di Wamena. 

Ia bercerita, modal sebesar Rp 30 juta digunakannya untuk membuat tempat penggilingan dan pembakaran batu bata kecil-kecilan pada Desember 2008. 

Uang sebesar ini juga digunakannya untuk menggaji karyawannya. Namun ketika itu, pembuatan batu bata dilakukan secara manual.

“Sejak Desember 2008 itu sudah mulai produksi cukup banyak. Namun pemasukan belum sebanding dengan pengeluaran. Lalu Yayasan Oikonomos memberi pinjaman lagi 75 juta rupiah dan modal awal yang 30 juta telah dikembalikan ke yayasan,” ujarnya. 

Dari pinjaman kedua sebesar 75 juta ditambah tabungan pribadi menjadikan pria ini bertekad membeli mesin pencetak batu bata merah di pulau Jawa seharga belasan juta. 

Gayung bersambut. Alat itu pun tiba beberapa waktu kemudian. Batu bata merah siap dicetak. Lokasinya di sekitar kawasan Megapura, Jayawijaya. 

Namun kondisi tanah tak cocok menggunakan mesin. Kemudian diputuskan membuat bata secara manual. 

“Akhirnya, kita cari teman untuk bekerja sama lalu dapatlah lokasi di Pikhe. Tanahnya cocok dicetak dengan mesin untuk membuat batu bata merah,” katanya sambil menunjuk undakan bata yang hanya sepelempar batu saja jaraknya. 

Meski demikian, ia tak memegang uang hasil cetakan bata di Pikhe. Itu ditangani oknum dari Yayasan Oikonomos. 

“Padahal sesuai aturan yayasan tidak seperti itu. Bahwa binaan mereka harus yang mengelola keuangan dari usaha mereka masing-masing,” ujarnya.

Waktu terus berjalan. Usaha pun terus berlanjut. Tiba suatu ketika dana hasil usaha bata yang dimulai tahun 2008 – 2011 diambil alih oleh salah satu pekerja yayasan tanpa sepengatuan pimpinan.

“Jadi, selama 2008 hingga 2011 saya usaha batu bata merah ini tidak pernah pegang uang. Hanya pegang uang gaji karyawan dan dana operasional saja,” ujarnya sambil melihat-lihat ke langit Wamena yang membiru. 

Ia menuding sistem keuangan di yayasan ini tidak jelas. Bahkan rentang waktu tiga tahun itu dirinya merugi sekira Rp 1,8 miliar. 

Setelah mengetahui ketidakberesan di yayasan, Ayub harus kembali lagi ke titil nol. Ada rasa tak berdaya. Bercampur was-was. Batin pun terus bergejolak. Apakah mau melanjutkan usahanya atau berhenti saja saat aset ditarik pihak yayasan?

“Waktu itu kami sempat duduk bersama dengan pimpinan Yayasan Oikonomos. Namun kenyataannya uang keuntungan bersih saya dari hasil usaha tidak juga dikembalikan, sehingga berjalannya waktu mesin cetak batu ditarik oleh yayasan dan bangunan pabrik di Pikhe pun diambil oleh pemilik tanah,” ujar pria yang memiliki satu anak ini. 

Singkat cerita, setelah 2011 hingga 2014 ia harus memulai dari nol. Ayub hanya kerja di kebun sambil merintis usahanya kembali. 

Tahun 2015 ia mendapat pekerjaan paket bangunan di kampungnya. Lantas tahun 2016 ia memulai lagi usaha batu batanya dari hasil pekerjaan ini. 

“Bahkan dari itu pula saya bisa membeli alat cetak dan potong batu bata yang baru. Selain dari tabungan dari hasil pekerjaan bangunan itu, saya juga dibantu oleh adik saya yang berprofesi seorang TNI untuk membantu meminjamkan modal membangun kembali usaha batu bata merah di kampung,” katanya.

Bulan Desember tahun lalu, ia memulai usaha serupa pada lahan miliknya seluas 100x50 meter. Dibantu delapan pekerja, ia memproduksi bata dua kali seminggu, karena tempat ini terlalu kecil untuk menampung batu yang telah dicetak.

“Kita sekali produksi kurang lebih 6.000 batu dan dalam sebulan berhasil memproduksi sekitar 15.000 buah batu. Untuk bahan bakunya sendiri saya mengambil tanah di lahan belakang pabrik yang juga masih milik saya,” ucap pria kelahiran 8 Maret 1980 ini. 

Ayub pun menjelaskan, harga jual batu per biji Rp 4.000, dan banyak permintaan dari konsumen. Permintaan bata yang begitu besar tak sepenuhnya bisa dilayaninya sebab tempat terlalu kecil. 

“Dalam sistem jual beli selama ini konsumen yang butuh batu datang langsung memesan. Namun rata-rata konsumen yang datang untuk keperluan membangun rumah, bahkan ada juga pesanan dari pemerintah daerah untuk bangun kantor,” katanya. 

Ia mengaku selama merintis dan menjalankan usaha ini murni usaha pribadi. Pemerintah setempat seolah buang muka. Namun perlahan tapi pasti, pemerintah daerah sepertinya memberikan sinyal positif untuk membantu usaha anak asli Jayawijaya ini. 

Hingga kini Ayub Wuka merasa belum bisa menjelaskan keuntungan dari hasil penjualannya, karena awal Maret baru dilakukan pembakaran. Lalu pada Selasa, 14 Maret 2017, batu dibakar dan dijual lagi. 

“Sebenarnya tidak terpikirkan dapat membangun usaha batu bata ini. Berrkat pengalaman saya membuat batu bata merah dan ada peluang, saya melanjutkan usaha ini,” katanya. 

“Pelajaran masa lalu memang sempat menyakitkan hati saya, karena boleh dibilang saya jatuh bukan karena gulung tikar tetapi karena kasus penipuan, tetapi hal itu yang membuat saya harus bangkit lagi,” kata pria bekas didikan perguruan tinggi Yayasan Pendidikan Islam (Yapis) Wamena ini. 

Usahanya ini mampu membiayai istri dan semata wayangnya serta delapan karyawan yang membantunya. 

Wayus Asso, seorang karyawan Ayub mengakui sudah bekerja di pabrik batu bata milik Ayub sejak awal dan hingga tempat baru ini berdiri. Saban hari Wayus membantu Ayub mencetak bata merah. Ia senang karena dapat membantu “bosnya” ini. 

“Pastinya keluarga saya juga terbantu dengan pekerjaan saya ini, karena saya rasa kita juga bisa membuka wirausaha sendiri di tanah sendiri,” kata Wayus. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Penjual sayur, tanam sendiri dan kasih bonus pembeli  

Selanjutnya

Dance Takimai: Deiyai bisa produksi 2000 ton kopi arabika per tahun

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua