PapuaMart
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
  1. Home
  2. Meepago
  3. Guru SDN Bogiyateugi: Jangankan perpustakaan! Buku pelajaran saja tidak ada
  • Kamis, 29 September 2016 — 06:31
  • 940x views

Guru SDN Bogiyateugi: Jangankan perpustakaan! Buku pelajaran saja tidak ada

“Contohnya, buku PKn. Karena kelas 2 tidak ada buku pelajaran PKn-nya, kami sering gunakan buku yang seharusnya dipakai di kelas 3 itu untuk mengajar murid kelas 2. Begitupun, kelas yang lain dan mata pelajaran yang lain lagi,” kata Devit saat ditemui Jubi di Moanemani, Dogiyai, Rabu (28/9/2016).
Hak anak untuk mendapat pendidikan yang laik, agaknya jauh dari jangkauan siswa-siswi SDN Bogiyateugi – Jubi/Agus Tebai
Agus Tebay
agustebay@tabloidjubi.com
Editor : Yuliana Lantipo

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Dogiyai, Jubi – Minimnya buku pelajaran di Sekolah Dasar Negeri Bogiyateugi, Di Dogiyai, memaksa para pelajarnya harus menerima pejaran dari buku pelajaran yang lebih tinggi dari tingkatnya saat ini. Seperti murid kelas 2 yang belajar pelajaran dari buku untuk pelajar kelas 3.

Salah satu guru SDN Bogiyateugi, Devit Bouya, mengatakan pihaknya terpaksa harus mengajar puluhan pelajarnya dengan semua keterbatasan sarana pendukung seperti buku. Salah satunya adalah buku pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

“Contohnya, buku PKn. Karena kelas 2 tidak ada buku pelajaran PKn-nya, kami sering gunakan buku yang seharusnya dipakai di kelas 3 itu untuk mengajar murid kelas 2. Begitupun, kelas yang lain dan mata pelajaran yang lain lagi,” kata Devit saat ditemui Jubi di Moanemani, Dogiyai, Rabu (28/9/2016).

Saat ditanya tentang fasilitas perpustakaan, pak guru yang sudah delapan tahun mengajar di sekolah itu mengatakan, “jangankan perpustakaan. (ketersediaan) buku-buku mata pelajaran saja tidak ada, belum dilengkapi baik, belum lagi gedung sekolah,” ujar Devit.

Devit mengatakan hingga saat ini, sekolah tersebut memiliki 98 pelajar dan diajar oleh lima guru—satu guru PNS dan empat guru honorer. “Kami mengajar Agama, PKn, IPA, IPS, Penjaskes, Kesenian dan Muatan Lokal. Kami hanya punya tiga ruang kelas untuk semua dari kelas 1-6,” jelasnya.

Sejak sekolah ini didirkan pada 2008 lalu, belum pernah ada perbaikan apalagi program pemerintah untuk melengkapi fasilitas dan sarana pendukung kegiatan belajar di sekolah yang berlokasi di Distrik Kamuu Selatan itu.

Salah satu guru yang memilih bertahan dan mengajar puluhan pelajar itu adalah Elisabeth Pekei. Meski jabatannya hanya sebagai guru honorer, ia mengaku memilih bertahan dengan semua fasilitas yang sangat terbatas, baik di sekolah maupun minimnya perhatian untuk kesejahteraan guru.

“Selama ini kami tinggal sama masyarakat di sana (distrik Kamuu Selatan). Kami selalu prioritaskan untuk mendidik anak-anak dengan baik,” aku Elisabeth. (*)

Sebelumnya

Tujuh paslon bupati dan wabup Dogiyai sudah mendaftar ke KPU

Selanjutnya

Suku Mee kehilangan tokoh pembangunan ‘Odaa Owaadaa’

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Tinggalkan Komentar :

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua