Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Penkes
  3. Dalam 7 tahun, 64 orang Koroway meninggal akibat tidak ada pelayanan kesehatan
  • Rabu, 29 Maret 2017 — 18:28
  • 1879x views

Dalam 7 tahun, 64 orang Koroway meninggal akibat tidak ada pelayanan kesehatan

Kata dia, jumlah 64 orang itu terdiri 18 orang perempuan, 46 laki-laki. Dengan rincian 2 orang bayi, 5 orang balita, 1 orang anak, 5 orang remaja dan 51 orang dewasa.
Demontrasi mahasiswa peduli Koroway di depan kantor Dinas Kesehatan Provinsi Papua, kota Jayapura, Rabu (29/03/2017) - Jubi/Benny Mawel
Benny Mawel
frans@tabloidjubi.com
Editor : Kyoshi Rasiey

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi - Gerakan mahasiswa yang tergabung dalam Tim Peduli Kesehatan Rimba Papua mengatakan 64 orang Koroway di Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo telah meninggal dunia karena tidak adanya pelayanan kesehatan yang memadai.

“Mereka ini meninggal akibat tidak ada pelayanan kesehatan dalam jangka waktu 2011-2017 di kampung Ayak, Brukmakot dan Woma,” ungkap Soleman Itlay sekretaris Tim Peduli Kesehatan Rimba Papua dalam orasinya saat demontrasi mahasiswa di depan kantor Dinas Kesehatan Provinsi Papua, kota Jayapura, Rabu (29/03/2017).

Kata dia, jumlah 64 orang itu terdiri 18 orang perempuan, 46 laki-laki. Dengan rincian 2 orang bayi, 5 orang balita, 1 orang anak, 5 orang remaja dan 51 orang dewasa.

“Jumlah ini tidak termasuk kampung atau dusun lain atau Koroway secara utuh,” tegas pria asal Lembah Baliem, kabupaten Jayawijaya ini.

Yan Akobiarik, ketua Komunitas Peduli Kemanusiaan Daerah Terpencil (KOPKEDAT) Papua mengatakan mendata angka kematian orang Koroway tidak gampang.  Karena, kondisi geografis wilayah itu sangat berat.

“Wilayah ini hutan rimba. Kami tidak bisa bergerak cepat kecuali mengunakan pesawat,” tegasnya serius. Karena itu, pihaknya fokus di distrik Seradala sejak KOPKEDAT di bentuk dan masuk ke Seradala pada 2015 lalu

Dokter Silwanus Sumule, Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Papua, mengatakan pihak dinas belum bisa memastikan angka kematian orang Koroway. Karena, laporan dari dinas kesehatan kabupaten yang membawahi wilayah orang Koroway tidak memberikan data secara rinci.

“Ada laporan tetapi tidak menyebut Koroway. Mereka menyebut kabupaten saja,” ungkapnya usai menerima demonstran mahasiswa Peduli Kesehatan Rimba Papua di halaman kantornya di Kota Raja, kota Jayapura.

Kata dia, walaupun data tidak ada secara rinci, pihaknya tidak pernah diam terhadap pelayanan kesehatan di Papua. Dinas terus melakukan upaya-upaya peduli terhadap pelayanan kesehatan warga di Papua.

“Tahun 2015 itu kita mulai membentuk Satgas Kaki Telanjang. Kita rekrut tenaga untuk menjangkau daerah-daerah yang tidak terjangkau itu,” ujarnya

Untuk penanganan khusus terhadap pelayanan kesehatan di Koroway, kata Sumule, dalam bulan April ini akan dibentuk tim. Tim itu akan segera turun ke wilayah Koroway dengan sejumlah program prioritas.

“Karena kita kesulitan tenaga dokter, kita melatih perawat dan bidan melakukan pengobatan sederhana walaupun itu dalam aturan tidak boleh,” ungkapnya.

Kata dia, pihaknya juga akan membangun kordinasi dengan kabupaten dan membangun kerja sama dengan semua pihak. Kerja sama dengan gereja dan mahasiswa yang mempunyai kepedulian terhadap Koroway.

“Kami tidak bisa meyelesaikan masalah Koroway sendiri. Kita butuh kerja sama,” harap Sumule. (*)

Sebelumnya

Patelki gelar workshop penanganan malaria

Selanjutnya

Keluarga pasien puji pelayanan RSJ Abepura  

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe