Festival Film Papua
Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide
  1. Home
  2. Meepago
  3. Suku Mee kehilangan tokoh pembangunan ‘Odaa Owaadaa’
  • Kamis, 29 September 2016 — 06:45
  • 2044x views

Suku Mee kehilangan tokoh pembangunan ‘Odaa Owaadaa’

Manfred juga yang merupakan alumnus SMA Gabungan Jayapura ini dikenal sebagai penggagas ide membuat program musyawarah pastoral Mee (Muspasmee) di dekenat Paniai. Saat itu, ia berpendapat masyarakat suku Mee harus hidup mandiri di era global ini.
Manfred Ch. Mote – Jubi/Abeth
Abeth You
abethamoyeyou@gmail.com
Editor : Yuliana Lantipo

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi – Tokoh gerakan pembangunan ‘Odaa Owaada’ atau spritualitas adat istiadat suku Mee, Paniai, Manfred Ch. Mote (52) meninggal dunia pada dini hari Selasa (27/9/2016) di kediamannya di Kampung Pinii, Waghete, Deiyai. Pihak keluarga mengatakan almarhum meninggal setelah mengidap penyakit dalam selama lebih dari setahun.

“Ya, bapak sudah meninggal dunia karena sakit,” kata sang istri, Anastasia You Mote, kepada Jubi via seluler, Rabu (28/9). Ia mengatakan almarhum akan dimakamkan pada Kamis (29/9) di kampung halamannya, sesuai permintaan alrmarhum semasa hidup. “Untuk pemakaman kami sedang menunggu anak perempuan Gustaviana dari Manado.”

Manfred menyelesaikan kuliah pada STFT Fajar Timur Jayapura tahun 1987. Ia adalah ketua tim monitor gerakan pembangunan komunitas basis (Kombas) Odaa Owaada di wilayah dekenat Paniai, Keuskupan Timika sejak tahun 2001 hingga sekarang.

Manfred juga yang merupakan alumnus SMA Gabungan Jayapura ini dikenal sebagai penggagas ide membuat program musyawarah pastoral Mee (Muspasmee) di dekenat Paniai. Saat itu, ia berpendapat masyarakat suku Mee harus hidup mandiri di era global ini.

Almarhum yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Deiyai ini pernah mencanangkan tiga konsep dasar bagi suku Mee. Pertama, tentang bagaimana cara hidup suku Mee yang baik dan benar melalui Tuhan Allah (Touye) dalam rangka menuju peradaban baru. Kedua, membangun orang Mee dari Makataka hingga Kegata harus bersatu melalui pekarangan Odaa Owaada. Dan, ketiga adalah menjadikn adat istiadat (tarian) suku Mee harus mampu bersaing dengan suku bangsa lain.

Rekan PNS Deiyai, Irenius Adii mengatakan, Manfrde Ch. Mote adalah seorang ahli psikolog dan antrpolog suku Mee yang memiliki kemampuan sendiri, melahirkan ide dan tidak berubah pikiran.

“Saudaraku Manfred Mote adalah orang pintar. Ia telah memberikan banyak pelajaran di gereja Katolik maupun Kingmi, bagaimana cara melestarikan budaya untuk memuliakan sang Touye (Tuhan Allah),” ungkap Irenius Adii.

Semasa hidupnya, Manfred mengabdikan dirinya untuk masyarakat daerahnya dengan menulis beberapa buku. Salah satunya buku berjudul Touye. Ia mengulas tentang tata cara kehidupan orang Mee serta beberapa cerita rakyat. Atas jasa-jasanya, masyarakat di kampungnya memberinya gelar “doktor”.

Almarhum juga pendiri Sekolah Tinggi Katolik (STK) Touye Paapa di Deiyai sekaligus sebagai ketua Yayasan kampus tersebut. Ia meninggalkan satu istri dan tiga orang anak. (*)

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Guru SDN Bogiyateugi: Jangankan perpustakaan! Buku pelajaran saja tidak ada

Selanjutnya

KNPI Dogiyai: Ada unsur pembiaran dari Dinas P dan P

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe